Luqman dan Kehilangannya atas Mas Ryan

29 10 2007

picture-214a.jpgIni cerita tentang Luqman yang sedang sedih, karena mas Ryan, sepupunya (anak kakak saya yang sedang kuliah di Surabaya) baru saja kembali ke Surabaya, setelah menghabiskan waktu 5 hari di Lombok.Selasa yang lalu Mas Ryan datang mengantar nyai (panggilan nenek dalam bahasa madura) ke Lombok. Semula yang diharapkan Luqman datang adalah Mas Wildan, adiknya yang sekarang kelas 1 SMP. Tapi ternyata dia sangat menikmati kebersamaan dengan Mas Ryan.Tidur berdua, makan berdua, ke masjid berdua (biasanya Luqman ke masjid menunggu iqomat, tetapi ketika ada Mas Ryan mereka ke masjid sesaat setelah azan selesai dikumandangkan), pokoknya semua berdua. Ketika tiba waktunya Mas Ryan harus pulang, Luqman kelihatan biasa-biasa saja. Tetapi saat mengantarkannya di  bandara, Luqman menangis. Sesampainya di rumah dia masuk kamar dimana dia dan Mas Ryan biasa main bersama. Dia menangis lagi. Kasihan…..Saya dan abinya menghiburnya dan mengatakan kalau kangen dia bisa telpon. Ternyata kata-kata kami masuk ke dalam relung hatinya. Dia benar-benar mengambil HP abi dan menelpon Ma Ryan (hehe… abinya cukup surprised juga melihat pulsanya drastis berkurang). Tak puas pake HP dia mencari nomor telpon rumah Mas Ryan dan langsung menelponnya. Dia tidak bisa tidur siang itu.Saat azan ashar bergema, dia mengganti baju dengan baju koko (tumben, biasanya shalat ke masjid pake baju kaus aja, dia meniru Mas Ryan yang selalu berganti baju koko ketika ke masjid). Pulangnya, dia masuk kamar dan menangis lagi. Rupanya dia sedang mengingat-ingat apa saja yang biasa mereka lakukan setelah pulang dari masjid. Tak lama setelah itu saya sudah mendengar dia bercakap-cakap di telpon dan saya tahu pasti suara yang diseberang itu adalah Mas Ryan.Yang paling mencengangkan saya, ketika dia pulang dari masjid usai shalat isya’, dia mengambil novel “Ayat-ayat Cinta” dan Kamus Idiom di rak buku. Kedua buku tersebut memang menjadi bacaan Mas Ryan saat di rumah. Buku-buku itu dia bawa ke kamar. Saya mengintipnya dari luar. Dia sedang duduk dimana Mas Ryan biasa duduk dan membuka novel AAC tersebut. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Sejenak kemudian, buku itu dia taruh di sampingnya, tangannya diletakkan di atas perut, matanya menerawang ke langit-langit. Saya amati nampak matanya berair. Saya putuskan masuk kamar dan mendekatinya, pecahlah tangisnya. Saya tak tahan dan ikut meneteskan airmata. Saya peluk. “Kakak lagi kangen Mas Ryan ya nak?” dia mengangguk dan semakin menangis. “Sabar nak ya, nanti kalau liburan insya Allah Mas Ryan kesini lagi atau kita yang ke rumahnya”. Dia berdiri menuju ke meja telpon dan memutar nomor 031….dst. “Hallo…Mas Ryan ya? Lagi ngapain?………” weleh… langsung nelpon dia. Ini sudah kali yang kesekian dalam satu hari ini semenjak keberangkatan Mas Ryan. Tidak puas dengan itu dia menelpon budenya (Mamanya Mas Ryan yang tinggal di Balikpapan) untuk menanyakan kapan Mas Ryan liburan. Lima bulan lagi katanya. Dia langsung menghitung kalender. Masihlama. Dia sedih lagi.Kami menghiburnya dengan mengatakan bahwa Kakak Ipul (sepupunya yang tinggal di Palu) insya Allah lebaran haji ini akan ke Lombok. Simpel saja jawabnya “Tapi kakak lebih senang dengan Mas Ryan”. Wah cinta mati rupanya. Ya…. Mungkin dia merasa begini karena dia baru saja kehilangan orang yang dalam 5 hari ini bersamanya. Semoga dia bisa melewatinya. Ini adalah sebuah pelajaran bagus baginya tentang kehidupan. Yang semula tidak ada, menjadi ada, dan kemudian kembali tidak ada.  We love you son. Really.

Foto-fotonya kami posting di MP





ANAKKU LUQMAN DAN DO’ANYA

24 10 2007

picture-119.jpg Dalam sebuah postingan foto di Multiply teman, ada salah satu foto anaknya yang diberi titel “Yang akan mendoakanku ketika aku mati”. Kalimat itu membuat saya terpana. Benar-benar menyentuh. Sebuah pengharapan yang saya yakin orang-orang beriman pasti akan memilikinya. Saya jadi teringat anak kami yang pertama, Luqman. Akankah doanya kelak menjadi pelipur lara kami di kesendirian alam kubur dan kegelisahan alam akhirat. Rasanya inilah harapan kami saat mendo’akannya menjadi anak sholeh. Amin. OK. Itu tentang do’anya buat kehidupan kami di alam lain. Yang akan saya ceritakan disini adalah tentang sebuah do’a yang dia panjatkan ketika saya sakit.Beberapa hari belakangan ini aktivitas saya agak padat, ditambah anak kami yang nomor dua dan tiga sakit. Malam jadi kurang tidur. Saya sebenarnya sudah mulai merasakan nyeri-nyeri pada sendi sejak lima hari yang lalu dan puncaknya baru  terjadi malam senin kemarin.  Badan terasa panas, tenggorokan sakit, perut dan pinggang sakit, pusing yang menyebabkan saya harus mengistirahatkan diri total.  Rasanya tidak nyaman sekali. Kalau tak ingat bahwa sakit bisa mengurangi dosa dan merupakan ujian dari-Nya saya akan terus menyesali sakit ini. Banyak yang terbengkalai. Anak-anak jadi tidak terurus. Syukurnya Abi sedang OFF jadi sangat membantu mengurusi anak ini. Luqman, buah hati kami yang memang pada dasarnya berhati lembut itu bolak balik masuk ke kamar dan menanyakan kondisi saya. Dia terlihat sedih. Banyak sekali kebaikan-kebaikan yang dia berikan kepada saya. Mengambilkan minum, menyelimuti, memijat, sangat mengharukan. Hik hik……..Malam Selasa abinya memutuskan untuk membawa saya ke dokter. Sampai di tempat praktek dokter yang dimaksud, ternyata dokter tidak ada. Kamipun pulang karena merasa tidak nyaman untuk mencoba ke dokter yang lain. Di perjalanan abinya membelikan obat penurun panas di apotek. Ya, tetap berikhtiar. Sampai di rumah saya tidak tahan lagi langsung merebahkan tubuh di kamar, memakai selimut dan tertidurlah saya.Saya mendadak terbangun karena merasakan hawa panas di tubuh. Ternyata tubuh saya berkeringat. Saya keluar kamar. Kepala saya pusing sekali karena bangkit dari tempat tidur secara tiba-tiba. Diluar kamar Luqman dan abinya sedang duduk menghadap qiblat. Terdengar sayup-sayup abinya sedang merangkai do’a untuk kesembuhan saya yang diaminkan oleh Luqman. Terdengan pula oleh saya suara Luqman yang terisak kecil. Subhanallah. Anak saya sedang berdo’a demi kesembuhan saya sampai menangis seperti itu. Tak berapa lama, saya merasa sangat mual dan bergegas ke kamar mandi. Saya muntah, yang keluar hanya air. Perut terasa sakit sekali. Keringat bercucuran amat banyak. Setelahnya saya keluar kamar mandi dan merasa segar sesegar-segarnya. Allahu akbar. Sakit di kepala, perut, dan mata yang terasa panas hilang seketika. Hanya batuk yang tersisa. Ini jelas pertolongan Allah. Tapi tidak tahu jalan mana yang menjadi sebabnya. Apakah obat barunya atau do’a suami dan anak? Saya sendiri lebih yakin bahwa do’a merekalah yang telah dikabulkan Allah, Sang Maha Pengabul do’a. Malam itu juga saya peluk Luqman. Saya katakan: “Kak, terima kasih ya atas do’anya. Berkat do’a kakak kepada Allah umi jadi sembuh. Kakak tahu gak kalo’ do’a kakak itu sering sekali dikabulkan oleh Allah.” Dia mengangguk dengan wajah terharu. Saya lanjutkan kalimat saya, “Kak, jangan berhenti berdo’a ya nak.. Teruskan sampai umi nanti meninggal. Tolong do’akan umi ya sayang.” Dia mengangguk lagi dan memeluk saya.





PAPUQ KORAN

19 10 2007

Papuq koran

Setiap pagi (kecuali Hari libur Nasional), sekitar pukul 07.30 ada laki-laki tua yang lewat dan berseru “koran koran…”. Begitu melintas di depan rumah kami, dia akan berhenti dan mengucapkan salam khasnya “Assalaamu’alaikuuuuum”. Dari dalam saya akan meminta  si abang (anak nomer dua) untuk mengambilkan korannya. Dengan membawa uang Rp. 3.000,- dia keluar, memakai sendal, mengambil ancang-ancang….. “DAR!”. Dia mengejutkan si papuq tadi. Dan papuq itu berlagak seperti orang yang kaget. “Uah…. Kaget papuq…. Ditembak….” Anak saya tertawa senang, kemudian mengambil koran, membayarnya, dan menyerahkannya pada saya. Begitu setiap pagi. Saya selalu mengintip dari jendela dan mengamatinya. Setiap mendengar anak saya memakai sendal, papuq itu akan membalikkan badannya seolah-olah tidak tahu kalau anak saya datang dan terjadilah kejadian seperti yang saya ceritakan di atas. Tulus sekali dia melakukan itu untuk anak saya. Simpel memang. Tapi itu tampak sangat mengesankan bagi si abang.
Ada lagi, setiap menyerahkan korannya, papuq itu selalu berkata. Ini dia calon sarjana. Dari dalam saya selalu mengaminkan perkataannya. Saya menganggapnya sebagai do’a. Setelah menerima uang dari abang, papuq itu akan berucap “Alhamdulillah, syukur.” Mungkin itulah yang membuat si papuq selalu terlihat santai, tenang, ceria, tanpa beban. Karena dia senantiasa mensyukuri apa yang didapatnya. Kalau dipikir-pikir, berapa yang didapat dari setiap 3000 harga koran itu.
Kita, yang mungkin berpenghasilan lebih dari papuq koran tadi, kadang suka lupa bersyukur. Bahkan ketika gaji (yang nilainya pasti jauh lebih banyak dari 3000) masuk ke rekening kita lupa mengucapkan hamdalah sebagai tanda syukur lewat lisan. Karena menganggap hal itu biasa. Kadang saya suka jumpai orang-orang yang pada saat gajian berujar: “Ah, baru gajian tapi uangnya sudah habis, dibagi sana-sini.” Inilah yang disebut “Banyak tapi tidak berkah”.
Kali ini sebuah pelajaran bagus didapat dari seorang kakek penjual koran. Bagaimana cara dia menyenangkan anak kecil dan bagaimana cara dia bersyukur. Patut kita tiru.
Oya, sebutan papuq koran itu berasal dari bahasa Sasak. Papuq = kakek/ nenek. Karena si papuq itu setiap pagi berjualan koran, jadilah kami menyebutnya papuq koran.





Ramadhan yang Akan Pergi

10 10 2007

Ramadhan… bagi setiap orang memiliki makna yang berbeda2.
Ada yang menjadikannya sebagai:
o        Bulan pelatihan (latihan hidup susah -makan minum terbatas-, latihan menahan sabar, latihan menjauhi perbuatan tercela)
o        Bulan istirahat (mengistirahatkan kerja pencernaan, istirahat dari pekerjaan …karena biasanya banyak liburnya atau jam kerja dikurangin)
o        Bulan jualan (terutama jualan kurma, petasan, kue, dll)
o        Bulan penuh ibadah (dimana-mana menjumpai orang beribadah: di masjid – banyak yang tadarusan, di kantor-kantor saat istirahat banyak yang mengisi waktu dengan tilawah, dll)
 Kalau saya pribadi memaknai ramadhan ini sebagai charger. Manusia (kita akui saja) susah untuk istiqomah. Bulan ini rajin, bulan besok males. Biasanya saat ramadhan rajin… bulan setelahnya berkurang, dan semakin berkurang ketika mendekati bulan ramadhan berikutnya. Ketika ramadhan tiba, semua diperbaiki. Shalat wajib tepat waktu, shalat sunnah diperbanyak, tilawah setiap hari, penampilan juga diperbaiki. Begitu seterusnya. Dan kita acapkali berdoa agar ramadhan kali ini lebih baik dari ramadhan sebelumnya. Betul-betul seperti charger ramadhan itu. Mengisi kekosongan ibadah dan ruhiyah. Jika mengisinya dengan benar, di akhir ramadhan ruhiyahnya akan terisi penuh dengan kebaikan.

