Bagiku Dialah Sang Juara

28 02 2008

Ada satu keunikan Luqman yang lain, yang ingin saya bagi disini. Dia paling enggan ikut lomba 

Saat 17 Agustusan, saat anak-anak lain berlomba–lomba ikut ini ikut itu, dia asyik main dengan teman-temannya. Hanya satu lomba yang berkenan diikutinya, sepeda hias. Beberapa kali menang, tapi hakikinya bukan dia yang menang, karena yang menghias adalah abinya.

Saya, sejak tahun 2002 terlibat di TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an) dan juga menjadi pengelola ASMA (Adil Sempoa Mandiri) di lingkungan tempat kami tinggal. Saya sering mendampingi anak-anak TPA dan ASMA mengikuti berbagai lomba. Sebagai seorang wanita yang sudah menjadi ibu,  terbesit keinginan untuk dapat mendampingi anak sendiri yang ikut lomba. Tapi, ya itu tadi, Luqman paling tidak mau ikut lomba.

Kalau soal memotivasi, sudah sering saya lakukan. Segala macam usaha juga sudah saya coba. Dari yang mengajak dialog sampai yang “agak memaksa”.

Suatu ketika, tahun 2005, TPA mengadakan lomba khusus santri yang belajar disitu. Mulai lomba mewarnai hingga lomba menghapal surah pendek. Dari sekian banyak mata lomba, tak satupun yang berkenan diikuti Luqman. Saya dan suami membujuknya agar dia mau ikut. Terus terang, di hati ada rasa tidak nyaman. Semua anak TPA ikut berpartisipasi, tapi Luqman (anak salah satu pengurus TPA) berkeras tidak mau ikut. Saya mulai tidak sabar. Saya katakan dia tidak boleh bermain selesai lomba itu. Dia tak perduli, tetap tidak mau ikut lomba.

Malamnya saya menyesali sikap saya. Saya sadar sudah melakukan sebuah kesalahan besar, dan berjanji dalam hati tidak akan mengulanginya lagi. Memaksakan kehendak kepada anak bukanlah cara mendidik yang baik. Mungkin masih ingat postingan tentang “Anak Nomor Satu”.

Ketika kemudian lomba-lomba yang berdatangan silih berganti, Luqman tetap pada pendiriannya, tidak mau ikut lomba. Saya tidak berhenti memotivasi, tapi sangat menghindari memaksanya. Hingga di sebuah perlombaan 17 Agustus yang diselenggarakan warga perumahan, tanpa dipaksa Luqman akhirnya mau juga ikut lomba menggambar. Hanya itu. Dia belum mau ikut yang lainnya. Ya, tak apa.  Bagi saya itu sebuah kemajuan.

Hari Sabtu lalu, TPA turut serta dalam FASI (Festival Anak Shaleh Indonesia) VII se Lombok Barat. Luqman ditunjuk untuk mengikuti lomba tartil, mewakili TPA al-Muhajjirin. Saya sudah mempermaklumkan kepada gurunya, jangan kecewa jika nanti Luqman tidak mau maju, sebagaimana biasanya. Gurunya paham.

Malamnya, saya ajak dia bicara. Jika dia memang tidak mau ikut lomba, saya minta dia bilang saat itu juga agar gurunya bisa mencari santri yang lain. Tapi apa katanya: “Kakak mau ikut Mi.” Saya menangkap kesungguhan di wajahnya.

Maka ketika hari itu tiba, berangkatlah rombongan kami menuju lokasi acara. Luqman terlihat percaya diri, tapi masih ada sedikit keraguan di hati saya, apakah dia benar-benar akan maju saat lomba. Sambil menunggu gilirannya tiba, saya terus berdo’a kepada Allah agar menghadirkan keberanian itu dalam dadanya. Saya lirik orang-orang di sekitar, beberapa dari mereka juga tampak berdo’a. Tapi mungkin do’a kami berbeda. Jika mereka berdo’a agar bisa menang, maka do’a saya memohon agar dia berani maju.  Memikirkan itu, bibir saya menyungging senyum.

Ketika giliran tinggal tiga anak lagi, Luqman berasa mau BAK. Saya membaca gelagat, sepertinya tanda-tanda dia tak ingin maju. Kemudian saat giliran tinggal satu anak lagi, dia kebelet BAB. Masya Allah. Gugupkah dia? Dan ketika namanya dipanggil, gurunya meminta untuk dilewati dulu. Alhamdulillah bisa. Selesai BAB, Luqman kembali ke arena lomba. Dan ketika nomor undinya dipanggil, dengan pasti dia melangkah ke depan, duduk, meletakkan alQur’an, dan memulai membaca surah al-Isra’ ayat 1 dan seterusnya. Rasa haru terasa memenuhi dada saya. Tak percaya, bahwa yang sedang duduk di tengah masjid itu adalah Luqman, anak saya, yang selama ini menolak ikut lomba. Saya mengucap syukur yang tak terhingga kepada Allah yang telah mengabulkan do’a saya.

Tak perlu menunggu pengumuman. Bagi saya dialah sang juara. Esoknya dia langsung dibelikan sepatu sendal merk carvil  yang selama ini diidamkannya oleh abinya.  Keinginan kami (saya dan abinya) bukanlah melihat dia maju dan menerima hadiah sebagai juara 1, tapi menyaksikan dia melawan rasa tidak percaya dirinya dan berani tampil ke depan. 

Ada sebuah pelajaran berharga: Jangan pernah memaksa anak mengikuti kemauan kita. Yang terpenting adalah bagaimana memotivasi dan bersabar, karena setiap anak membutuhkan waktu yang berbeda dalam menemukan keberaniannya.

luqman.jpgpicture-246.jpg


Actions

Information

23 responses

28 02 2008
Donny Reza

Barangkali, Luqman bukan tipikal orang yang tertarik untuk berkompetisi…seperti salah seorang blogger yang pernah saya wawancarai, baginya tidak harus kita ikut dalam setiap persaingan. Kalau kita bisa bikin jalur sendiri…untuk apa habis2in waktu bersaing?

Saya juga seperti itu kok, paling malas berkompetisi…maunya punya ‘dunia’ sendiri, cenderung ingin menjadi seorang pathfinder…atawa perintis. Barangkali Luqman juga punya jiwa seperti itu sejak kecil🙂

Eng…. mungkin juga ya… Mungkin Luqman calon penulis seperti Donny…

28 02 2008
jimmy

saya setuju dengan pendapat jangan memaksakan kehendak pada anak, karena kalau semakin dipaksa, dia biasanya semakin tidak mau, dan kalau akhirnya mau karena terpaksa, akan terbawa trauma sampai si anak besar nanti

Exactly..

29 02 2008
deen10february

🙂, nice reading..
Sy juga klo minta adek bungsu untuk ikut berkompetisi juga susahnya minta ampun -waktu itu 17agustusan-, tapi Alhamdulillah si adek dgn sendirinya pun maju untuk turut. Hmm, mungkin karena iri dgn teman2nya yg pada ngumpul2 gtu. Satu hal yg sy pelajari saat itu, adalah pendekatan himbauan emang lebih tepat, ketimbang memaksa, soalnya keputusan bocah emang kadang sulit diinterferensi.

Bener…. karena mereka punya jalan pikirannya sendiri

29 02 2008
nh18

Ceritanya manis sekali ibu … saya suka …
Saya juga bercerita mengenai anak-anak saya …
jika berkenan plis berkunjung ke blog saya ke katebory My Family ya bu …
Salam saya

Insya Allah saya kesana

29 02 2008
icHaaWe

memang tipikal seorang anak beda2 yah … tinggal kita saja sebagai orang tua bagaomana menyikapinya. pokoknya setuju bgt degh, untuk tdk memakakan kehendak kpd anak… yg penting dukung mreka selalu

Yup!!! dukung mereka…

29 02 2008
hafidzi

jadi ingat cerita teman dulu….waktu kita masih kecil2..

Emang waktu kecilnya kenapa? Seneng ikut lomba ya…

1 03 2008
quelopi

bener, anak jangan dipaksakan, kalau dipaksakan nggak tau jadinya apa ntar

ya… khawatir tidak punya motivasi pribadi….

1 03 2008
raddtuww tebbu

jadi inget adekkuw mba,, dia juga gitu,, gak pernah mau ikut lomba,, untung ibuku juga gak pernah maksa,, seingetku sekali dia ikut lomba,, dan itu dulu bgt waktu dia masih umur 7 tahun (sekarang umurnya 21 tahun),, lomba adzan di mushala kampung kami,,
yah,, tipikal orang memang beda2 ya mba,,

ya… benar, tidak bisa disamaratakan

1 03 2008
Rizki on benbego

Wah..wah.. kalah deh sama Luqman. Tapi bener tuh mbak. Setiap anak punya prosesnya sendiri untuk berani. luqman biar masih kecil mungkin juga sedang menganalisa, berpikir. kenapa harus ikut lomba? yg lain ikut dia gak. berarti gak mau disamain sama yg lain. punya pilihan tersendiri. hargai aja mbak setiap keputusan dia.

insya Allah….

1 03 2008
Um Ibrahim

kekekek… kayanya kalo Luqman seh bukan gak mau ikut lomba yakhti… tapi takut menang terus, dia pikir daripada menang terus lebih baik kasih kesempatan anak yang lain…
Pointnya kalo saya punya ibu seperti anti pasti juga berasa bahwa gak perlu menang lomba untuk menjadi juara dimata ibunya..;)

Wekekekk….gitu ya….?

1 03 2008
ayaelectro

wah bener tuh orang tua tidak seharusnya memaksa. pada kejadian2 yang tejadi sama temen saya, mereka malah jadi merasa tidak nyaman sendiri. kasian…

Betul adinda……

2 03 2008
almascatie

jadi ingat anak ustad sayah bu😀

Hehe, kirain jadi inget anaknya ;D

3 03 2008
realylife

setuju banget mbak , kemaren soale aku khan masuk nominasi jadi sutradara film fiksi pendek di balikpapan , Alhamdulillah ngga menang , cuma aku masih bersyukur diberi kesempatan , menang kalah mah biasa , yang penting bagi diri kita dan orang – orang sekitar kita adalah pemenang ?
bukan begitu ?
o iya ibu juju suaminya kerja di pertamina , memang kenal ya mbak ?

Betul sekali….. Mungkin di lain waktu bisa jadi pemenang dalam kesempatan yang berbeda ya

3 03 2008
achoey

Bu, jika kelak saya punya istri
Saya ingin dia juga bisa bijak dan penyayang

Amin… semoga dikabulkan…

4 03 2008
indra1082

Sesuatu yang dipaksakan itu sakit…

🙂

4 03 2008
nexlaip

menarik sekali kepribadiannya, mungkin dia typikal rendah hati dan tersembunyi tidak mau terkenal. seperti penyu bertelurnya diam diam tapi banyak dan berkualitas tinggi. kalau ayam bertelurnya petak petok tapi keluarnya satu…

Hehe.. semoga seperti itu…. semoga dia bukan anak yang penakut

4 03 2008
ridu

jadi pengen cepet-cepet punya anak deh (*Ups.. nikah aja belom. hehehe..):mrgreen:

ga papa…. bercita-cita kan boleh…

4 03 2008
isnuansa

bacaan buat referensi ngasuh anak nih [nanti kalo saya punya anak, tentunya]…

Insya Allah….

4 03 2008
Rien Hanafiah

tipikal anak sulung begitu kali ya?
karena aku kan anak sulung😆 apa hubungannya coba?!?!?

kata Jihad juga,’Menang ga menang yg ptg nyoba Mih.” xixixix

tuh, nyoba ya Ukh, kirim itu tulisannya…tambah ga nyambung

He… kalo ane sih nyambung aja, kan semalam baru ngobrol…. Eh, anti biar anak sulung tapi kan gak punya masalah dengan ikut lomba…

5 03 2008
RaiN

hikz.. aku ga suka dipaksa-paksa ma…

Baiklah sayang… mama tidak akan memaksamu lagi🙂

16 03 2008
hendrat

🙂 cerita tentang si Luqman dan adik2nya lagi, ini yang paling saya suka dari blog ukhti ini..

Kok hampir sama seperti saya, dari kecil sampai sekarang, saya paling enggan kalau disuruh mengikuti lomba, bukannya nggak PD sih, tetapi lebih pada tidak menyukai kompetisi…
yah, setiap anak memang berbeda, tetapi saya yakin ada satu hal yang sama pada mereka, yaitu kemauan belajar, saya yakin pada dasarnya setiap anak memiliki keinginan yang tinggi untuk belajar, tinggal bagaimana kepadaian orangtua merangsangnya..

Ya… orang tua memang dituntut untuk bisa kreatif merangsangnya

21 03 2008
Nunung

good job mbak, bisa buat pedoman aku kalau sudah punya anak nanti

Salam buat keluarga

Good deh De’….

22 03 2008
anginbiru

hmm,, jadi inget jaman2 masih TPA dulu.. kata ibuku dulu aku hobi banget ikut lomba2 gitu,, walaupun kalo disuruh dateng TPA susahnya minta ampiun.. pernah beberapa kali nggak mau dateng TPA (coz males),, trus dipaksa sama ibu,, dan kau tau apa,, ibu pake senjata CABE yang dipatahin trus dileletin ke bibirku.. huwaa.. nangis-nangislah aku..

tapi pas udah gede baru sadar,, ternyata paksaan ibuku itu ada benernya juga.. baru kerasa manfaatnya..🙂 plus,, sekarang jadi doyan sambel..! wkeke.. *plak!!*

Hehehe….. Ibu memang luar biasa ya… segala cara dicoba…. meski harus mengorbankan cabenya… kan mahal tuh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: