PAPUQ KORAN

19 10 2007

Papuq koran

Setiap pagi (kecuali Hari libur Nasional), sekitar pukul 07.30 ada laki-laki tua yang lewat dan berseru “koran koran…”. Begitu melintas di depan rumah kami, dia akan berhenti dan mengucapkan salam khasnya “Assalaamu’alaikuuuuum”. Dari dalam saya akan meminta  si abang (anak nomer dua) untuk mengambilkan korannya. Dengan membawa uang Rp. 3.000,- dia keluar, memakai sendal, mengambil ancang-ancang….. “DAR!”. Dia mengejutkan si papuq tadi. Dan papuq itu berlagak seperti orang yang kaget. “Uah…. Kaget papuq…. Ditembak….” Anak saya tertawa senang, kemudian mengambil koran, membayarnya, dan menyerahkannya pada saya. Begitu setiap pagi. Saya selalu mengintip dari jendela dan mengamatinya. Setiap mendengar anak saya memakai sendal, papuq itu akan membalikkan badannya seolah-olah tidak tahu kalau anak saya datang dan terjadilah kejadian seperti yang saya ceritakan di atas. Tulus sekali dia melakukan itu untuk anak saya. Simpel memang. Tapi itu tampak sangat mengesankan bagi si abang.
Ada lagi, setiap menyerahkan korannya, papuq itu selalu berkata. Ini dia calon sarjana. Dari dalam saya selalu mengaminkan perkataannya. Saya menganggapnya sebagai do’a. Setelah menerima uang dari abang, papuq itu akan berucap “Alhamdulillah, syukur.” Mungkin itulah yang membuat si papuq selalu terlihat santai, tenang, ceria, tanpa beban. Karena dia senantiasa mensyukuri apa yang didapatnya. Kalau dipikir-pikir, berapa yang didapat dari setiap 3000 harga koran itu.
Kita, yang mungkin berpenghasilan lebih dari papuq koran tadi, kadang suka lupa bersyukur. Bahkan ketika gaji (yang nilainya pasti jauh lebih banyak dari 3000) masuk ke rekening kita lupa mengucapkan hamdalah sebagai tanda syukur lewat lisan. Karena menganggap hal itu biasa. Kadang saya suka jumpai orang-orang yang pada saat gajian berujar: “Ah, baru gajian tapi uangnya sudah habis, dibagi sana-sini.” Inilah yang disebut “Banyak tapi tidak berkah”.
Kali ini sebuah pelajaran bagus didapat dari seorang kakek penjual koran. Bagaimana cara dia menyenangkan anak kecil dan bagaimana cara dia bersyukur. Patut kita tiru.
Oya, sebutan papuq koran itu berasal dari bahasa Sasak. Papuq = kakek/ nenek. Karena si papuq itu setiap pagi berjualan koran, jadilah kami menyebutnya papuq koran.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: