Saya sedang mengantri di sebuah praktek dokter gigi ketika hal yang menggelitik batin saya ini terjadi. Biasalah, di beberapa tempat praktek dokter disediakan TV sebagai pengisi waktu agar tidak bosan mengantri. Seorang perempuan yang usianya kira-kira 40 tahun berdiri dan mengganti channel TV tersebut ke stasiun TV yang menayangkan acara infotainment. Dengan seksama dia menyaksikan acara itu. Ketika tiba jeda iklan, dia mengganti channel ke stasiun TV lain yang juga menayangkan acara yang sama (infotainment juga). Saya dan suami saling lirik dan tersenyum. Kata suami, ”Umi dulu begitu.” Saya menjawabnya dengan anggukan dan senyum saya semakin lebar.
Ya, saya dulu penikmat TV dan merasa terikat dengannya. Dimanapun berada sebisa mungkin mencari TV. Apalagi bila ada sebuah acara (baca telenovela) yang sedang diikuti dan sedang seru-serunya. Waktu itu saya aktif mengikuti acara ”Bettty Lavea” yang diputar di salah satu stasiun swasta, sekitar tahun 2001 kalau tidak salah. Saya mewajibkan diri saya mengikutinya karena penasaran dengan akhir ceritanya. Saat acaranya sedang disiarkan, dan saya berada di tempat lain rasanya gelisah sekali ingin mencari benda segi empat yang bagi seorang teman dirasa ajaib ini. Sampai saya nekat menelpon saudara yang ada di pulau lain untuk mengetahui lanjutan ceritanya. Gila bener….
Suami sering mengingatkan untuk segera mengakhiri kecanduan saya. Apa jawaban saya? ”Nanti deh kalau udah habis gak ngikutin yang lain lagi. Ini yang terakhir”
”Justru disini letak perjuangannya, saat sedang klimaksnya, kalau bisa meninggalkannya luar biasa.” Begitu katanya. Saya setuju dengan kalimatnya itu, tapi kok rasanya masih berat waktu itu untuk melepaskannya.
Tapi kemudian dengan azzam yang kuat, Alhamdulillah saya bisa berhenti ?(mengikuti telenovela). Tidak perlu masuk rehabilitasi (memangnya ada ya rehabilitasi untuk pecandu telenovela?).
Pernah ada sebuah artikel di majalah UMMI tentang TV yang bisa menjadwalkan kehidupan seseorang. Tulisan itu bagus dan mengena sekali. Bayangkan seorang ibu rumah tangga yang tidak ada kegiatannya di rumah, kalau tidak cermat, bisa terjadwalkan waktunya oleh TV ini. Pagi nonton gosip, agak siang telenovela, siang gosip lagi, menjelang sore reality show, sore gosip lagi, setelah magrib sampai malam sinetron (kapan ngeblognya dong?). Begitu setiap hari. Sampai hapal jadwalnya, dan akan duduk dengan rapi saat sebuah acara yang disukai lagi ’on’.
Dulu saya kagum pada orang-orang yang mampu menghilangkan TV dari rumahnya. Saya ingin seperti itu tapi rasanya belum mampu secara total meniadakannya. Apa excuse saya waktu itu? Ah, TV itu seperti pisau, tergantung siapa yang menggunakan. Yang penting kita bisa memilih acara TV yang baik dan bisa menjelaskannya kepada anak. Kita perlu berita soalnya. Nonton TV itu enak, bisa disambi, kalau baca koran harus serius.
Betul memang, nonton TV bisa disambi. Sambil masak, ngurus anak, bersihin rumah, dsb. Karena disambi itulah akhirnya kita sering tidak sadar kalau acara berita habis, berganti dengan acara-acara yang tidak bermutu (maaf kalau saya katakan tidak bermutu, karena ada beberapa acara TV yang saya sama sekali tidak melihat manfaatnya). Akhirnya nonton TV-nya jadi keterusan.
Kadang saya tidak bisa mengontrol anak saat mereka nonton TV. Saya pikir saya harus berhenti mengkonsumsi TV itu. Tapi bagaimana caranya? Selama TV masih nangkring dengan manis di atas raknya, sulit menghindarinya.
Sampai suatu hari TV kami rusak. Kami kirim ke tukang servis. Bisa ’On’ selama dua hari. Setelah itu mati dan betul-betul mati. Katanya tabungnya yang rusak. Wassalam…..
Mau beli TV baru selain harus mengeluarkan uang lagi, sudah tidak menggebu lagi. Dan Alhamdulillah sampai menjelang dua tahun ini keinginan beli belumlah ada. Saya belum melihat stasiun TV yang bisa diterima di Lombok ini (tanpa berlangganan) yang benar-benar aman. Iklannya itu lho terutama.
