Kenapa Aku Berjilbab…Cerita yang panjang

29 04 2008

Dapat lemparan tag dari Senaz…..

Jilbab….
Tentunya yang dimaksud disini adalah jilbab yang di Indonesia digunakan sebagai istilah untuk menyebut khimar (kerudung) ya…. Kenapa aku baru mengenakannya? Sebuah cerita yang panjang…

Semasa kecil, aku jarang sekali melihat wanita yang memakai jilbab ini di lingkungan tempat aku dulu tinggal. Ada sih ibu-ibu, tapi jenis kerudung yang panjang, penutup kepala yang tipis menerawang. Yang dipakai sebagai padanan kebaya atau dipakai saat sedang takziah ke rumah orang yang meninggal, atau saat yasinan. Hampir tak pernah aku menemukan selain dari yang itu (aku lupa apakah ada perempuan berjilbab di seputar Balikpapan di rentang waktu tahun 1980 – 1986). Guru agama pun hanya menutup kepalanya dengan kain kecil dengan rambut yang masih terlihat. Jika ada diantara yang membaca tulisan ini pernah tinggal di Balikpapan di masa itu, mohon aku dikoreksi.

Ketika aku masuk SMP, tahun 1986, mulai menemukan beberapa (tapi rasanya bukan di sekolahan), di jalanan. Melihat orang-orang itu, aku biasa-biasa saja. Tak pernah terlintas untuk berpakaian seperti itu. Kepala ditutup dengan kain segiempat yang dilipat dua menjadi segitiga.

Seingatku (mohon maaf jika ingatanku salah, karena terbatasnya kemampuanku dalam mengingat) aku tidak pernah dianjurkan menutup kepala seperti itu, oleh siapapun, baik orang tua (semoga Allah mengampuni mereka, karena aku yakin mereka tidak menyuruhku bukan karena tidak perduli tapi memang tidak paham tentang perintah itu, bagi mereka yang utama adalah shalat 5 waktu dan mengaji al-Qur’an), saudara, teman maupun guru di sekolah. Menutup aurat hanya diperintahkan saat kita shalat.

Aku mulai melihat lebih banyak orang berjilbab ketika masuk ke SMA. Yang paling kuingat adalah seorang guru Geografi yang cantik menawan, aduh…. tapi aku lupa namanya. Cantik sekali dengan jilbabnya.

Kemudian ketika naik kelas 3, yang kudengar sekilas berita bahwa jilbab sudah mulai diperbolehkan dipakai ke sekolah. Ada beberapa teman yang mulai berjilbab. Tapi aku, terlalu sibuk dengan kegiatan Pencinta Alam, karate, vocal grup dan hanging out bersama teman-teman se-geng. Pikiranku waktu itu, tak mungkin lah aku mengenakan itu. Kegiatan rohis di sekolah pernah ikut, tapi tidak serius. Benar kalau ada yang mengatakan bahwa hati nurani memang tak pernah berbohong. Dalam hati kecilku, ternyata aku ingin juga bisa berjilbab. Tapi… demi melihat ada diantara teman-teman yang berjilbab masih ”pecicilan” (duh, maaf yah), berjalan bersama dengan teman prianya, aku berusaha mengingkari bisikan hati nurani itu. Maka aku tetap dengan penampilanku.

Saat kuliah semakin banyak kujumpai orang berjilbab, tapi belum menyentuh alam pikiranku. Aku aktif mengikuti kegiatan keagamaan di kampus, tapi tidak juga tergerak untuk menutup aurat, dengan alasan yang sama, banyak kujumpai teman-teman yang berjilbab tapi masih berpacaran. Selain itu aku sibuk dengan ’keduniaanku’. Aku sedang senang-senangnya main band. Pikirku, ’Masa iya seorang wanita berjilbab, ditonton orang saat memegang gitar memainkan lagunya fire house atau dewa 19’. Tidak pas saja. Dan kali itu, ’keduniaanku’ mengalahkan bisikan nuraniku. Astaghfirullahal adzim….. Aku bersyukur Allah tidak mematikanku saat itu…

