Muslimah Gak Boleh Renang Nih?

27 01 2008

Pagi yang cerah. Sesuai janji pada Luqman, hari ini kami  pergi berenang di sebuah hotel di tengah kota Mataram. Hotelnya cukup bergengsi. Tiket masuknya lumayan mahal dibanding tempat lain yang biasa kami datangi. Tapi, ya tidak apalah sekali-sekali.

Begitu masuk ke area hotel saya bertanya pada resepsionis dimana saya bisa membeli tiket. Maklum, ini kali yang pertama kami. Dia menunjuk ke kolam renang, ”Langsung disana mba.”

Maka kami berenam (saya, suami, 3 anak dan nyai) langsung menuju ke arah yang ditunjuknya. Setelah membayar tiketnya, kami (saya, Luqman dan Syamil) langsung byur.

Ketika asyik-asyiknya berenang, si penjaga mendekati saya dan berkata, ”Bu gak boleh pake celana panjang, minimal pake celana pendek.”

What????

Dengan menunjukkan pakaian yang saya kenakan saya bilang, ”Ini baju renang Mas.”

Dia masih keukeuh, ”Disini gak boleh pake celana panjang Bu.”

Saya juga keukeuh, ”Tapi kan ini pakaian renang.”

Ibu-ibu yang berenang di dekat saya agak membela saya. Katanya, ”Itu baju renang muslim.”

”Nanti saya bilang dulu.” Kemudian dia pergi. Entah dia mau bilang ke siapa. Yang dimasalahkan olehnya celana saya yang panjang. Bukan jilbabnya. Maunya dia bagaimana? Saya pakai celana pendek? Aneh kan, masa kepala berjilbab betisnya kelihatan. Memangnya saya mau ngelenong?

Dari jauh suami saya mendengarkan lalu kemudian dia duduk dan menulis. Saya sudah bisa menebak apa yang akan dia tulis. Sementara saya masih melanjutkan renang sebentar. Si pegawai tadi mondar-mandir sambil memperhatikan. Tak tahu maksudnya apa.

Risih diperhatikan begitu saya beranjak dari kolam dan mendekati suami. Benar tebakan saya, dia sedang menulis kritikan kepada manajemen hotel. Intinya, kami berenang disitu bayar sebagaimana orang lain yang berenang disitu juga bayar. Ketika sedang asyik berenang salah satu pegawai yang bertugas di kolam situ menegur saya yang memakai celana panjang. Kami adalah orang muslim yang berusaha mengikuti aturan syari’ah. Tetap menutup aurat meski sedang berenang. Apa yang salah dengan itu? Apakah seorang muslimah berjilbab tidak boleh berenang disitu?

Kami sering berenang di tempat lain dan pernah berenang di tempat yang lebih berkelas dari hotel itu, dengan pakaian renang yang sama yang saya kenakan tadi. Tidak pernah ada teguran. Mereka bisa maklum. Dan saya bisa berenang dengan tenangnya.

Ketika berganti pakaian, saya sempatkan membaca tulisan yang berisi aturan berenang.

”Harap memakai pakaian renang. Tidak memakai kaus oblong dan pakaian selain pakaian renang.”

Waktu saya membeli pakaian renang di sebuah toko, saya berakad dengan penjualnya ’membeli pakaian renang muslimah.’ Hanya ditambah muslimah saja. Tapi tetap pakaian renang. Sekali lagi, apa yang salah dengan itu? Hanya memang penampakannya tangan panjang, roknya panjang, pakai celana panjang, pakai jilbab. Kainnya ya sama dengan kain pakaian renang yang biasa. Ah.

Kasihan orang yang sudah kreatif menciptakan pakaian renang muslimah ini.  Tidak dihargai, terutama oleh pegawai yang menegur saya tadi.  

