Mereka Bukan Saudaraku

17 05 2008

Hari itu gas di rumah habis, sudah diganti yang baru, tak juga berfungsi kompornya.
Ada apa denganmu wahai kompor?
Jadilah dari sore hingga esoknya menjelang siang tidak ada aktivitas memasak di rumah.
Pagi harinya, ngobrol dengan salah satu tetangga, bercerita tentang segala hal yang patut diceritakan sampai akhirnya tentang masalah si kompor ini.
Setelah merasa cukup bertegur sapa dengan para tetangga yang lain (saat itu hari Ahad, jadi para tetangga sebagian besar terlihat) aku pun pulang menunggu sang tukang servis kompor datang.
Baru lima menit berada di dalam rumah, ada seseorang mengucapkan salam di luar.
Ternyata tetanggaku tadi yang datang dengan membawa rantang plastik berwarna hijau.
Subhanallah…
“Apa ini ukh?” Kataku penuh keheranan
”Anti pasti belum sarapan. Ini tadi ana numis kangkung. Seadanya.”
”Masya Allah. Anti, kok repot-repot.”(ini asli bukan basa basi, aku betul-betul tidak menduga akan dikirimin menu sarapan pagi begitu)
”Gak papa ukh. Kasihan anak-anak.”
”Syukran ya…”
Kemudian dia pun pulang.

Aku masih tertegun. Memandangi nasi, opor ayam, tumis kangkung, tempe goreng dan pisang goreng yang tidak tampak ’seadanya’.
Tetangga… memang beraneka ragam.
Ada yang baik, ada yang judes, ada yang cuek, ada yang suka senyum, ada yang mahal senyum.
Tapi Alhamdulillah, secara umum tetanggaku rata-rata baik, bahkan malahan baiknya bisa melebihi saudara.
Cerita di atas tadi contohnya.
Ya Allah muliakanlah tetangga-tetanggaku itu di surga-Mu.
Mereka bukan saudaraku, tapi kebaikannya sungguh menyentuh hatiku.

“Serve Allah, and join not any partners with Him; and do good – to parents, kinsfolk, orphans, those in need, neighbours who are near, neighbours who are strangers, the Companion by your side, the wayfarer (ye meet), and what your right hands possess; for Allah loveth not the arrogant, the vainglorious” (Q.S 4:36)