MENTAL BANGSA KITA

31 07 2007

Ketika sedang memilih anggur di sebuah supermarket di Lombok, ada seorang muslimah (saya yakin dia muslimah karena dia mengenakan jilbab) masuk dan ikut memilih. Tetapi yang menjadi perhatian saya adalah kegiatannya mencicipi anggur. Dia juga menyuapi anaknya dengan sebiji anggur yang lain. Padahal di atas anggur itu tertuliskan “Tidak untuk dicicipi”. Tulisan itu ditulis dengan huruf besar dan jelas sekali. Tapi mengapa tanpa rasa bersalah dia tetap mencicipi anggur tersebut.

Itu bukan kali yang pertama saya melihat kejadian serupa. Mungkin yang ada di benak mereka, supermarket ini tidak akan rugi kalau mereka hanya mencicipi satu. Tapi bagaimana kalau ada seratus orang yang berpikiran sama. Padahal mereka belum tentu membelinya. Dari sekian banyak orang yang pernah saya lihat tersebut, tidak ada satupun orang asing yang melakukannya. Dari penampilannya bisa dipastikan mereka adalah muslim. Menyedihkan. Padahal yang saya pelajari Islam tidaklah demikian. Ia mengajarkan adab-adab yang baik. Apakah tindakan seperti yang saya lihat di supermarket tersebut adalah cerminan adab yang baik? Saya rasa tidak. Mengapa mental bangsa kita yang mayoritas Islam begitu buruknya?

 Itu baru satu contoh. Belum lagi tentang egoisnya seorang perokok di Indonesia. Mereka tahu kalau asap rokok tidak baik bagi dirinya dan orang yang berada di sekitarnya, tapi seringnya saya melihat mereka tidak perduli. Pernah suatu hari saya, suami dan anak kami yang masih berumur 2 tahun naik bis AC dari Samarinda menuju Bontang. Seorang laki-laki yang berada di dalam kendaraan yang sama dengan kami sedang menikmati rokok. Karena asapnya langsung mengenai anak kami suami saya menegurnya dengan cara yang baik. Laki-laki itu malah marah. Katanya kalau mau tidak terganggu jangan naik kendaraan umum. Kami jadi bingung, apakah sebetulnya angkutan umum memang disediakan untuk perokok?

Ada satu hal lagi yang menjadi perhatian saya. Ketika turun dari pesawat di Surabaya, kami disambut bis yang akan membawa penumpang pesawat ke bandara. Ternyata bis penuh. Saya berdiri sambil menggendong anak yang bobotnya 15 kg. Saya heran tidak satupun dari laki-laki yang duduk yang berniat menawarkan tempat duduknya kepada saya, meskipun mereka menyaksikan betapa susahnya menggendong anak di atas bis yang sedang berjalan.

Sementara….. Orang asing yang ada di Indonesia bisa bersikap lebih santun. Di dalam kendaraan mereka akan rela berdiri dan merelakan kursinya untuk ibu-ibu hamil dan menggendong anak. Di supermarket mereka juga tidak mencicipi buah-buahan seperti yang saya ceritakan diatas tadi. Para perokok juga merokok di tempat yang disediakan. Mereka juga dengan mudahnya berterima kasih jika dibantu dan langsung meminta maaf jika bersalah.

Bukankah sebenarnya yang demikian yang diajarkan Islam? Tapi mengapa justru mereka yang mengamalkannya? Padahal orang-orang luar itu terkenal dengan ‘cueknya’ dan bangsa kita terkenal dengan ‘keramahannya’.

Mungkin yang saya temukan hanya oknum-oknum yang berperilaku seperti itu, semoga saja demikian. Kasihan sekali bangsa kita jika semua bermental seperti orang-orang diatas. Egois, tidak tahu malu dan tidak perduli. Apalagi jika mental-mental tersebut menghinggapi para pemimpin kita. Akan dibawa kemana bangsa ini. Naudzubillahi min dzalik.

Semoga Allah Sang Maha Pengasih senantiasa melimpahkan kasih sayangnya kepada kita. Semoga bangsa kita bisa mengikis sedikit-sedikit mental negatifnya. Amin.  


Actions

Information

4 responses

10 08 2007
Rien

Ukhty,…
seperti itulah bangsa kita, bukannya bisa bersifat terbuka, tp malah nganeh-nganehin…klu yg ngerokok itu emang kebangetan…ga sadar udah niat ngubunuh org dgn asapnya…
yah mental dijajah apakah seperti itu ya ukh? wallahu a’lam

14 01 2008
Dy

hmm..bener sekali mbak. orang luar itu bisa berbuat seperti itu, karena sudah terbiasa di negaranya mereka, dan adab2 tersebut memang sudah di ajarkan ke mereka sejak mereka kecil. jadi bisa sudah mendarah daging. apalagi budaya terima kasih dan minta maafnya.
jujur saja, saya juga jadi lebih mudah mengucapkan terima kasih, apalagi minta maaf yang terkadang kita suka susah mengucapkannya itu sejak berada di negeri orang ini.

14 01 2008
Dy

oh iya, terima kasih ya mbak atas kesediaannya..sesuai dengan tawarannya, bersedia kah mbak jadi kakakku ??😉

Tentunya bersedia dong….

18 06 2009
nbasis

Itu khas bangsa kita bukan ya? Ha ha ha. Sedih benar jadi bangsa Indonesia kalau begitu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: