Bagiku Dialah Sang Juara

28 02 2008

Ada satu keunikan Luqman yang lain, yang ingin saya bagi disini. Dia paling enggan ikut lomba 

Saat 17 Agustusan, saat anak-anak lain berlomba–lomba ikut ini ikut itu, dia asyik main dengan teman-temannya. Hanya satu lomba yang berkenan diikutinya, sepeda hias. Beberapa kali menang, tapi hakikinya bukan dia yang menang, karena yang menghias adalah abinya.

Saya, sejak tahun 2002 terlibat di TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an) dan juga menjadi pengelola ASMA (Adil Sempoa Mandiri) di lingkungan tempat kami tinggal. Saya sering mendampingi anak-anak TPA dan ASMA mengikuti berbagai lomba. Sebagai seorang wanita yang sudah menjadi ibu,  terbesit keinginan untuk dapat mendampingi anak sendiri yang ikut lomba. Tapi, ya itu tadi, Luqman paling tidak mau ikut lomba.

Kalau soal memotivasi, sudah sering saya lakukan. Segala macam usaha juga sudah saya coba. Dari yang mengajak dialog sampai yang “agak memaksa”.

Suatu ketika, tahun 2005, TPA mengadakan lomba khusus santri yang belajar disitu. Mulai lomba mewarnai hingga lomba menghapal surah pendek. Dari sekian banyak mata lomba, tak satupun yang berkenan diikuti Luqman. Saya dan suami membujuknya agar dia mau ikut. Terus terang, di hati ada rasa tidak nyaman. Semua anak TPA ikut berpartisipasi, tapi Luqman (anak salah satu pengurus TPA) berkeras tidak mau ikut. Saya mulai tidak sabar. Saya katakan dia tidak boleh bermain selesai lomba itu. Dia tak perduli, tetap tidak mau ikut lomba.

Malamnya saya menyesali sikap saya. Saya sadar sudah melakukan sebuah kesalahan besar, dan berjanji dalam hati tidak akan mengulanginya lagi. Memaksakan kehendak kepada anak bukanlah cara mendidik yang baik. Mungkin masih ingat postingan tentang “Anak Nomor Satu”.

Ketika kemudian lomba-lomba yang berdatangan silih berganti, Luqman tetap pada pendiriannya, tidak mau ikut lomba. Saya tidak berhenti memotivasi, tapi sangat menghindari memaksanya. Hingga di sebuah perlombaan 17 Agustus yang diselenggarakan warga perumahan, tanpa dipaksa Luqman akhirnya mau juga ikut lomba menggambar. Hanya itu. Dia belum mau ikut yang lainnya. Ya, tak apa.  Bagi saya itu sebuah kemajuan.

Hari Sabtu lalu, TPA turut serta dalam FASI (Festival Anak Shaleh Indonesia) VII se Lombok Barat. Luqman ditunjuk untuk mengikuti lomba tartil, mewakili TPA al-Muhajjirin. Saya sudah mempermaklumkan kepada gurunya, jangan kecewa jika nanti Luqman tidak mau maju, sebagaimana biasanya. Gurunya paham.

Malamnya, saya ajak dia bicara. Jika dia memang tidak mau ikut lomba, saya minta dia bilang saat itu juga agar gurunya bisa mencari santri yang lain. Tapi apa katanya: “Kakak mau ikut Mi.” Saya menangkap kesungguhan di wajahnya.

Maka ketika hari itu tiba, berangkatlah rombongan kami menuju lokasi acara. Luqman terlihat percaya diri, tapi masih ada sedikit keraguan di hati saya, apakah dia benar-benar akan maju saat lomba. Sambil menunggu gilirannya tiba, saya terus berdo’a kepada Allah agar menghadirkan keberanian itu dalam dadanya. Saya lirik orang-orang di sekitar, beberapa dari mereka juga tampak berdo’a. Tapi mungkin do’a kami berbeda. Jika mereka berdo’a agar bisa menang, maka do’a saya memohon agar dia berani maju.  Memikirkan itu, bibir saya menyungging senyum.

Ketika giliran tinggal tiga anak lagi, Luqman berasa mau BAK. Saya membaca gelagat, sepertinya tanda-tanda dia tak ingin maju. Kemudian saat giliran tinggal satu anak lagi, dia kebelet BAB. Masya Allah. Gugupkah dia? Dan ketika namanya dipanggil, gurunya meminta untuk dilewati dulu. Alhamdulillah bisa. Selesai BAB, Luqman kembali ke arena lomba. Dan ketika nomor undinya dipanggil, dengan pasti dia melangkah ke depan, duduk, meletakkan alQur’an, dan memulai membaca surah al-Isra’ ayat 1 dan seterusnya. Rasa haru terasa memenuhi dada saya. Tak percaya, bahwa yang sedang duduk di tengah masjid itu adalah Luqman, anak saya, yang selama ini menolak ikut lomba. Saya mengucap syukur yang tak terhingga kepada Allah yang telah mengabulkan do’a saya.

Tak perlu menunggu pengumuman. Bagi saya dialah sang juara. Esoknya dia langsung dibelikan sepatu sendal merk carvil  yang selama ini diidamkannya oleh abinya.  Keinginan kami (saya dan abinya) bukanlah melihat dia maju dan menerima hadiah sebagai juara 1, tapi menyaksikan dia melawan rasa tidak percaya dirinya dan berani tampil ke depan. 

Ada sebuah pelajaran berharga: Jangan pernah memaksa anak mengikuti kemauan kita. Yang terpenting adalah bagaimana memotivasi dan bersabar, karena setiap anak membutuhkan waktu yang berbeda dalam menemukan keberaniannya.

luqman.jpgpicture-246.jpg





Dia, dan anak-anak itu…

22 02 2008

picture-146.jpg picture-219.jpg

Dan dia telah pergi… pada pukul 12.45, hari Kamis 21 Februari 2008. Sahabat yang sudah saya anggap sebagai adik sendiri, setelah 5 hari terbaring tak sadarkan diri di ruang ICU RSU. ZAT yang paling berhak atasnya telah memanggilnya kembali.

Dan dia telah begitu banyak meninggalkan hikmah di balik kepergiannya, yang bagi kami begitu tiba-tiba. Begitu banyak. Selama 5 hari kami bolak-balik ruang ICU (sampai hapal denah RSU yang sebelumnya bagi saya cukup membingungkan).  Lima hari berada disana menjadi terapi tersendiri bagi jiwa-jiwa kami. Bagaimana tidak, di dalam ruang yang dipenuhi alat-alat canggih itu terbaring 7 orang manusia yang sedang berjuang antara hidup dan mati. Ada yang mempunyai masalah dengan jantung, ginjal, dsb. Ada pula yang baru saja mengalami kecelakaan. Semuanya terpampang di hadapan kami dengan kondisi yang menyayat hati. Satu orang diantaranya keluar dari ruangan itu setelah dinyatakan cukup sehat. Dua yang lainnya keluar dengan jasad yang telah terpisah dari ruh. Sahabat saya itu, keluar dengan diiringi tangis pilu sahabat yang lain dan tentu, keluarga. Sang suami begitu tegar. Allah yang Maha Rahman telah memberinya waktu 5 hari untuk menguatkan mentalnya. Ya, saudara saya itu keluar dari ruang ICU menuju kamar jenazah. Beberapa hari sebelumnya ada seorang kawan yang takut pergi ke musholla karena bersebelahan dengan kamar jenazah. Ternyata hari Kamis itu kami malah ngendon disana.  Sesaat, kesenangan duniawi hilang dari angan-angan kami. Memang, rumah sakit adalah tempat yang bagus untuk wisata mata dan hati.

Dan dia telah mengikat hati-hati kami. Berada di rumah sakit itu, saya banyak bertemu orang-orang yang luar biasa. Bertemu orang-orang yang rela meluangkan materi, tenaga, pikiran dan waktunya untuk menjaganya, memberikan semangat pada suaminya, mengurusi segala keperluannya serta mendo’akannya. Saya jadi mengenal Mba Titi’, Mba Yun, Mba Tuti, Mba Lela, Mba Ida, Pak Budi, Pak Mardin dan Bude, yang tak pernah lelah bolak-balik ke rumah sakit. Begitu pula orang-orang yang sudah lama saya kenal. Bu Isti, Bude dan Pakde Parjono, Mba Endah, Mba Titi, Mba Sinta, Mba Ulfa, Mba Leni, Mba Santi, Mba Dwi, Mba Kepi, Bu Kadir, Pak Aji, Pak Bagus. Semoga Allah membalas segala kebaikan mereka.

Dan dia telah menorehkan begitu banyak kenangan. “Mbak, lagi tidur ya…” Sapaan itu masih hangat terasa di telinga ini. Sapaan yang selalu dia lontarkan saat berkunjung ke rumah. Bagaimana saya bisa melupakan sahabat yang menunggui saya saat melahirkan anak yang ketiga melalui operasi 9 bulan yang lalu.  Dia datang tepat pukul 9, membelikan perlengkapan yang belum sempat terbeli. Menemani hingga pukul 5 sore, meninggalkan anak-anaknya di rumah. Dia yang, Ah, mengingatnya semakin membuat hati ini tersayat. Dia, yang penuh perhatian, telah dipanggil oleh Rabbnya.

Dan anak-anak itu… Dua bocah polos itu…. kini tak beribu…. Saya tak mampu menahan air mata yang sudah menggenang untuk tidak keluar. Wajah polos mereka mengingatkan saya pada ibunya. Mereka anak-anak yang tabah. Ketika akan keluar dari pintu bandara menuju pesawat, si sulung yang berusia 6 tahun bertanya, “Ibu mana?” Oh sayang… mungkin benaknya bertanya-tanya. Biasanya saat akan boarding ibunya selalu menuntunnya, tapi mengapa kali ini tidak. Dan suatu hari nanti mereka akan merasa bangga, mempunyai ibu yang telah menjemput syahidnya, insya Allah.

Selamat jalan Adikku sayang… Semoga Dia menerima semua amal baikmu, menghapuskan dosamu dan menempatkanmu di tempat yang baik.  

Namamu, senyummu, tawamu, tangismu, tingkahmu selalu ada di hatiku. Membekas disana dan tak akan pernah terganti.  Karena dirimu memang tak tergantikan.

Kutulis ini dengan penuh cinta… dan air mata…

Sesaat setelah mengantarkan jenazahnya ke bandara untuk diterbangkan ke tanah kelahirannya, Madiun. Jum’at yang basah, 22 Februari 2008. 

Ps. Kepada kawan-kawan yang sudah mendo’akan saya ucapkan beribu terima kasih.

Gambar kiri: Hariyani (alm); Gambar kanan: Pras dan Salsa (dua buah hatinya) sesaat sebelum berangkat ke Jawa bersama teman-teman yang mengantar ke bandara





Jika Sempat, Mohon Do’akan

18 02 2008

Dear all,Sementara ini saya tidak bisa sering-sering update atau kunjungi rumah kalian.

Seorang teman, yang bagai saudara bagi saya sedang terbaring tak sadarkan diri di sebuah ruang ICU Rumah Sakit Umum Mataram, sejak hari Sabtu pagi. Dia sedang mengandung anaknya yang ketiga (usia kandungan 8 pekan). Menurut cerita sang suami, malam Sabtu itu dia mengalami muntah-muntah yang hebat. Dia mengeluh sakit kepala dan dadanya. Pagi harinya dia kejang-kejang. Dibawa ke sebuah klinik bersalin. Disana dia sempat kejang berapa kali, diberi obat anti kejang dan mulai tak sadarkan diri, sampai sekarang. Tekanan darahnya bagus.

Karena tidak ada perubahan, sore harinya dipindah ke RSU. Disana dia mulai dipasangi bermacam-macam alat bantu. Hari Ahad pagi  kondisinya memburuk, harus dipasang alat bantu nafas.

Ah, begitu cepat prosesnya terjadi. Baru pekan yang lalu kami rihlah bersama di pantai Senggigi, bahkan ada seorang teman yang baru saja berbincang dengannya di telepon. Semua terjadi begitu cepat, dan sekarang saya melihatnya tanpa senyum khasnya.

Ketika hamil anak yang kedua, dia juga sempat muntah hebat, tapi waktu itu dia segera dibawa ke klinik. Ketika dulu mendapat kabar itu saya langsung menuju klinik dan saya dapati dia disana tersenyum menyambut saya. Tapi hari Sabtu kemarin sungguh berbeda. Ketika mendapat kabar dari suaminya saya juga langsung menuju klinik yang sama, saya sudah menyiapkan senyum untuknya. Namun senyum itu tak mampu saya berikan begitu saya dapati dia pun  tak tersenyum pada saya, bahkan tak mampu menatap mata saya. Matanya setengah terpejam. Dia sedang tidak sadar atau sedang tidur. Entahlah. Saya mencoba memanggil namanya tapi hanya desah nafasnya yang terdengar menjawab panggilan saya. Tak lama kemudian saya dapati dia kejang-kejang kembali. Kondisinya sangat menyedihkan. Diagnosa awal dehidrasi karena banyaknya cairan yang keluar saat muntah, tapi sampai sekian lama tidak juga terbangun? Setelah itu banyak kemungkinan-kemungkinan yang berkembang.