Nonton berita, ada iklan sinetron yang rata-rata ceritanya tentang kisah cinta dua anak manusia yang kadang adegannya belum pantas ditonton oleh anak seumur anak-anak saya. Kalau anak-anak sering melihat sinetron remaja yang selalu mempertontokan gaya berpacaran remaja masa kini, sehingga terekam dengan baik di otaknya. Mungkin dia tidak langsung mencontohnya sekarang. Tetapi, saya khawatir adegan-adegan itu ingin dicobanya saat masa-masa remaja mulai dimasukinya.
Dan Subhanallah, tidak punya TV ini manfaatnya luar biasa. Jadi banyak waktu yang tidak terbuang, tidak terikat lagi oleh acara-acara yang menjerat.
Ada yang bilang, ’wah ketinggalan berita dong?’. Ya tidak juga. Kami belangganan koran. Malahan dengan begitu Luqman juga ikutan membaca koran. Kami juga memasang TV combo di computer.
Jadi, kalau suatu saat ada berita yang tidak cukup hanya membaca di koran seperti meninggalnya isteri Pak Hidayat Nurwahid dan Pak Harto, kami masih bisa menyimak beritanya melalui tv combo itu.
Ada juga yang bilang, ’nanti anaknya kuper lho’…. Semoga saja tidak. Sebulan sekali mereka kami belikan film anak-anak yang ’layak’ tonton. Sebut saja Finding nemo, Brother Bear, Tarzan (Tarzan kecil), Lion King, The Wild and so on. Saat menonton yang pertama kalinya juga selalu kami dampingi.
Ada yang bertanya, ‘gak takut anaknya malah nonton di rumah orang, kan malah berbahaya?’. Kami hanya mengusahakan apa-apa yang mampu kami lakukan. Ketika dia berada jauh dari jangkauan kami, kepada Allah, Tuhan yang tak pernah terlelap, kami memohon perlindungan atasnya. Yang pasti rambu-rambu dalam bermain sudah sering kami sampaikan.
Seorang ibu yang tinggal jauh dari perkotaan juga pernah menulis di majalah UMMI bahwa mereka tetap menggunakan tv di rumah, dan bisa meminimalisir bahayanya. Saya salut kalau dia bisa me-manage tv dengan baik. Tapi sayangnya saya tidak bisa seteliti itu. Karenanya, sementara ini saya lebih memilih tidak memelihara tv di rumah, sampai waktu yang tidak ditentukan.
Semoga bisa istiqomah.
p.s. Maaf ya tulisannya kepanjangan….. hanya ingin berbagi….
Ini adalah pilihan kami… setiap orang tua tentunya ingin memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya, dengan caranya masing-masing..
I’ve got mine, you’ve got yours, let’s respect each others……

good…
TV itu emg racun…..ga baik…kl saya liat TV, palingan cuma nonton olah raga ato berita doang..selain itu nothing!!!
mending dulu deh, kl nonton TV dirumah pak lurah, rame2 gt, jadi tontonannya bisa dijaga.
Kalau siang hampir gk ada siaran tv yang pengen saya tonton, kalau malam hanya beberapa stasiun saja yang termasuk kategori ‘menghibur’ … selebihnya. Sampah dimana-mana.
tv racun dunia,,,
Berarti sementara ini saya sekeluarga ada temannya nih, mbak Nin
.
Memang tayangan televisi semakin susah untuk memilah mana yg bermanfaat dan mana yg mudharat (karena di sela2 tayangan yg baik pun berisi iklan yg kadang kuran pantes secara susila
).
dan bagaimanapun kebijakan ada di tangan setiap pribadi yg bisa bijaksana untuk memandang seberapa besar faedah dr TV itu sendiri. Semoga senantiasa ada kesadaran dlm tiap individu, khususnya rakyat indonesia, lebih khususnya kaum muslimin..insya Allah.
Wassalam.
makane nonton yang klasik asik saja mbake…
kan ada tuh programnya elshinta kayak acara “kampung kita”
atau kick andy…….
harus pintar memilih dan memilah memang…
tul banget bun , tv sekarang banyak acara ngga pentingnya , doakan bun semoga bisa buat acara di tv pribadi yang lebih imani
makasih doanya ya bun , acara kopdar berlangsung lancar
saya juga mendoakan semoga dalam waktu dekat acara kopdar blogger Lombok bisa terwujud
amin
Alhamdulillah .. saya malah nggak punya TV ..
semoga istiqomah bu .. sekarang TV bagi kami sekeluarga manfaatnya tidak banyak bahkan kerusakannya banyak sekali
memanage TV sesungguhnya tidak untuk anak² juga tetapi untuk kita juga ..