 Bisa kita bayangkan kalau bulan seperti ramadhan ini tidak hadir setiap tahun? hanya terjadi satu kali dalam sepuluh tahun misalnya. Kualitas ibadah kita akan semakin merosot dan baru diperbaharui lagi setelah 10 tahun.  10 tahun? Lama sekali ya? Sementara dalam hitungan 1 tahun itu saja banyak yang bisa tejadi. Apalagi 10 tahun.
 Saat ramadhan begini, ibadah rasanya nikmat sekali. Semua ingin dikerjakan. Sampai yang sunnah (yang biasanya mungkin jarang dikerjakan) juga dikerjakan. Saya sempat terkesan dengan salah satu teman, yang biasanya  kalau shalat cepat sekali, bulan ramadhan ini shalatnya agak lama, ditambah shalat sunah lagi. Kita yang biasa tilawah Al-qur’an mungkin hanya 2 lembar sehari (itu sudah mengeluh lelah), bisa menyelesaikan 1 juz. Shalat malam yang biasanya terasa berat, bisa dengan ringan dilakukan. Subhanallah.
 Sayangnya bulan ini akan segera berakhir hanya dalam hitungan hari. Banyak yang bersuka ria menyambut hari kemenangan itu dan bersorak meninggalkan bulan ramadhan. Seperti habis melepaskan satu beban.Tapi tak sedikit yang justru menganggap saat-saat ini justru saat yang paling menyedihkan. Sedih akan kehilangan syahdunya ramadhan.
 Saya bisa merasakan kesedihan itu, di lingkungan tempat saya tinggal. Masjid-masjid tak akan lagi diramaikan suara tadarusan ibu-ibu di siang hari, tak akan ada lagi anak-anak TPA yang girang saat waktu menjelang maghrib, orang-orang yang bersegera ke masjid untuk melaksanakan shalat tarawih (yang tidak biasa ke masjid juga ikut memenuhi masjid), suara bapak-bapak tadarusan setelah tarawih, kultum dari para asatidz saat tarawih, kultum ba’da shubuh. Ah, semua itu akan pergi. Begitu cepatnya. Begitu saja.
 Ada satu pemandangan yang menyejukkan di setiap bulan ramadhan. Banyak para muslimah yang biasanya mengumbar aurat, lebih berpakaian sopan dan bahkan memakai kerudung.  Saya senantiasa berharap, diantara mereka ada yang tidak melepaskannya meskipun ramadhan berlalu. Ada yang bertahan tapi adapula yang tidak. Usai ramadhan kerudungnya disimpan kembali ke dalam lemari dan penampilan kembali seperti sedia kala.
 Seandainya setiap bulan adalah bulan ramadhan. Ya Allah pertemukanlah kami dengan ramadhan tahun depan.





Karena Setiap Anak Terlahir Membawa Cinta

4 10 2007

Dulu (ya… sekitar 4 tahun yang lalu), saya ingin sekali punya banyak anak. Salah satu alasannya “agar tidak gelisah kalau salah satunya sakit”. Alasan ini mempunyai arti yang lebih dalam, yakni agar jika salah satu dipanggil Sang Pemilik saya tidak merasakan sedih yang berkepanjangan. Pemikiran ini bermula ketika salah seorang teman kehilangan anaknya yang nomor dua, sementara dia hanya memiliki 2 anak (sebagaimana anjuran pemerintah). Tampak sekali kesedihan yang sangat terpancar dari wajahnya. Saya berpikiran mungkin dia tidak akan sesedih itu kalau saja anaknya banyak.
Desember 2004 anak saya yang kedua lahir. Saya teringat kejadian  itu. Kemudian saya menimbang-nimbang. Dari kedua anak saya ini mana yang akan menimbulkan rasa lebih berat jika salah satunya dipanggil oleh-Nya? Jawabannya? Sama beratnya. Meskipun kenyataannya salah satunya lebih cerdas, lebih lincah, lebih lucu atau lebih sehat dari yang lain. Rasa kekhawatiran itu mempunyai kadar yang sama. Masing-masing mereka mempunyai cara yang berbeda dalam menyenangkan hati kami, orang tuanya.
Bulan Mei tahun ini lahir anak yang ketiga. Pertanyaan yang sama berkelebat lagi di kepala saya. Jawabannya? Tetap sama. Berapapun banyaknya anak yang kita punya rasa berat akan sama rasanya, bilamana salah satunya harus berpulang kepada-Nya. Karena setiap anak terlahir membawa cinta.
Setiap anak berbeda. Mereka memiliki tempatnya masing-masing di hati kami. Ada saja kelebihan yang dimiliki setiap anak. Ketika suatu hari salah satu dari mereka bertingkah tidak sesuai dengan kehendak kami, dan sesaat membuat kami marah, itu sama sekali tidak menyurutkan rasa sayang kepadanya. Ketika salah satunya sakit, gelisah yang dirasa sama manakala yang lain mengalami hal yang sama. Saya seringkali bingung ketika harus menghadiri sebuah acara dan tidak memungkinkan membawa ketiganya. Saya berpikir lama sekali untuk memutuskan siapa yang akan saya bawa pada acara itu.

Maha Suci Allah yang telah menghadirkan rasa cinta ini.