Ada satu keunikan Luqman yang lain, yang ingin saya bagi disini. Dia paling enggan ikut lomba.
Saat 17 Agustusan, saat anak-anak lain berlomba–lomba ikut ini ikut itu, dia asyik main dengan teman-temannya. Hanya satu lomba yang berkenan diikutinya, sepeda hias. Beberapa kali menang, tapi hakikinya bukan dia yang menang, karena yang menghias adalah abinya.
Saya, sejak tahun 2002 terlibat di TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an) dan juga menjadi pengelola ASMA (Adil Sempoa Mandiri) di lingkungan tempat kami tinggal. Saya sering mendampingi anak-anak TPA dan ASMA mengikuti berbagai lomba. Sebagai seorang wanita yang sudah menjadi ibu, terbesit keinginan untuk dapat mendampingi anak sendiri yang ikut lomba. Tapi, ya itu tadi, Luqman paling tidak mau ikut lomba.
Kalau soal memotivasi, sudah sering saya lakukan. Segala macam usaha juga sudah saya coba. Dari yang mengajak dialog sampai yang “agak memaksa”.
Suatu ketika, tahun 2005, TPA mengadakan lomba khusus santri yang belajar disitu. Mulai lomba mewarnai hingga lomba menghapal surah pendek. Dari sekian banyak mata lomba, tak satupun yang berkenan diikuti Luqman. Saya dan suami membujuknya agar dia mau ikut. Terus terang, di hati ada rasa tidak nyaman. Semua anak TPA ikut berpartisipasi, tapi Luqman (anak salah satu pengurus TPA) berkeras tidak mau ikut. Saya mulai tidak sabar. Saya katakan dia tidak boleh bermain selesai lomba itu. Dia tak perduli, tetap tidak mau ikut lomba.
Malamnya saya menyesali sikap saya. Saya sadar sudah melakukan sebuah kesalahan besar, dan berjanji dalam hati tidak akan mengulanginya lagi. Memaksakan kehendak kepada anak bukanlah cara mendidik yang baik. Mungkin masih ingat postingan tentang “Anak Nomor Satu”.
Ketika kemudian lomba-lomba yang berdatangan silih berganti, Luqman tetap pada pendiriannya, tidak mau ikut lomba. Saya tidak berhenti memotivasi, tapi sangat menghindari memaksanya. Hingga di sebuah perlombaan 17 Agustus yang diselenggarakan warga perumahan, tanpa dipaksa Luqman akhirnya mau juga ikut lomba menggambar. Hanya itu. Dia belum mau ikut yang lainnya. Ya, tak apa. Bagi saya itu sebuah kemajuan.
Hari Sabtu lalu, TPA turut serta dalam FASI (Festival Anak Shaleh Indonesia) VII se Lombok Barat. Luqman ditunjuk untuk mengikuti lomba tartil, mewakili TPA al-Muhajjirin. Saya sudah mempermaklumkan kepada gurunya, jangan kecewa jika nanti Luqman tidak mau maju, sebagaimana biasanya. Gurunya paham.
Malamnya, saya ajak dia bicara. Jika dia memang tidak mau ikut lomba, saya minta dia bilang saat itu juga agar gurunya bisa mencari santri yang lain. Tapi apa katanya: “Kakak mau ikut Mi.” Saya menangkap kesungguhan di wajahnya.
Maka ketika hari itu tiba, berangkatlah rombongan kami menuju lokasi acara. Luqman terlihat percaya diri, tapi masih ada sedikit keraguan di hati saya, apakah dia benar-benar akan maju saat lomba. Sambil menunggu gilirannya tiba, saya terus berdo’a kepada Allah agar menghadirkan keberanian itu dalam dadanya. Saya lirik orang-orang di sekitar, beberapa dari mereka juga tampak berdo’a. Tapi mungkin do’a kami berbeda. Jika mereka berdo’a agar bisa menang, maka do’a saya memohon agar dia berani maju. Memikirkan itu, bibir saya menyungging senyum.
Ketika giliran tinggal tiga anak lagi, Luqman berasa mau BAK. Saya membaca gelagat, sepertinya tanda-tanda dia tak ingin maju. Kemudian saat giliran tinggal satu anak lagi, dia kebelet BAB. Masya Allah. Gugupkah dia? Dan ketika namanya dipanggil, gurunya meminta untuk dilewati dulu. Alhamdulillah bisa. Selesai BAB, Luqman kembali ke arena lomba. Dan ketika nomor undinya dipanggil, dengan pasti dia melangkah ke depan, duduk, meletakkan alQur’an, dan memulai membaca surah al-Isra’ ayat 1 dan seterusnya. Rasa haru terasa memenuhi dada saya. Tak percaya, bahwa yang sedang duduk di tengah masjid itu adalah Luqman, anak saya, yang selama ini menolak ikut lomba. Saya mengucap syukur yang tak terhingga kepada Allah yang telah mengabulkan do’a saya.
Tak perlu menunggu pengumuman. Bagi saya dialah sang juara. Esoknya dia langsung dibelikan sepatu sendal merk carvil yang selama ini diidamkannya oleh abinya. Keinginan kami (saya dan abinya) bukanlah melihat dia maju dan menerima hadiah sebagai juara 1, tapi menyaksikan dia melawan rasa tidak percaya dirinya dan berani tampil ke depan.
Ada sebuah pelajaran berharga: Jangan pernah memaksa anak mengikuti kemauan kita. Yang terpenting adalah bagaimana memotivasi dan bersabar, karena setiap anak membutuhkan waktu yang berbeda dalam menemukan keberaniannya.

Kata Para Penumpang