Oh ya. Ibu-ibu yang berenang di dekat saya tadi itu malah tidak memakai pakaian renang. Benar dia bercelana pendek, tapi berkaus oblong. Tapi herannya kenapa tidak ditegur? Padahal sudah jelas dia menyalahi aturan yang berlaku.

Kalau si pegawai tadi adalah non muslim sepertinya dia harus belajar menghargai aturan agama lain. Kalau ternyata dia adalah seorang muslim, Masya Allah….

Benarlah hadits Rasulullah bahwa suatu saat orang-orang Islam yang berusaha mengikuti syari’ah Islam akan terlihat aneh. 





Jeleknya Kita Saat Marah

23 01 2008

mousemad.gif Pernah marah? Pernah bercermin saat marah?Saya baru saja melakukannya tadi pagi dan ini yang pertama kali saya melakukannya (bercerminnya).

Ceritanya Luqman baru pulang shalat shubuh di masjid. Dia minta izin untuk bermain diluar, saya izinkan. Tapi dia bingung, mau main dengan siapa. Saya usulkan untuk menelpon Firzi temannya. Dia setuju. Tapi telponnya tidak ada yang menjawab. Dia mulai marah. Maklum, kalau pagi-pagi memang cepat sekali amarahnya (dan umminya) naik.

“Trus Kakak main dengan sapa dong?”

“Ya main aja dulu sendiri, nanti kan ada yang keluar”

“Gak mau”

“Ya udah, kalo gitu main di rumah aja” (mulai tinggi nadanya)

“Gak mau”

”Kakak  maunya apa?”

Mulai deh, dahi berkerut, mata melotot.

”Ok. Kakak, kakak putuskan saja sendiri, kalo gak mau dengerin ummi.” (Gini deh kalau bangun tidur tidak berdoa, senewen aja bawannya, sulit berkompromi)

Luqman semakin marah.

”Gak mau! Gak mau putuskan sendiri! Kakak maunya diurusin ummi……” *Nangis kenceng*

Dalam kondisi muka marah saya masuk kamar, pas menghadap cermin. Masya Allah… Gak ada bagus-bagusnya… Menakutkan… Dahi berkerut, alis terpaut, mata melotot, hiiiy…

Pelan-pelan saya lepaskan kerutan di dahi, sipitkan mata, Alhamdulillah… tampak lebih baik. 

Saya juga pernah jalan-jalan di sekitar rumah. Ketika melewati satu rumah ada seorang ibu menjewer telinga anaknya dengan mata melotot…. Saya langsung menunduk, khawatir si ibu malu. Bagaimana rupa si ibu itu? Kurang lebihnya sama dengan wajah di cermin yang saya lihat tempo hari 😦 

Keep smiling….





Abang disini Mi

15 01 2008

dsc00864.jpg

Syamil (si abang), sayang sekali sama adiknya. Saking sayangnya kalau mencium sampai membuat si adik kegerahan, dan menangis, kadang-kadang sampai terjatuh. Kalau sudah begitu, orang dewasa yang ada di dekatnya (ummi, abi, nyai, bibi) otomatis berteriak. ”Abang, diapain.”Biasanya dia akan jujur, ”abang cium,” atau ”abang dorong.” 😀

Selalu begitu… setiap adiknya terjatuh selalu yang ditanya si abang (karena ia memang sering jadi penyebabnya). Lama-lama kasihan juga melihat dia disalahkan terus, yang tentunya ini bukan hal yang baik bagi perkembangan jiwanya. Kami sadar akan hal ini, namun kadang suka latah bilang ”Abang…” saat adiknya terjatuh. Terutama bibi (khadimat kami). Kalau kami masih bisa menahan diri.

Suatu hari, si adik terjatuh dan menangis, belum sempat ada yang teriak, abangnya sudah teriak duluan, ”Abang disini mi…!” dengan wajah penuh kemenangan. Maksudnya dia berada di tempat yang jauh dari sang adik dan bukan dia yang menjatuhkannya.  