Saya hanya mampu memanjatkan do’a… Semoga Allah memberikan yang terbaik padanya.

Saya meyakini, BEGITU BANYAK HIKMAH YANG TERSIMPAN DIBALIK SETIAP PERISTIWA… 

Kawan-kawan… Mohon bantuan do’a ya… Kita tak pernah tahu, mungkin diantara kita ada yang keikhlasannya berdo’a diterima dan diijabah oleh Allah





First Time Visiting Library

15 02 2008

picture-052.jpg      picture-070.jpg

Selama ini kami membudgetkan buku (terutama untuk anak-anak) setiap bulan. Tujuannya, pasti, agar mereka mencintai buku, dan menjadikan buku sebagai bagian dari kebutuhan hidupnya.

Dan saya merasa cukup dengan itu (ternyata saya salah). Setiap bulan mengajak mereka ke toko buku, membeli beberapa, kemudian Luqman membaca bukunya hingga selesai, lalu saya membacakannya untuk Syamil dan Fayyadh, juga hingga selesai. Setelahnya? Menunggu kunjungan ke toko buku berikutnya.

Sampai suatu ketika, saya dan anak-anak ikut abinya menemui seseorang di perpustakaan daerah. Sambil menunggu, saya ajak anak-anak melihat buku yang ada disana. Mereka girang sekali.

Bagi Luqman itu bukan kali yang pertama, karena dia sering mengunjungi perpustakaan bersama sekolahnya. Tapi itu yang pertama mengunjunginya bersama kami, dan bebas memilih serta membaca buku yang ada disana. Dia excited sekali. Dia bingung memilih buku yang lumayan banyaknya (yang jelas lebih banyak dari yang ada di rumah). Biasanya kalau diajak kemana saja dia selalu aktif, loncat sana sini, tidak bisa diam. Tapi di perpus dia duduk dengan anteng, serius membaca buku. Sambil memandanginya saya berpikir, ‘kaya’nya harus sering-sering ajak dia kesini nih, kenapa tidak dari dulu ya?’. Saya  merasa buku-buku yang ada di rumah cukup memenuhi minat bacanya. Itulah kenapa saya katakan tadi, ternyata saya salah. Buku yang kami miliki tidak ada apa-apanya dengan buku-buku yang tersedia di perpus.

Bagi Syamil itu benar-benar yang pertama . Dia ikutan bingung memilih buku. Ambil satu, lihat sebentar, ambil yang lain, tanpa mengembalikannya. Nampaknya dia bingung, ‘Ummi! Banyak bukunya ya!’. Yang membuat dia semakin senang disana dia dapat teman baru (anak kelas VI SD) yang dengannya dia membaca buku bersama.

Terlebih bagi Fayyadh. Benar-benar first time. Matanya melihat ke segala penjuru. Sebentar-sebentar tertawa senang melihat warna yang beraneka ragam. Berkeliling mengganggu dua kakaknya yang asik dengan buku masing-masing. Ikut memilih buku (memandangi buku yang berjejer rapi). Syukurnya arena membaca bagi anak-anak di perpustakaan daerah ini sangat bersih, sehingga saya merasa aman membiarkan Fayyadh bereksplorasi.

Bagi saya dan suami, jelas bukan yang pertama, karena ketika kuliah dulu sering bolak-balik ke perpustakaan. Tetapi ini pertama kalinya bagi kami masuk ke perpustakaan daerah di Lombok.

Kesimpulan:

Sebelumnya, ketika orang-orang memasukkan perpustakaan ke dalam salah satu list kunjungan saat liburan, saya merasa aneh dengan itu. ‘Apa? Ke perpustakaan?’. Namun sepertinya saya juga akan menjadikannya salah satu tempat tujuan saat Luqman liburan nanti.

Rajin membeli buku tidak cukup menjadi alasan malas ke perpustakaan. Ternyata membaca di perpustakaan memberikan sensasi yang berbeda.

Saya pikir perpustakaan hanya ditujukan bagi para mahasiswa yang mencari referensi dsb, ternyata tidak juga.

Oya, waktu berada disana, ada beberapa siswa SD kelas VI yang sedang mengerjakan tugas kelompok. Tapi mereka terlihat lebih banyak ngobrol (sampai ditegur petugas) daripada membaca. Jadi ingat dulu, kalau ada tugas kelompok senang sekali. Mengerjakan tugasnya sedikit, lebih banyak mainnya.

Ps. Saya segera posting tulisan ini. Malu sama Ratu Tebu. Hehe….





What Women Want

8 02 2008

22661.jpg

Ini bukan tentang film yang diperankan oleh Mel Gibson dan Helen Hunt. Ini tentang kehidupan nyata.  What Women Wives Want.

Setelah membahas apa saja hal-hal yang diupayakan isteri untuk menyenangkan hati sang suami, kali ini mari kita list apa sih sebenarnya yang diinginkan para isteri dari suami. Biar imbang lah. Selain itu untuk memenuhi request Mba Icha. (Hehe… jadi inget zaman SMU dulu, waktu masih sering request lagu ke radio deket sekolah).

Dari hasil survey kecil-kecilan yang saya lakukan, para isteri itu inginnya:

1.      Suami tidak selingkuh.

Kok menempati urutan pertama? Ini faktanya (setidaknya dari sekian banyak ngobrol dengan para isteri). Hal yang paling menyakitkan bagi seorang isteri (yang telah berusaha semaksimal mungkin membahagiakan sang suami) adalah ketika mendapati si suami berselingkuh. Grhhhhhhhh…….

2.      Didengarkan.

Terutama bagi isteri yang tidak tahan lama-lama menyimpan cerita pada suami. Pernah ada seorang laki-laki yang bercerita. Setiap pulang kerja, isterinya selalu menyambutnya dengan cerita, tentang apa saja. Tidak tahu, apakah memang sudah menjadi kebiasaan para suami, saat di rumah bawaannya selalu mengantuk. Sehingga ketika isterinya sudah bercerita sekian menit, dia menanggapinya dengan suara ngorok. Ketika terbangun dia sudah tak menemui isterinya berada di sampingnya lagi, maka menyesallah ia. Rasa iba kepada isterinya merasuki hatinya. Tapi apa mau dikata. Dia pun tak mampu menahan rasa kantuknya. Semua kelelahan rasanya telah berkumpul pada puncaknya. Tak heran ada beberapa isteri yang mempunyai keinginan untuk senantiasa bisa didengarkan oleh suami. Karena sebagian suami (saya tidak menyebut semuanya) kurang mampu menjadi pendengar yang baik. Apalagi ketika sedang melakukan kegiatan tertentu seperti membaca, menulis dan terlebih saat TIDUR.  

3.      Suami mengingat hari-hari spesial

Suami lebih ingat kapan klub sepak bola kebanggannya menang saat piala dunia dari pada mengingat kapan hari pernikahan kami apalagi ulang tahunku, begitu kata seorang isteri suatu hari. Buat sebagian suami (lagi-lagi sebagian lho) hari-hari begituan gak penting buat diinget, apaan sih? Tapi buat sebagian besar isteri hal itu sangat bermakna. Ketika tiba-tiba sang suami mengajaknya dinner di tempat spesial, hanya berdua saat anniversarynya, atau sebuah surat cinta datang tepat di hari kelahirannya akan sangat membekas di hatinya.

4.      Tidak dimarahi di depan umum

Uh… Seorang isteri paling kesal kalau dimarahi atau dibentak di depan umum oleh suaminya. Tidak percaya? Silakan dicoba. Resiko ditanggung sendiri.

5.      Dibantu mengerjakan pekerjaan rumah tangga

Sudah menjadi anggapan umum bahwa pekerjaan rumah (memasak, mencuci, membersihkan rumah, mengurus anak, dsb) adalah tanggung jawab isteri. Walaupun sebenarnya dalam Islam tidak tertulis secara jelas adanya aturan tersebut. (Jika ada yang pernah menemukannya dalam al-Qur’an maupun hadits tolong saya dikoreksi). Kembali ke anggapan tadi, alangkah nikmatnya jika pekerjaan rumah tangga tersebut bisa diringankan oleh suami tercinta.

6.      Tidak berubah perhatiannya sejak awal menikah sampai memiliki anak banyak 
 

Begitulah kurang lebihnya apa keinginan wanita (baca: isteri) yang terekam oleh saya. (Jika ada yang ingin menambahkan saya akan dengan senang hati menerimanya).

Inti sebenarnya adalah sepasang suami isteri harus bisa saling memahami, mampu menangkap secara jeli apa yang menjadi keinginan dari pasangannya. Jika itu tak mampu mereka lakukan, adakan diskusi terbuka. Saling mengungkapkan keinginan maupun ganjalan yang ada.

Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki.” (Q.S. 2: 223)

Kalau seorang suami adalah petani dan isteri adalah sawah ladang. Kemudian sawah ladangnya mengering, tidak berati dia harus meninggalkannya, tetapi melakukan perawatan agar miliknya itu menjadi hijau kembali.

Saya bukan psikolog atau konsultan perkawinan, saya hanya seorang manusia yang mencoba memahami pahit manisnya kehidupan. Jika yang terungkap diatas mengandung sebuah kebenaran maka itu mutlak datangnya dari Zat yang menciptakan saya, dan jika ada kesalahan yang terselip itu benar-benar datang dari kelemahan saya sebagai makhluk ciptaan-Nya. (Sebuah disclaimer yang tertunda) 





Berbagai Cara Isteri Menyenangkan Suami

1 02 2008

1349.jpg

“Hhhhh… Ini demi suami ya mba ya… kurang ajar (maaf)….. tahu-tahu mereka selingkuh…… hhhhhh”

Kalimat itu terlontar dari lisan seorang ibu muda yang cantik. Di suatu sore, saat kami sedang sama-sama melakukan gerakan senam yang saat itu sangat berat dan melelahkan. Dia mengucapkannya di ujung tarikan nafasnya yang terengah-engah.

Saya percaya bahwa Ibu-ibu yang berada di ruangan itu, sebagian besar memiliki motivasi yang sama, ingin selalu bugar dan menarik di hadapan suami. Sampai rela melakukan gerakan-gerakan sulit yang kalau mengikuti rasa malas, ya jelas enggan melakukannya. Tapi saya menyebutkannya sebagian lho, karena saya tidak bertanggung jawab jika sebagian yang lain punya motivasi yang berbeda. Yang pasti ibu muda cantik yang berbicara dengan saya  tadi punya motivasi melakukannya untuk suami, meski ujung-ujungnya ’supaya suami tidak selingkuh’. Sebenarnya motivasi itu bisa dipermanis bila mengakhirkannya dengan kalimat ’Supaya suami senang. Bukankah wanita yang baik itu yang menyenangkan hati suami saat dipandang.’ (Kalau masalah selingkuh, bukan hanya masalah fisik saja yang bisa jadi penyebab, banyak faktor, tapi saya sedang tidak ingin membahasnya sekarang).

Lantas apa hubungannya ini dengan judul ya? Simpel saja…. Contoh diatas adalah merupakan salah satu cara isteri menyenangkan hati suami. Jika saya mengatakannya salah satu, itu berarti masih banyak cara lainnya lagi.

Setelah mengamati lingkungan di sekitar saya, ada beberapa cara yang lain. Misalnya: 

1. Berbenah diri secara rutin ke salonHal ini dimaksudkan agar senantiasa terlihat fresh di hadapan suami. Saya angkat topi (istilahnya, karena kenyataannya saya gak pake topi kan) pada isteri seperti ini selama dia memang melakukannya untuk suami. Karena bagi saya hal ini sesuatu yang berat. Berat di ongkos dan berat di waktu.

2. Memanjakan suami dengan kreasi masakannya yang lezat-lezat Terutama bagi tangan-tangan terampil yang mampu menyajikan aneka masakan. Saya punya teman yang dengan bangga bercerita kalau suaminya tidak pernah mau makan di luar. Dia hanya mau makan masakan isterinya di rumah. Berangkat ke tempat kerja pun dia usahakan membawa bekal dari rumah. Selamat deh Bu.

3. Mengatur rumahnya secantik dan seasri mungkinBegitu sang suami akan pulang, dia membersihkan dan merapikan rumahnya. Katanya, biasanya suami kalau pulang kerja cape, lihat rumah bersih jadi hilang capenya. Good job.

4. Menjadi guru bagi anaknya sendiri. Ada seorang isteri yang rutin mengajarkan ulang pelajaran-pelajaran di sekolah kepada anak-anaknya. Dan sang suami berkata, ”ah aku tak salah memilih isteri.”  Bersyukurlah bagi yang memiliki ijazah SPd.

5. Menjadi wanita karirAda type suami yang bangga kalau isterinya bekerja. Melihat sang isteri memakai stelan blazer dan sepatu high heel si suami mempunyai kepuasan tersendiri.

6. Ada juga lho yang berhenti bekerja. Total mengurus rumah tangga (memasak, mencuci, membersihkan rumah, mengurus anak-anak, dll all in), juga agar suaminya semakin cinta padanya.  

Hmmmm… apalagi ya? Ada yang mau menambahkan? Bagaimana cara anda menyenangkan hati suami?