Lebih kurang tujuh tahun silam, tepatnya bulan Oktober 2000, saya dan suami beserta si Luqman kecil yang saat itu berusia 4 bulan pindah ke Lombok. Suami bekerja di sebuah tambang di pulau Sumbawa, sementara kami menetap di Lombok. Setelah bekerja 4 hari, suami mendapatkan off 4 hari. Hari off ini dihabiskan di pulau Lombok, bersama kami, anak dan istrinya.
Setiap kali pulang, oleh-oleh tetapnya adalah minuman instant yang dikemas dalam kotak, wafer dan buah-buahan. Suami memang senantiasa membawa pulang jatah snack di tempat kerja. Waktu itu Luqman belum bisa mengkonsumsi minuman dan makanan sejenis itu, saya sendiri tidak terlalu menyukainya, jadi kadang oleh-oleh itu menumpuk. Ketika ada teman-teman Luqman yang lebih besar, kami memberikannya kepada mereka.
Seiring perjalanan waktu, luqman tumbuh besar, dan mulai senang minuman instant. Oleh-oleh yang dibawa suami tidak terlalu menumpuk lagi, karena mulai diminum oleh Luqman sedikit demi sedikit. Dia bisa minum sepuasnya (dengan batasan tentunya)…
Beberapa tahun kemudian, lahirlah Syamil. Kehadirannya belum berpengaruh bagi jatah Luqman mengkonsumsi minuman tersebut. Tetapi setelah dia berusia satu tahun dan mulai mengerti nikmatnya minuman instant, mulai terjadi perebutan. Jatah Luqman mulai berkurang karena harus dibagi dengan Syamil. Alhamdulillah dia bisa menerima.
Sekarang, Luqman telah memiliki adik baru yang usianya memasuki 1 tahun, dan nampaknya sudah mulai tertarik dengan benda kecil berbentuk kotak yang isinya sangat disukai anak-anak tersebut. Dan Luqman harus rela berbagi lagi dengan Fayyadh, adik barunya itu.

Saya memandangi tingkah mereka yang berebut oleh-oleh saat saya keluarkan dari tas abinya. Lucu….
Batin saya menggumam….
Subhanallah…. Sudah tujuh tahun terlewati… Mulai dari Luqman yang menikmati sendiri oleh-oleh abinya, kemudian ditambah anggota baru Syamil, sampai akhirnya harus menikmatinya bertiga dengan adik bungsunya.
Abinya juga merasakan sensasi yang berbeda. Kalau dahulu dia pulang membawa oleh-oleh yang cukup menambah berat beban tasnya (hingga beberapa kali ganti tas karena putus), belum tentu dikonsumsi oleh anaknya. Sekarang, seberat apapun beban itu tidak terasa olehnya, karena dia sudah membayangkan anak-anaknya yang langsung berebut mengambil jatahnya masing-masing.
Tujuh tahun…. Melewati berbagai perubahan…. Banyak yang tak disadari…
Salah satunya kisah tentang oleh-oleh ini…
Terima kasih duhai Allah… yang telah memberikan tiga penyejuk mata dan hati bagi kami…

Kata Para Penumpang