Wah… gimana kita kampanyekan “Dunia Tanpa TV”
Ummi,*Nostagila dikit* dulu waktu aku kecil, aku dikurung di rumah *anak rumahan*, cuma mainan buku bergambar & crayon. Aku bisa ktemu tv dirumah tanteku ajha, itupun maen game nintendo,ga ampe 1/2 jam. Kalo dulu sih, waktu didepan komputer, skedar mainan mouse ama keyboard doang..
smua orangtua kan punya caranya sendiri,
aku dukung cara ummi
alhamdulillah diriku amat sangat jarang sekali nonton tivi
karena TV tuh tipa datang ke rumah tuk tidur eh malah nonton
sis aku juga ga suka sama yang namanya acara tv kok! cuma beberapa aja biasanya cuma berita dan film bagus karena saya suka sekali film ^_^
tapi buat yang lain dan terutama kebanyakan yang “muatan lokal” semakin ga bisa diterima aja..
ah apalagi buat anak! tapi mungkin kalau nontonnya dvd yang mendidik boleh juga bu
yaaaa… gak segitunya juga kaleee… kan bisa dipilih tontonan yang bermanfaat..yang berelmu.. yang gak cuma nampilin sinetron gak mutu doang…
mungkin harus kita yang pinter2 milih channel kali yaa…
mbak nin….aku sih jarang banget nonton tv…seminggu belum tentu sekali…tapi anak2…tiap hari…selama melek ditanggung mata hehehe…udah tau sih betapa jeleknya efek tv, tapi susah banget ngelarang anak2…apalagi emang anak2ku gak banyak kegiatan …selain sekolah dan ngaji…mereka nganggur…ya udah deh,,,nonton tv…tapi…aku cuma ngasih mereka nonton disneychannel, playhousedisney ato cartoonnetwork…selama ini sih aman ya….moga2 tetep deh…
salut mbak! kalo saya sendiri gak terlalu suka nonton tivi, mendingan internetan atau nonton DVD / bioskop, acara tivi sekarang gak karuan, terlalu banyak sinetron yang negatif (menurut saya) dan infotainment yang gak penting. tapi sesekali saya masih nonton berita di metro tv atau nonton acara olah raga.
tapi untuk tidak memelihara tivi di rumah seperti mbak, itu butuh perjuangan lho, kayanya saya masih belum bisa
TV OK bila berita, nonton bola dan olahraga lain
TV NO jika SINETRON
sinetron?? bah……………..
hehe, kalo saya sih belom bisa hidup tanpa tv. emang sih kalo gak ada kerjaan ya nntn infotaiment, kalo sinetron sih ogah bener. ceritanya gak logic. kalaupun mau nntn tv, paling nntn acara tv luar negeri, reality show yang menarik dan mendidik. kayak “are you smarter than 5th grader?”, nntn itu bisa sekalian belajar. selebihnya, hampir seharian bisa aja di rumah nongkrongin metro tv aja. berita gak bakal ada matinya. masalahnya gak langganan koran, gara2 tukang korannya datengnya kelamaan. hehe.
oh ya, ketinggalan. palingan saya jga nntn tv kalo lagi kartun. haha(udah 15 taun masih demen ama kartun).
Alhamdulillah setahun lebih saya dan keluarga sudah ngucapin selamat tinggal tv. Pada awalnya memang sangat susah lepas dari kotak ajaib ini. Terlebih anak-anak, perlu usaha kerja keras agar mereka benar-benar mau melupakan tv. Melepas ketergantungan pada tv mesti dicarikan alternatif penggantinya, misalnya buku, majalah, koran dan bacaan lainnya.
Bunda Keren..!.. InsyaALLAH ingin diteladani juga Bun
.. Deen tertegun saat suami Bunda mengatakan, justru melepaskan di titik klimaks, di situlah letaknya makna perjuangan..
Nice..
dan hancur lah generasi bangsa ini…..
hancur sehancur-hancurnya…….
berkeping-berkeping……….
tak ada jiwa tak ada nyawa……..
akankah pemerintah berdiam durja ??
aha…
seperti biasa…..
diam seribu bahasa…
melihat anak bangsa ini bergelimpangan…….
bukan karena penjajahan….
bukan karena serangan….
perang. tidak !!!
tapi..
bergelimpangan karena…..
penjajahan media masa…
bergelimpangan karena…..
serangan media masa…..
duh..balada negeriku…….
daftar acara perusak bangsa :
infotaimen=gosip=ghibah=makan daging saudarasendiri
dang-dut-dut=merusak moral bangsa
ramalan=tuhan baru=syirik
sinetron=perusakan
telenovela=pembodohan
acara idol-idol=pembunuhan berencana
kuis-kuisan=panjang angan-angan
ah…..entahlah……
salam kenal. suatu masa (walah kayak cerita apaan) saya mendengar penjaga anak saya mengalunkan lagu Teman Tapi Mesra saat mengantar tidur anak saya di ayunan. saya kaget bener dan mau muntah. paginya saya instruksikan ke istri untuk ngasih warning. saya yakin itu juga karena tv.
