Dahulu, ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar, hal yang paling menarik dari sebuah perayaan Kemerdekaan RI adalah menyaksikan duta-duta daerah seluruh Indonesia yang dikirim untuk mengibarkan Bendera di Istana Negara. Selain itu adalah menonton pawai pembangunan yang selalu melintas di depan rumah saya. Rumah saya tak jauh dari jalan raya. Jadi, jika orang-orang yang tinggal agak jauh harus datang berbondong-bondong dengan membawa bekal seadanya, maka saya dan saudara cukup menanti di pintu rumah. Rasanya bahagia sekali melihat iring-iringan kendaraan yang dihias sedemikian rupa serta menyaksikan orang-orang yang duduk di atas kendaraan itu melambaikan tangannya. Saya juga pernah menjadi salah satu peserta pawai itu. Waktu itu saya masih SD. Duduk di salah satu mobil yang penuh hiasan jagungnya dengan berpakaian adat Madura. Baju kebaya merah menyala, peniti emas (palsu) gepeng seperti koin, tapi ukurannya lebih lebar, memakai pengghel (gelang kaki yang besar). Waktu itu saya bangga sekali memakai baju itu. Indonesia memang kaya sekali dengan budaya yang beraneka ragam. Apalagi jika yang pawai adalah anak-anak TK – SD, duh… lucu sekali.
Itu dulu…..
Tapi, apa yang saya saksikan kemarin siang, membuat sesak di dada.
Secara tak sengaja saya melintas di starting point penyelenggaraan karnaval Agustusan di Kecamatan Gunung Sari. Pintu masuk BTN tempat tinggal kami selalu dipergunakan sebagai starting point . Tahun lalu saya mengajak Luqman melihat-lihat sambil memperkenalkan pakaian adat Indonesia yang banyak dipakai oleh para peserta.
Betapa terkejutnya saya ketika melihat sekumpulan ABG yang berpenampilan seronok.
[Bayangkan sendiri]…. Sekitar enam orang ABG, berjalan berlenggok menuju tempat berkumpul peserta dengan memakai stocking hitam, celana/ rok sangat pendek, atasan yang sangat ketat dengan warna yang mencolok, rambut diikat tinggi, memakai sepatu boot warna hitam setinggi lutut, kaca mata hitam yang hampir menutupi pipinya.
Saya ternganga melihatnya, sambil mengingat-ingat… wilayah mana dari Indonesia yang mempunyai pakaian adat seperti itu? Sumatera? Jawa? Kalimantan? Nusa Tenggara? Maluku? Irian? Rasanya tak ada yang seperti itu. Lalu, mereka berpenampilan seperti itu maksudnya mewakili golongan apa? Beginikah remaja-remaja yang kita harapkan akan memimpin Indonesia 10 tahun ke depan?
Melihat mereka saya teringat salah seorang penyanyi yang pernah saya lihat penampilannya di harian langganan saya, Mulan Jameela. Aha… rupanya Mulan itu yang menjadi inspirasi mereka. Bedanya, Mulan berlenggak lenggok di panggung dengan bayaran tinggi, mereka berlenggak-lenggok di jalan kampung. Semakin orang-orang kampung menyoraki mereka, semakin melenggoklah mereka.
Duh, dada ini terasa sesak….
Kalau Pak Sawali mengupas tentang apa yang tersisa dari pesta karnavalnya, saya melihat bahwa karnaval ini bisa menjadi cerminan kondisi masyarakat yang ada.
Kemarin tidak membawa kamera, jadi tak sempat difoto. Cukup dibayangkan saja ya bagaimana kondisinya.

agaknya karnaval pada masa sekarang sudah jauh menyimpang dari “khittah”-nya, mbak. memang masih ada sih beberapa kelompok peserta yang paham betul ttg makna karnaval itu. namun, selebihnya malah jadi boros, terkesan glamor, dan yang lebih mencemaskan tak jarang utk unjuk seksinya “pagoda” (paha, goyang, dan dada), haks…
Sudah lama ngga nonton pawai 17an.