U….. kasihan abang. Setelah meletakkan adiknya yang sudah diam (tidak menangis lagi), saya langsung memeluk si abang. Saya ungkapkan permintaan maaf, karena selalu menyalahkan dia. Kasihan anakku. Tak cukup rasanya pelukan dan ciuman menebus rasa bersalah padanya. Itu jadi pelajaran buat kami. Selanjutnya, kami tidak pernah menyalahkannya lagi. 

Kita (siapa saja), terbiasa mencari kambing hitam atas sebuah kejadian. Harus selalu ada yang dipersalahkan.  Benar, bahwa di dunia ini ada hubungan sebab akibat. Tapi kadang dalam mencari sebabnya terkesan memaksa. Malangnya kalau orang yang tidak bersalah yang dijadikan sebab.

Piring di rumah pecah, ”Bibi tidak hati-hati sih…”

Seseorang yang meninggal karena tabrakan, ”Dia sih ngebut….”

Ada saja.

Kalau kita mau berlapang dada dan mengembalikan semuanya kepada Allah, bahwa Dialah yang menghendaki semua itu terjadi, insya Allah tidak akan ada beban yang menggelantung di hati. Tak perlu sampai berlebihan menyalahkan orang (yang mungkin melakukan kesalahan karena khilaf atau tidak sengaja), hingga orang tersebut merasa sangat terpojok. 

Ketika kami sedang berlibur di rumah neneknya anak-anak di Samarinda, ada sebuah kabar bahwa tetangga disana ada yang meninggal di perjalanan dari Balikpapan menuju Samarinda. Mobil yang dikendarainya tertimpa pohon yang tiba-tiba tumbang.

Coba pikirkan, siapa yang salah? Apakah dia yang tidak berhati-hati?  

Tumbangnya pohon tersebut tidak ada hubungannya dengan kehati-hatiannya. Pohon itu tumbang tepat ketika mobil itu melintas di bawahnya, tepat mengenai atap mobil yang berada di atas kepalanya.

Masya Allah…. Hanya dalam hitungan detik. Kalau dia lebih cepat beberapa detik saja, mungkin pohon itu tidak menimpa kepalanya. Tapi Dialah Allah yang menghendaki itu semua terjadi. 

Berhati-hati… tetap harus diusahakan. Tetapi ketika usaha itu sudah dilakukan, hanya kepada-Nyalah kita kembalikan urusan.

”Allah mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka. Dan hanya kepada Allah dikembalikan semua urusan.” (22:76). 

Lalu, apa hubungannya dengan Syamil ya? J

Maksud saya, dari pengalaman dengan Syamil itu, mari kita kurangi mencari-cari kambing hitam, menyalahkan orang lain (yang belum tentu salah), stop blaming it on something/ someone deh (jadi inget lagu ’Blame it on the rain’).





Begini Lho Masalahnya

11 01 2008

picture-076.jpg

Dalam hal pendidikan anak, saya dan suami mencoba mengikuti nasehat para psikolog anak untuk mengajari anak berdiskusi setiap ada masalah atau ketika dia mempunyai sebuah keinginan. Kami selalu memulai kalimat diskusinya dengan: ”Begini lho masalahnya Kak, ummi dan abi… dst”.

Ternyata kalimat itu sudah melekat di kepalanya, dan terkadang dia pergunakan saat harus bicara dengan adiknya. Suatu hari abinya akan pergi mabit (menginap di masjid atau suatu tempat dalam rangka peningkatan iman dan takwa). Luqman ingin sekali ikut. Biasanya dia memang sering ikut, tetapi kondisi malam itu hujan cukup deras dan lokasinya cukup jauh. Dia ngotot tetap ikut dan berusaha meyakinkan bahwa dia akan baik-baik saja disana. Akhirnya dia kami izinkan ikut dengan catatan tidak akan berada jauh dari abinya.

