Masa Kecil Dulu dan Kini

24 07 2008

Sebagai guru dan pengelola sempoa ASMA di lingkungan tempat tinggal saya, seringkali menemui kesulitan dalam mencocokkan jadwal sempoa calon siswa. Ahad les renang, Senin les tari, Selasa les matematika, setiap siang les pelajaran di sekolah, Rabu les piano, jum’at drum, Kamis dan Sabtu les bahasa inggris (yang terbanyak). Saya sampai geleng-geleng kepala melihat kesibukan anak-anak yang melebihi kesibukan orangtuanya. Saya sungguh tidak berani mengomentari masalah les yang bermacam-macam ini. Tentunya orang tua mempunyai alasan sendiri dalam hal itu.

Kalau boleh bertanya, kapan mereka main? Saya bukanlah seorang psikolog atau ahli dalam pendidikan anak, tapi dari pelatihan-pelatihan yang saya ikuti, saya dapati bahwa bermain itu merupakan hal yang sangat berarti bagi perkembangan anak. Namun sekali lagi, saya tidak ingin berkomentar banyak. Setiap orang tua mempunyai prinsip yang berbeda dalam mendidik anak-anaknya.

Saya hanya teringat masa kecil, bisa bebasnya bermain kapan saja mau.

Mandi di laut dengan teman-teman dan saudara (yang letaknya di belakang rumah), main di bawah kolong rumah tetangga (rumah di Balikpapan, yang dekat pantai memang dibangun tinggi supaya air tidak masuk saat di laut sedang pasang), main asinan (menggambar petak-petak di lantai kemudian kita melompat ke kotak-kotak tersebut), lompat karet (he….. saya dulu termasuk jagonya secara punya kaki panjang), main bekel, kasti, gobak sodor (asinan naga), kelereng, ular tangga, monopoli, sekolah-sekolahan, jual-jualan, yang lainnya lupa, tapi pastinya lebih banyak lagi. Kalau saya sedang ingin main sendiri, maka saya akan masuk ke dalam kamar, mainan boneka kertas yang pakaiannya bisa dibongkar pasang. Ah, sungguh menyenangkan…

Kemudian saya bawa kembali pikiran saya ke zaman sekarang. Permainan yang paling digemari anak-anak saat ini adalah PS, main kartu (apa sih namanya, ah, saya lupa), dan sebagian lagi menonton tv. Anak-anak di rumah sengaja tidak dibelikan PS, karena belum melihat urgensinya. Tidak tahu lah nanti.

Sebenarnya kasihan juga melihat anak-anak saya sendiri. Untuk bermain harus saya batasi waktunya. Mereka saya beri waktu bermain sore hari setelah pulang dari TPA. Anggapan saya, di sekolah Luqman punya waktu cukup untuk bermain, karena Alhamdulillah di SDIT belajarnya tidak membuat anak stress. Sekolahnya bernuansa alam. Di rumah juga cukup waktu bermainnya dengan Syamil, adiknya. Itu anggapan saya. Untuk mengganti PS, saya jadwalkan dia main game di computer. Untuk mengembangkan imajinasinya saya jadwalkan dia menonton VCD anak-anak yang ’aman’. Dijadwalkan? Sebenarnya kasihan. Padahal waktu saya kecil waktu main tidak terbatas dan tidak terjadwan. Tapi, ya begitulah… saya memang melihat adanya perbedaan dulu dan kini, yang membuat saya tidak bisa membiarkan anak-anak bermain sebebas saya dulu bermain. Tak adil? Saya justru merasa tidak adil jika saya memperlakukan mereka sama seperti bagaimana dahulu saya diperlakukan. Saya bahagia dengan masa kecil, tapi tak berani menjamin bahwa buah hati saya akan mendapat kebahagiaan yang sama.

Hm…. Terkadang pusing sendiri memikirkan apa ya yang terbaik buat anak-anak….

Ah… kemana perginya asinan, lompat karet, main bekel, kasti, gobak sodor, kelereng, ular tangga, monopoli…

Sesungguhnya permainan-permainan lama itu banyak manfaatnya… Namun kini banyak ditinggalkan.