….. Tulisan ini saya buat 1 tahun yang lalu, ketika Syamil, anak kami yang kedua berusia 2 tahun……..
“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang makruf. ……” [2.233]
Membaca sekilas terjemahan ayat di atas tampak sepele bagi sebagian kita. Mudah kiranya menyusukan anak selama dua tahun dan mudah pula menyudahinya. Tapi nyatanya semua tak semudah yang dibayangkan. Banyak para Ibu yang mengeluh karena air susunya tidak keluar atau si anak enggan menyusu. Tak sedikit pula yang sengaja menghentikannya karena alasan kesibukan, kemalasan atau kekhawatiran akan berkurangnya kemolekan bentuk tubuh bagian atas. Untuk alasan yang terakhir ini kurang dapat diterima, karena beberapa pakar laktasi berulang kali menyampaikan bahwa bentuk tubuh bagian atas wanita berubah bukan karena proses menyusui tetapi karena proses mengandung.
Sungguh disayangkan. Kalau saja para ibu itu tahu betapa nikmatnya menyusukan bayinya sendiri sampai usia 2 tahun, mereka tidak akan mau [menyengaja] menghentikan pemberian ASI yang dikenal dengan istilah menyapih itu.
Inilah yang beberapa hari belakangan ini menyiksa bathin saya. Anak saya yang kedua sudah memasuki usia 2 tahun. Itu artinya dia akan segera disapih.
Menyapih ternyata juga bukan hal yang mudah. Banyak cerita menarik tentang usaha sang ibu untuk menghentikan proses menyusui ini. Ada yang mengolesi dadanya dengan lipstik, obat merah, minyak kayu putih, pil kina bahkan balsem. Ada juga yang mendatangi ’orang pintar’ untuk meminta bantuan agar si anak mau berhenti menyusu.
Alhamdulillah saya termasuk yang diberi kemudahan oleh Allah. Untuk anak yang pertama saya tidak perlu mengolesi dada dengan apapun apalagi meminta bantuan ’orang pintar’. Dia cukup saya beri pengertian bahwa ’miminya’ sakit. Berbohong? Tidak, karena saat itu memang luka karena digigitnya. Semalaman memang dia mengamuk karena belum terlalu paham, tetapi keesokan harinya dia sudah bisa tertidur tanpa menyusu.
Menyapih anak kedua lebih mudah lagi. Saya hanya cukup mengatakan bahwa ’miminya’ habis dan kebetulan produksi air susu saya memang sudah sangat berkurang. Dia bisa menerima tanpa amukan seperti kakaknya dahulu. Dia mencoba untuk tidur sendiri.
Tetapi justru hati saya tersentuh melihat kesabarannya dan usahanya untuk memenjamkan mata tanpa menyusu. Padahal saya tahu begitu besar cintanya dia akan aktivitas menyusu ini. Perlahan saya dekap tubuhnya dan mencoba menyenandungkan nasyid perjuangan yang dia sukai. Diapun terlelap. Tanpa saya sadari butir-butir hangat menyentuh pipi saya, mata saya terasa panas. Saya tidak kuat menahan air mata haru untuk tidak keluar. Terbayang bahwa tidak akan ada lagi rengekan manjanya meminta ASI, yang kadang dia minta walau dia tidak haus. Terbayang juga betapa nikmatnya melihat dia menghilangkan rasa dahaganya dengan menyusu sambil mendekap tubuh saya.
Menyusui memang salah satu bagian terindah dari pengalaman membesarkan anak. Masa itu tidak akan terganti dan tidak akan pernah kembali. Tetapi ada saatnya menyusui harus diakhiri. Mental dan fisik harus dipersiapkan untuk menghadapi ini. Semoga kita semua senantiasa diberi kemudahan oleh Allah untuk melaluinya.
Foto di atas waktu Abang Syamil berusia 1 tahun 6 bulan

NOMOR SATU !!! (he…he…)ah… masa2 bahagia yg sekarang kembali lagi, menyusui bukan saja penghilang dahaga dan pengantar tidur, tapi waktu anak kita sakit jg buat obat and ‘comfort” dia, Allhamdullilah waktu Ibrahim harus lepas tidak susah, moga begitu juga dengan Maryam
mba nin..iya nih..aku bersyukur bgt bisa dgn lancar menyusui..dan aku jg ngerasa dgn menyusui smakin ngebuat aku dan zhavar berasa ada ikatan banget..aku sepertinya jg bakalan sedih kalo nanti tiba saatnya zhavar hrs berenti nyusu..tp itu jg salah satu milestone yg hrs kita(ibu&anak) lalui bukan?..insyaAllah aku jg dipermudah ya..amin
Waah enak sekali yah mbak, gampang buanged nyapihnya, dulu waktu azra, sampe dititipin ke neneknya 3hari, sebelumnya udah dikasih pengertian sih, tapi cuma mempan sesaat selanjutnya lupa, minta lagi! akhirnya di olesin cairan pare hihi…. ga berhasil ya udah dititipin deh, pas pulang masih ngamuk 2 harian, selanjutnya alhamdulillah dia udah ngerti sendiri, dia bilang “ga udah gede, nenennya pahit” sekarang malah bundanya yg kangen pengen menyusui lagi…..bikin adek lagi…:-)
[...] untuk Maryam Januari 5, 2008 Posted by Um Ibrahim in Familly life, anak-anak. trackback Menyusui adalah moment yang paling “intens” bagi ibu dan anak, maka tertulis lah surat cinta [...]
umm..menyapih itu punya suatu irama yang kadang kita sukai ato bahkan kadang nggak ingin mendengarkannya…
sukai karena kita bisa melatih anak jadi mandiri, dan pelan-pelan melepaskan ketergantungannya pd kita,…
nah melepaskan itu yg kadang kita gak sukai…ingin anak tidak tergantung, eh kita malah tergantung ingin selalu disamping mereka
sekarang masih ada fayadh yg selalu menempel sama anti ya…senengnya…
eh kareem suka bingung loh, liat ade bayi nyusu dari ibunya, ‘mana dotnya mi?”…:lol:
duh kasiannya, itu akibatnya hanya menyusui dia selama satu bulan
mba nin..mo nanya dong..kebetulan anak mba nin kan cowo semua..trus mereka kan asi semua..naaa, itu anak2nya mba nin pas nyusu setelah 1thn tetep dari PD(payudara) ato stlh 1 thn mba nin peres asinya?..maksudnya aku mo nanya, apakah anak lbh dari 1 thn ada masalah ga ya dgn psikologisnya kl di susuin dari PD?..kalo misalkan iya, mgkn asinya stlh zhavar 1thn mo aku pompa ajah..jd ga la\sg dari PD bgituu..huaa..ini mah shrsnya ngirim imel japri yah..hehehe..panjang skaliii
aku sendiri belom ada pengalaman menyapih…nadine maret nnt masuk 2 tahun…tp yg saya bingung dr hari kehari..makin doyan aja nysunya…dikit2 blg nenen… akunya jd takut sendiri…takut saat 2 tahun nnt nadinenya gak mau lepas dr nyusu ASI…moga Allah beri kemudahan nnt
wah,,, jd speechless ni mbak nina,
makasih y informasi-nya,
alhamdulillah buah hati mba nina g rewel wkt saatnya harus menyapih,