Selama ini kami membudgetkan buku (terutama untuk anak-anak) setiap bulan. Tujuannya, pasti, agar mereka mencintai buku, dan menjadikan buku sebagai bagian dari kebutuhan hidupnya.
Dan saya merasa cukup dengan itu (ternyata saya salah). Setiap bulan mengajak mereka ke toko buku, membeli beberapa, kemudian Luqman membaca bukunya hingga selesai, lalu saya membacakannya untuk Syamil dan Fayyadh, juga hingga selesai. Setelahnya? Menunggu kunjungan ke toko buku berikutnya.
Sampai suatu ketika, saya dan anak-anak ikut abinya menemui seseorang di perpustakaan daerah. Sambil menunggu, saya ajak anak-anak melihat buku yang ada disana. Mereka girang sekali.
Bagi Luqman itu bukan kali yang pertama, karena dia sering mengunjungi perpustakaan bersama sekolahnya. Tapi itu yang pertama mengunjunginya bersama kami, dan bebas memilih serta membaca buku yang ada disana. Dia excited sekali. Dia bingung memilih buku yang lumayan banyaknya (yang jelas lebih banyak dari yang ada di rumah). Biasanya kalau diajak kemana saja dia selalu aktif, loncat sana sini, tidak bisa diam. Tapi di perpus dia duduk dengan anteng, serius membaca buku. Sambil memandanginya saya berpikir, ‘kaya’nya harus sering-sering ajak dia kesini nih, kenapa tidak dari dulu ya?’. Saya merasa buku-buku yang ada di rumah cukup memenuhi minat bacanya. Itulah kenapa saya katakan tadi, ternyata saya salah. Buku yang kami miliki tidak ada apa-apanya dengan buku-buku yang tersedia di perpus.
Bagi Syamil itu benar-benar yang pertama . Dia ikutan bingung memilih buku. Ambil satu, lihat sebentar, ambil yang lain, tanpa mengembalikannya. Nampaknya dia bingung, ‘Ummi! Banyak bukunya ya!’. Yang membuat dia semakin senang disana dia dapat teman baru (anak kelas VI SD) yang dengannya dia membaca buku bersama.
Terlebih bagi Fayyadh. Benar-benar first time. Matanya melihat ke segala penjuru. Sebentar-sebentar tertawa senang melihat warna yang beraneka ragam. Berkeliling mengganggu dua kakaknya yang asik dengan buku masing-masing. Ikut memilih buku (memandangi buku yang berjejer rapi). Syukurnya arena membaca bagi anak-anak di perpustakaan daerah ini sangat bersih, sehingga saya merasa aman membiarkan Fayyadh bereksplorasi.
Bagi saya dan suami, jelas bukan yang pertama, karena ketika kuliah dulu sering bolak-balik ke perpustakaan. Tetapi ini pertama kalinya bagi kami masuk ke perpustakaan daerah di Lombok.
Kesimpulan:
Sebelumnya, ketika orang-orang memasukkan perpustakaan ke dalam salah satu list kunjungan saat liburan, saya merasa aneh dengan itu. ‘Apa? Ke perpustakaan?’. Namun sepertinya saya juga akan menjadikannya salah satu tempat tujuan saat Luqman liburan nanti.
Rajin membeli buku tidak cukup menjadi alasan malas ke perpustakaan. Ternyata membaca di perpustakaan memberikan sensasi yang berbeda.
Saya pikir perpustakaan hanya ditujukan bagi para mahasiswa yang mencari referensi dsb, ternyata tidak juga.
Oya, waktu berada disana, ada beberapa siswa SD kelas VI yang sedang mengerjakan tugas kelompok. Tapi mereka terlihat lebih banyak ngobrol (sampai ditegur petugas) daripada membaca. Jadi ingat dulu, kalau ada tugas kelompok senang sekali. Mengerjakan tugasnya sedikit, lebih banyak mainnya.
Ps. Saya segera posting tulisan ini. Malu sama Ratu Tebu. Hehe….

wow…. great idea
aku malahan belum kepikiran sampai kesitu… emang sih…perpustakaan itu imejnya “orang pintar” atau terkadang yang berlebihan “kumpulnya para kutu buku”….
sebagai wahana liburan…. kayaknya boleh juga… ntar ah..kalau udah punya anak… mungkin perpustakaan bisa aku jadikan referensi liburan keluarga..
waah, kegiatan yg bagus buat anak, biar tambah pinter.
wah, anak2nya suka baca buku yah? bagus itu kalo dijadikan kebiasaan. saya juga seneng baca dan ke perpus.
Suama downg, aku paling seneng ngajak Ibrahim ke Library, terus beli buku bekas juga seneng ,murah meriah, gak ada gramedia/gunung agung soale disini
wah jadi iri, kalo saya dari kecil gak pernah ke perpus, tapi ke toko buku terus.. sampe sekarang juga gak tau di mana ada perpus. dulu kalo ke perpus, palingan ke perpus sekolahan, itu juga jarang banget karena saya cuma cari komik
disini begitu juga… perpustakaan kota selalu rame, apalagi pas summer … kadang malah jd gak enak karena terlalu rame…mebasakan anak menyukai baca sejak dini emang perlu yah
Hmm, saya lupa kapan persisnya saya jatuh cinta sama bahan bacaan…yang jelas, ketika masih kecil dulu, saya selalu menunggu datangnya hari kamis, karena itu berarti saya akan mendapatkan majalah Bobo yang baru…haha
AMIN…….
makasih doanya bu…
eh ya… sekalian doain biar punya istri solehah ya bu..
*malu malu*
hmmm…
kira2 kesannya sama aja nggak yah kalo kita membuat perpustakaan di rumah, ya nggak gede2 amat sih, cuma beberapa almari yang penuh dengan rak2 isi buku.
kira2 akan lebih mengesankan mana?
soalnya rumah jauh dari perpustakaan, maklum wong ndeso.
syukron.
sama kayak saya dong mbak nin , baru nyadar ke perpus pas udah tua itupun karena pengen nulis , sok tau tapi punya ilmu yang dangkal
makasih ya sudah sering silaturahmi di blog saya
asik ya ke perpus
aku inget banget ngajak jihad ke perpus waktu PG, wah semua mau dibawa…
sekarang kareem sedang asik-2nya baca buku…
btw…akkhir pekan bagusnya emang gini ya ukh,…eh persis banget sama proker disengata nih, pengurus akan mudah berinteraksi sama anggota flp di perpus
wah..jadi inget TA ku ngambil proyek perpustakaan umum..
knapa ga bikin proyek hotel,dll..alasannya ya karena aku suka bgt dgn perpustakaan..bisa baca buku banyak..tp sayang, sampe skrg sptnya ga ada perpus yg nyaman tuk baca(menurutku)..jd berharap di jkt ada perpus kyk perpus yg aku design..hehehe
orang pintar memang g jauh2 dar perpus