Mendengar sang kakak ikut, si  abang jadi ingin ikut juga. Tidak perduli dengan penjelasan kami, pokoknya tetap ingin ikut. Tiba-tiba Luqman meraih pundak adiknya yang baru berusia 3 tahun itu. Wajahnya dihadapkan ke wajahnya. ”Begini lho masalahnya Bang, kalo abang ikut, siapa nanti yang jaga umi. Abang di rumah dulu ya, jagain ummi. Nanti kalo sudah 7 tahun abang boleh ikut juga.”  Si abang mengangguk pasrah.

Hmmmmmmm…..Tidak tahu juga bagaimana awalnya, tapi abang memang lebih mudah menurut apa kata kakaknya.

Tadi malam si abang terpeleset di belakang, menangis sebentar. Sewaktu ditanya bagaimana jatuhnya dia menjawabnya begini, ”Begini lho masalahnya ummi, abang itu cuci tangan, trus kakinya terangkat.”???????

Akhirnya dia juga menggunakan kalimat ”Begini lho masalahnya.”

Benar, kalau ada yang bilang anak itu adalah peniru ulung. Itulah mengapa kita harus memilih kata-kata yang baik saat berkomunikasi dengan mereka.





Mengatasi Masalah Dengan Masalah

7 01 2008

Kalau pegadaian punya motto, ‘mengatasi masalah tanpa masalah’, saya punya motto sebaliknya, ‘mengatasi masalah dengan masalah’. Maksudnya?Semua manusia yang bernyawa pasti punya masalah. Kadang masalah yang dihadapi tidak hanya satu, bahkan tak jarang masalah yang datang bertubi-tubi. Bagaimana kita menghadapi masalah tersebut sepertinya bergantung pada pribadi masing-masing. Ada yang menyelesaikannya dengan clubbing, dancing, shopping, eating, sleeping, reading, writing, singing, talking (curhat), jogging (masa iya?). Nah, saya punya cara jitu yang lainnya, yaitu tadi, menyelesaikan masalah dengan mendengarkan masalah orang lain. Bahasa ’ing’nya apa ya? Hearing? duh, kaya lagi kasus perusahaan dengan SPSI aja.Suatu ketika, saya pernah punya masalah yang kompleks, tiba-tiba sms berbunyi,”Bu, punya waktu gak?” Ternyata dari salah satu adik binaan saya. Mencoba tegar atas masalah sendiri, saya jawab setiap masalah yang dia keluarkan. Dia tahu tidak ya? kalau dia sedang curhat dengan saya yang sedang punya banyak masalah, bahkan lebih rumit dari yang dia sedang kemukakan. Rasanya tidak. Dan dia memang tidak perlu tahu. Yang terpenting adalah mendapati dia kemudian dengan wajah yang ceria, karena hatinya sudah tenang. Ternyata, dengan mendengarkan curhat orang lain dan mencoba membantu mencari pemecahan atas masalah mereka, pikiran saya malah jadi tenang. Plong. Apalagi ketika mendengarkan masalah orang lain yang lebih berat dari saya, seketika itu juga saya merasa tidak sendiri, tidak punya masalah sendiri saja, masih banyak orang lebih bermasalah dari saya. Itulah kenapa meski sedang bertumpuk masalah saya tidak akan menampik orang lain yang akan curhat. Curhat, yang paling nyaman adalah memang kepada Allah. Pasti terjamin kerahasiaannya. Namun, kadang dalam hidup kita tetap butuh orang lain yang mau mendengarkan kita. Saya pribadi, setelah kepada suami juga punya tempat curhat yang insya Allah terjaga kerahasiaanya. Kadang ketika dia juga curhat ke saya, saya jawabnya dengan curhat J Seperti jeruk minum jeruk.Untuk yang saya maksud (tahulah dirimu). Terima kasih ya, mau menampung segala keluhanku.





Saat Harus Menyapih

3 01 2008

im000237.jpg

….. Tulisan ini saya buat 1 tahun yang lalu, ketika Syamil, anak kami yang kedua berusia 2 tahun……..

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang makruf. ……” [2.233] 

Membaca sekilas terjemahan ayat di atas tampak sepele bagi sebagian kita. Mudah kiranya menyusukan anak selama dua tahun dan mudah pula menyudahinya. Tapi nyatanya semua tak semudah yang dibayangkan. Banyak para Ibu yang mengeluh karena air susunya tidak keluar atau si anak enggan menyusu. Tak sedikit pula yang sengaja menghentikannya karena alasan kesibukan, kemalasan atau kekhawatiran akan berkurangnya kemolekan bentuk tubuh bagian atas. Untuk alasan yang terakhir ini kurang dapat diterima, karena beberapa pakar laktasi berulang kali menyampaikan bahwa bentuk tubuh bagian atas wanita berubah bukan karena proses menyusui tetapi karena proses mengandung.

Sungguh disayangkan. Kalau saja para ibu itu tahu betapa nikmatnya menyusukan bayinya sendiri sampai usia 2 tahun, mereka tidak akan mau [menyengaja] menghentikan pemberian ASI yang dikenal dengan istilah menyapih itu.

Inilah yang beberapa hari belakangan ini menyiksa bathin saya. Anak saya yang kedua sudah memasuki usia 2 tahun.  Itu artinya dia akan segera disapih.

Menyapih ternyata juga bukan hal yang mudah. Banyak cerita menarik tentang usaha sang ibu untuk menghentikan proses menyusui ini. Ada yang mengolesi dadanya dengan lipstik, obat merah, minyak kayu putih, pil kina bahkan balsem. Ada juga yang mendatangi ’orang pintar’ untuk meminta bantuan agar si anak mau berhenti menyusu.

Alhamdulillah saya termasuk yang diberi kemudahan oleh Allah. Untuk anak yang pertama saya tidak perlu mengolesi dada dengan apapun  apalagi meminta bantuan ’orang pintar’. Dia cukup saya beri pengertian bahwa ’miminya’ sakit. Berbohong? Tidak, karena saat itu memang luka karena digigitnya. Semalaman memang dia mengamuk karena belum terlalu paham, tetapi keesokan harinya dia sudah bisa tertidur tanpa menyusu.

Menyapih anak kedua lebih mudah lagi. Saya hanya cukup mengatakan bahwa ’miminya’ habis dan kebetulan produksi air susu saya memang sudah sangat berkurang. Dia bisa menerima tanpa amukan seperti kakaknya dahulu. Dia mencoba untuk tidur sendiri.

Tetapi justru hati saya tersentuh melihat kesabarannya dan usahanya untuk memenjamkan mata tanpa menyusu. Padahal saya tahu begitu besar cintanya dia akan aktivitas menyusu ini. Perlahan saya dekap tubuhnya dan mencoba menyenandungkan nasyid perjuangan yang dia sukai. Diapun terlelap. Tanpa saya sadari butir-butir hangat menyentuh pipi saya, mata saya terasa panas. Saya tidak kuat menahan air mata haru untuk tidak keluar. Terbayang bahwa tidak akan ada lagi rengekan manjanya meminta ASI, yang kadang dia minta walau dia tidak haus. Terbayang juga betapa nikmatnya melihat dia menghilangkan rasa dahaganya dengan menyusu sambil mendekap tubuh saya.
Menyusui memang salah satu bagian terindah dari  pengalaman membesarkan anak. Masa itu tidak akan terganti dan tidak akan pernah kembali. Tetapi ada saatnya menyusui harus diakhiri. Mental dan fisik harus dipersiapkan untuk menghadapi ini. Semoga kita semua senantiasa diberi kemudahan oleh Allah untuk melaluinya.

Foto di atas waktu Abang Syamil berusia 1 tahun 6 bulan