Ngeri juga liat abg sekarang, tapi itulah faktanya Mba Nin.
Harus ada cara2 kreatif untuk menangkal hal2 negatif (tapi ga tau gimana caranya)
Hmm, di deket kostan saya, tiap tahun selalu saja ada yang kesurupan
17-an dijadikan ajang pamer badan? hmm.. memang makin aneh keadaan sekarang
Yang jelas itu bukan pakaian adat Riau, mbak Nin…:D..
namanya juga jaman sekarang…
semuanya uadh berubah
dimana mba’ adanya ???
jadi penasaran pengen liat !!!
he he he
kenapa semakin hari neng semakin takut melihat masa depan anak2 muda kita ini ya bun?
neng juga punya adek yang masih bayi 10 bulan. kadang liat dia, neng mikir. 15 tahun mendatang, apa adek kesayangan ini masih bisa dengerin kakaknya ya?
neng gak pengin ah anak2 muda kita jadi generasi ala mulan jameela.
itu namanya orang yang nggak bisa menempatkan dirinya ditempat yang tepat!
wekekekekek!
apaan tu!
Merdeka yang salah arti memang
Banyak orang berpikir kita pantas hura2
karena kia sudah merdka
Padahal sejatinya
Kita harus masih tetap berjuang
Semoga kita tak pernah terlena!
merdeka yang salah kaprah.. seperti merdeka utk menempati tanah yang bukan haknya, merdeka utk menjarah sesuatu yg bukan haknya, merdeka utk mencaci dan menghancurkan yg gak sesuai dengan kehendaknya, merdeka utk ekspresi se-enaknya, merdeka untuk…………….ahh.. cape deh..
wahh bahaya juga generasi sekarang kok ga pny karakter sendiri,
pdhal jaman saya masih pake seragam mrh putih , karnaval adlh momen yg plg ditunggu2. Pake baju adat bhineka tunggal ika merupakan kebanggaan tersendiri, lha skrg kok malah pakaianya mbak jameelah… byuhhh..
salam knl bu
ada yang mengatakan sekrang jaman modern kang….
sehingga hal spt itu tuntutan globalisasi……
tp…memang terkadang hati ini di buat miris akan hal itu
ayo selmatkan generasi muda ….. saya juga mash muda nh
itulah salah satu hal yg memberatkan gw utk berfikir segera menikah. aku takut, klo ntar aku jd bapak, aku ndak bisa membimbing istri dan anak2ku…
wah.. momen HUT RI kok malahan pake kostum seperti itu yah.. saltum itu orang.. seharusnya pake baju2 daerah yah.. sebagai bangsa Indonesia yg kaya akan budaya, kan bagus sebagai objek wisata baik lokal maupun mancanegara..
*membayangkan Mulan Jameela ikut pawai* hahahahahaha…salam kenal ya
salam
karnaval cuma kata lain dari hiburan dan seneng2 ga jelas, gitu kali kebanyakan sekarangmah..haks
kalau tuh ABG di Padang, waw…. udah dilalerin
Ya, generasi muda yang tidak menghargai kultur, budaya Indonesia serta perjuangan para pahlawan!
ck ck ck… (geleng2 kepala) waktu itu di jogja juga ada… ada sekitar 6 org ce pakaiannya juga seronok gitu sambil dipamerin muter2 gara2 ada acara, piye jal kalo anak2 kecil liat???
dampak sinetron.. dampak entertainment gak jelas, yang isinya cuma menawarkan kesenangan semu, adoohh… bagaimana nih ?!?
Wah, nggak bisa dibayangin nih, kalau nggak ada skrinsyutnya kan tambah asyik. hehehe…
tapi di jaman sekarang ini yang penting menghibur, gak peduli entah itu culture kek atau apa kek…?
salam kenal bu:D
semakin berat tugas bangsa ini
Itu pakaian … tidak tau adat bu …
hehehe
susah juga yah…jadi bertanya tanya orang tuanya ngapain aja. kok kayak ngak ngajarin anak anaknya
Astagfirullah al adzim…