aku siy msh punya TV mba…cm buat nonton DVD paporit anak2 dowang hampir gag pernah nyetel chanel tipi gag tau acara yg bagos apaaaa
hey cuma mo bales yang masalah rumahblogger, boleh ko semuanya ! semua umur ! pastinya berjiwa muda dong hehe, kita seru2an disana ! hoho
kadang TV memang bisa menjadi racun walau gunanya pun juga banyak
Satu-satunya kutipan yang bisa dipercaya dari George Dubya Bush
“They put an off button on the TV for a reason. Turn it off . . . I really don’t watch much TV.”
– President George W. Bush, C-SPAN interview, January 2005
http://www.turnoffyourtv.com/
kembe…..yao kalau gak ada TV kita gak bisa cari informasi mbak, kalau saya sh kalau gak punya TV sering nonton di tempat papu saya he….sorry bhs lombok saya kurang lancar he….oh ya mbak lombok barat am lmbok tengah tuh bahasanya beda jauh gak
tanteku ^tante nung mamahnya ali^ dari dulu tuh ga ngasih tivi.. ada 20 tahunan udah jalan.. and guess what.. anak-anaknya semua berhasil.. ga kupeer.. dan asli pinter-pinter bgttttt.. mereka tuh ya baca buku, main piano, ngutak-atik komputer.. becandaan ma keluarga.. dan baca koran.. nonton film dari cd ato dvd gitu.. itu juga brg2.. kerennnnn.. TOP dehhhh..
Sekarang Siaran TV enggak ada yang mendidik
waks…..setujuuuuuuuu!!! apanya yg setuju? aku seh punya TV ukh…(gede lagi, bikin repot bersihinnya, sarang debu..lah jadi curhat… pengen buang takut dimarahin yg beli
)… tapi yg dipasang cuma Qur’an ama Nasyid, sekali2 “fatafeet” (foodtvnya Arab), Ibrahim jatah nonton TV cuma 1 jam tiap hari, selebihnya buat nonton bolanya Abu Ibrahim kalo weekend 
SubhanAllah, mata terjaga insyaAllah hati terjaga
nonton tipi paling kalo Liverpool lagi maen doank
saya juga udah berhenti mengkonsumsi TV sejak lama… bukan apa-apa… gak enak… keras… mendingan makan nasi kan? *kok oot ya?* hahaiaha
bener bunda
banyak anak-anak kecil yang melakukan tindakan asusila sama sesama temennya juga karena TV
neng sendiri karena sebagian besar waktu dikantor jadi udah terbiasa hidup tanpa TV. hasilnya, ternyata gak ngaruh banget sama keseimbangan hidup kok bun:)
Media elektronik seperti tv, internet, dsb itu emang mengandung banyak manfaatnya, tapi dibalik manfaat juga ada mudharatnya.. itu semua tergantung dari pengguna media itu, jadi intinya adalah kita harus pandai2 memilih acara di tivi dan konten di internet juga.. biar bisa dapet hal yg bermanfaat
tipi itu segalanya, tapi kalau tipi kesambar petir itu berabe
kalau bagi saya sih,asal ada internet tv gak ada jg ga papa..malah kalau di rumah(indonesia) asal ada bacaan atau temen ngbrol ama ada ato gak tv sama aja tuh…suatu saat nanti saya punya rumah sendiri nanti insyaAllah (aamiin),saya jg pengen ngikutin jejak mbak nin nih..^-^
moga2 aja bisa..
mba niiiin..kalo aku disini punya tivi..cm jarang di ON-in..soalnya aku jg males, acaranya acara belanda..paling2 sehari cm nonton 2 jam(malem doang) kl Zhavar dah tidur..dan Zhavar sehari aku batesin 15 mnt(pagi2-acara anak)..
pkknya aku stuju bgt kl TV dibatesin..tp kyknya ga sanggup kl ga punya TV ;p..yg penting ada..mo dinyalain ato ngga, masalah nanti..hihihi
TV disingkirkan?
Alhamdulillah udah jarang nonton tivi, secara gak ada yang mutu lagi acaranya …
entah tivi sekarang,
acara infotainment ga habis2nya, trus acara dangdutan yang dari jam enam sampe jam 12 malam, sinetron yang penuh gaya hidup hedon, kata2 kasar, dan ga menghargai nilai2 masyarakat.
maaf kalau menyebut merek, tapi apa pemilik TPI itu ga malu kalau TPI itu singkatan dari televisi pendidikan indonesia?
*tentu bukan TPI saja*