Ramadhan yang Akan Pergi

10 10 2007

Ramadhan… bagi setiap orang memiliki makna yang berbeda2.
Ada yang menjadikannya sebagai:
o        Bulan pelatihan (latihan hidup susah -makan minum terbatas-, latihan menahan sabar, latihan menjauhi perbuatan tercela)
o        Bulan istirahat (mengistirahatkan kerja pencernaan, istirahat dari pekerjaan …karena biasanya banyak liburnya atau jam kerja dikurangin)
o        Bulan jualan (terutama jualan kurma, petasan, kue, dll)
o        Bulan penuh ibadah (dimana-mana menjumpai orang beribadah: di masjid – banyak yang tadarusan, di kantor-kantor saat istirahat banyak yang mengisi waktu dengan tilawah, dll)
 Kalau saya pribadi memaknai ramadhan ini sebagai charger. Manusia (kita akui saja) susah untuk istiqomah. Bulan ini rajin, bulan besok males. Biasanya saat ramadhan rajin… bulan setelahnya berkurang, dan semakin berkurang ketika mendekati bulan ramadhan berikutnya. Ketika ramadhan tiba, semua diperbaiki. Shalat wajib tepat waktu, shalat sunnah diperbanyak, tilawah setiap hari, penampilan juga diperbaiki. Begitu seterusnya. Dan kita acapkali berdoa agar ramadhan kali ini lebih baik dari ramadhan sebelumnya. Betul-betul seperti charger ramadhan itu. Mengisi kekosongan ibadah dan ruhiyah. Jika mengisinya dengan benar, di akhir ramadhan ruhiyahnya akan terisi penuh dengan kebaikan.

 Bisa kita bayangkan kalau bulan seperti ramadhan ini tidak hadir setiap tahun? hanya terjadi satu kali dalam sepuluh tahun misalnya. Kualitas ibadah kita akan semakin merosot dan baru diperbaharui lagi setelah 10 tahun.  10 tahun? Lama sekali ya? Sementara dalam hitungan 1 tahun itu saja banyak yang bisa tejadi. Apalagi 10 tahun.
 Saat ramadhan begini, ibadah rasanya nikmat sekali. Semua ingin dikerjakan. Sampai yang sunnah (yang biasanya mungkin jarang dikerjakan) juga dikerjakan. Saya sempat terkesan dengan salah satu teman, yang biasanya  kalau shalat cepat sekali, bulan ramadhan ini shalatnya agak lama, ditambah shalat sunah lagi. Kita yang biasa tilawah Al-qur’an mungkin hanya 2 lembar sehari (itu sudah mengeluh lelah), bisa menyelesaikan 1 juz. Shalat malam yang biasanya terasa berat, bisa dengan ringan dilakukan. Subhanallah.
 Sayangnya bulan ini akan segera berakhir hanya dalam hitungan hari. Banyak yang bersuka ria menyambut hari kemenangan itu dan bersorak meninggalkan bulan ramadhan. Seperti habis melepaskan satu beban.Tapi tak sedikit yang justru menganggap saat-saat ini justru saat yang paling menyedihkan. Sedih akan kehilangan syahdunya ramadhan.
 Saya bisa merasakan kesedihan itu, di lingkungan tempat saya tinggal. Masjid-masjid tak akan lagi diramaikan suara tadarusan ibu-ibu di siang hari, tak akan ada lagi anak-anak TPA yang girang saat waktu menjelang maghrib, orang-orang yang bersegera ke masjid untuk melaksanakan shalat tarawih (yang tidak biasa ke masjid juga ikut memenuhi masjid), suara bapak-bapak tadarusan setelah tarawih, kultum dari para asatidz saat tarawih, kultum ba’da shubuh. Ah, semua itu akan pergi. Begitu cepatnya. Begitu saja.
 Ada satu pemandangan yang menyejukkan di setiap bulan ramadhan. Banyak para muslimah yang biasanya mengumbar aurat, lebih berpakaian sopan dan bahkan memakai kerudung.  Saya senantiasa berharap, diantara mereka ada yang tidak melepaskannya meskipun ramadhan berlalu. Ada yang bertahan tapi adapula yang tidak. Usai ramadhan kerudungnya disimpan kembali ke dalam lemari dan penampilan kembali seperti sedia kala.
 Seandainya setiap bulan adalah bulan ramadhan. Ya Allah pertemukanlah kami dengan ramadhan tahun depan.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: