Datang dan Pergi

25 03 2008

Siapa yang datang siapa yang pergi?

Hehe… saya sendiri….

Berhubung ada sedikit masalah dengan Quasar, internet jadi off beberapa waktu, sesekali bisa on dengan telkomnet, tapi tidak bisa lama-lama….

Jadi terkadang saya hanya sempat baca komen yang masuk, berkunjung ke beberapa teman (mohon maaf tidak bisa berlama-lama)….

Sekalian menjawab ukhty sayang, Um Ibrahim…. I miss u too …..

Selain karena masalah internetnya, belakangan ini disibukkan (sok menyibukkan diri) pada ajang PILKADA NTB yang akan digelar Juli 2008.

Mohon do’anya……

Insya Allah jika Quasar sudah kembali seperti sedia kala dan sudah tidak terlalu sibuk dengan PILKADA, saya akan berkunjung lagi ke kediaman sahabat semua….

Nantikan saya ya…..





Sesugguhnya Hidup dan Matiku…

6 03 2008

picture-034.jpg

Beberapa bulan lalu ada pengumuman bagi warga perumahan yang ingin memperbaharui KTP (Kartu Tanda Penduduk). Saya tawari Nyai (ibu saya), yang dijawab beliau :”KTP saya untuk seumur hidup.”

Oh iya, saya baru ingat. Ibu saya sudah mendapatkan KTP seumur hidup sekitar 15 tahun yang lalu.

Saya kurang tahu pasti peraturannya, sepertinya setiap warga negara yang berusia diatas 55 tahun mendapatkan KTP seumur hidup.

Hmmmm… Apakah mungkin karena usia 55 tahun ’dianggap’ mendekati kematian ya?

Dalam percakapan sehari-hari kita sering menjumpai orang menyebut seseorang yang telah sepuh sebagai orang yang ’sudah bau tanah’, dalam arti sebentar lagi akan meninggal. Ungkapan yang menurut saya sangat tidak pas. Karena setiap manusia (0 – sekian tahun) bisa disebut bau tanah (jika memang yang dimaksud bau tanah disini adalah dekat dengan kematian). Berapa kali Allah mengulang ayat ”Tiap-tiap yang berjiwa pasti akan mati” dalam kitab suci. Tidak pernah disebutkan secara spesifik ”Tiap yang berusia sekian pasti akan mati”.

Kematian, dikehendaki atau tidak bisa datang kapan saja.

Masih ingat sahabat saya yang berpulang kepada Allah tanggal 21 Februari yang lalu? Kalau dibanding dengan usia ibu saya yang hampir mendekati angka 80, hanya 1/3nya. Banyak orang yang datang takziah berucap, ”Ya Allah, padahal seminggu yang lalu masih ketemu” atau ”Gak nyangka ya kelihatannya selama ini sehat-sehat aja”, dll.

Ibu saya juga kadang tertegun, mendapati orang-orang yang berusia jauh di bawahnya  telah mendahuluinya, termasuk anaknya sendiri (kakak laki-laki saya) yang secara tiba-tiba meninggal tahun 2005 lalu. Kejadian tersebut cukup mengguncang ibu saya, karena beliau sempat berharap kelak anaknya lah tersebut yang akan mengurus jenazahnya saat Allah memanggilnya kelak.

Kembali ke soal KTP, mungkin pemerintah mengikuti anggapan umum, bahwa yang tua akan mati lebih dahulu.

Tapi sebagai manusia yang meyakini rukun iman, kita harus percaya… bahwa hidup dan mati kita benar-benar berada dalam genggamannya. Jika Dia menghendaki kita mati sesaat setelah membaca tulisan ini, maka itu pasti akan terjadi.  Kematian pasti akan menghampiri kita, tanpa memandang usia, status, jenis kelamin, atau pun jabatan. Waktunya? Wallahu’alam bi shawab.