Masuk dalam dunia kerja, aku mulai memperbanyak membaca buku-buku yang berbau Islam, dan membaca dengan mataku sendiri adanya perintah menutup aurat itu dalam al-Qur’an. Aku juga berteman agak dekat dengan salah satu teman di kantor yang berjilbab. Dia tak pernah menyuruh aku berjilbab, karenanya aku nyaman berteman dengannya. Aku juga tetap berhubungan dengan salah satu teman kuliah yang lebih dulu berjilbab, dan juga tak pernah menyuruh aku berjilbab. Dari dua temanku itu, meskipun mereka tak pernah secara eksplisit memintaku berjilbab, aku tahu mereka mendo’akan agar aku segera menutup aurat. Terima kasih ya……

Tahukah kau kawan (Andrea Hirata Banget ya…), saat bekerja itulah hatiku mulai benar-benar condong ingin segera menutup aurat. But HOW? Tak mungkin Nina yang kalau kerja dengan celana yang tampak seperti kekecilan tiba-tiba muncul dengan jilbab. I should do it softly. Aku mulai mengumpulkan baju-baju lengan panjang.

Ketahuilah…. hal yang paling sulit dalam berjilbab itu adalah MEMULAINYA……. Banyak sekali halangan yang aku timbulkan sendiri… Malu lah, gak enak lah, nanti dibilangin tumben lah, nanti dibilangin ikut-ikutan lah, macam-macam….

Dan….. masih ingatkah jalinan cerita indah yang sempat kusinggung pada tulisanku terdahulu ”Menyesalkah Kau?”…..
Ketika di perusahaan terjadi aliansi, kemudian aku dan suami berhenti bekerja dan pindah ke Lombok?
Indah sekali Allah mengatur kisah hidupku. Di balik peristiwa yang bagi sebagian besar merupakan musibah itu ternyata memberi hikmah yang luar biasa bagi diriku. Di Lombok lah kutemukan cahaya itu….
Di Lombok lah kutemukan cara untuk menutup aurat itu…
Tak perlu merasa risih, tak enak, dsb. Pemakaian jilbabnya pun bertahap, dari yang seleher, sepundak, sepunggung sampai sepinggang. Dari yang bercelana panjang, berkulot sampai memakai rok.

Jadi teringat masa lalu, ketika di Balikpapan bertemu dengan wanita yang berjilbab rapi, tertutup rapat dari ujung rambut sampai ke kaki. Pikirku waktu itu, Ah ribet amat, apa gak panas ya perempuan itu?”
Ternyata, setelah kurasakan sendiri, tak pernah ada rasa panas (kecuali cuaca memang sedang panas), tak pernah kegerahan, malah sejuk rasanya.
Ada juga efek baik dari berjilbab ini. Jika hari panas, tak perlu takut tubuh dan rambut terkena siraman matahari secara langsung. Jika hari dingin, tidak terlalu merasa dingin. Dan itu baru kebaikan dunia, kebaikan akhirat telah menanti kita, insya Allah….
Tak terlalu penting kapan kita mulai menutup aurat, keikhlasan dan keistiqomahan lebih penting dari itu. Do’akan semoga aku memiliki dua hal penting itu.
Jadi, kalau ditanya kenapa? Karena aku ingin menjalankan agama Islam secara kaaffah dan tentunya karena do’a orang-orang yang mencintaiku karena Allah.

Dan…… kalau berkenan, tag ini kuteruskan ya ke Rien

Advertisements




Menyesalkah Kau?

23 04 2008

Sihir…. Hahaha…. Kau kena sihir AH… Gaya bahasamu terseret AH…. Sama seperti aku…. Tiba-tiba menulis dengan tulisan seperti AH.

Hihihi… BTW, aku turut merasakan situasimu saat itu. Apa kau tak menyesal sekarang setelah semua itu akhirnya hanya menjadi IRT dengan 3 anak laki-laki?

 SMS itu kuterima lima menit yang lalu, dari suami tercinta, lelaki yang kepadanya segala gundah, gelisah dan bahagia kutumpahkan. Pesan singkat itu merupakan balasan atas SMS yang kukirimkan padanya:

 Waktu itu…. Seorang dosen idolaku dengan kumis tebalnya mengantarkan sebuah surat dengan sampul polos tertulis Nina Maulinawati ke tempat dimana aku bekerja. Dia sudah tahu isinya. Aku membukanya didampingi Ian Fraser, Australian supervisorku di kantor itu. Begitu terkejutnya aku ketika tahu bahwa itu adalah surat pengumuman kelulusanku atas satu-satunya beasiswa ke Australia yang pernah ada di Poltek(waktu itu sambil menunggu pengumuman beasiswa, aku bekerja di perusahaan pabrik kertas). Aku langsung diberi ucapan selamat oleh Ian. Setelah itu menangis terisak ingat bapakku yang sudah beristirahat di ‘rumah’nya. Ingin kukabarkan padanya bahwa aku, anak bungsunya akan ke luar negeri. Bahkan dulu membayangkannya saja mungkin dia tidak pernah. Sekarang aku juga terisak membayangkan bagaimana haru biru di rumah ikal saat membaca surat kelulusan…

Ikal dan Arai… Sang Pemimpi…. Ya… aku baru saja menamatkan “Sang Pemimpi”. Terlambat memang… Padahal novelnya sudah ada di rumah sejak beberapa bulan yang lalu. Suamiku sudah lebih dulu membacanya. Makanya dia langsung terpingkal menerima SMSku tadi. Dia sudah lebih dulu merasakan betapa hatinya saat itu begitu terbawa oleh kalimat-kalimat indah AH (Andrea Hirata). Terhanyut pada petualangan menakjubkan tokoh-tokoh yang ada di dalamnya. Hal yang sama yang terjadi pada jiwaku. Penggambarannya yang sangat nyata pada situasi di rumah Ikal saat membaca pengumuman beasiswa itu mengingatkanku pada peristiwa yang coba kugambarkan pada sms di atas tadi.

 

Tapi, ini bukan tentang novel penggugah semangat itu… Kalau tentangnya, kurasa siapapun yang pernah membacanya akan mencintainya dan menebar begitu banyak pujian. Kalau ada kesempatan lain, ingin juga aku membahasnya.

 

Ini tentang kalimat terakhir pada sms suamiku, menyesalkah aku menjadi ibu rumah tangga?

SMS itu dengan mantap kujawab,  Kata ‘menyesal’ itu tak pernah sedikit pun menghampiriku bahkan berkelebat di hatiku pun tidak

 

Dan itu bukan kalimat penuh bualan, itulah yang sebenarnya terjadi. Dan beginilah kisahnya……

Sebelas tahun yang lalu, sebelum pulang ke Indonesia, aku mengirim surat lamaran ke sebuah perusahaan tambang di Kalimantan Selatan. Menurut dosen idolaku perusahaan tambang batu bara itu sedang dalam kondisi yang baik dibanding perusahaan yang lain, dan ia termasuk salah satu dari 10 perusahaan yang mendukung dana beasiswaku. Dua pekan setelah kepulanganku, aku dipanggil oleh perusahaan itu. Setelah melewati beberapa tes akhirnya aku bisa bekerja disana. Aku sangat mencintai pekerjaan itu, apalagi kompensasi yang diberikan perusahaan lebih dari cukup. Aku menjadi penggila kerja. Bekerja lembur, di dalam kantor di tengah tambang, pada malam yang sepi, sendirian tanpa seorang teman pun aku lakukan. Kalau sekarang disuruh mengulang aku tak akan berani melakukannya.

Sampai menikah dan hamil, aku tetap bekerja. Setiap hari dari Senin hingga Jum’at, setelah shalat shubuh, dengan perut yang semakin membesar, aku bergegas naik ke atas speed boat, terhempas-hempas bila ombaknya sedang besar, menuju tambang tempat bekerja. Menjelang maghrib kembali lagi ke kota, terhempas ombak lagi, bahkan lebih besar. Setelah masuk trimester ketiga kehamilan baru aku meminta izin tinggal di camp, sehingga tak perlu naik speed boat, kecuali akhir pekan untuk menengok rumah.

 

Kulalui masa-masa itu dengan penuh suka cita, karena aku memang penggila kerja, bahagia dengan statusku sebagai perempuan bekerja. Aku dan suami sudah mengatur rencana, bagaimana nanti ketika anak kami yang pertama lahir. Kami akan mencari baby sitter untuknya. Namun, Allah sang pemilik jiwa-jiwa kami, telah menyiapkan jalinan cerita-Nya yang lebih indah dari sekedar menjadi perempuan bekerja, yang harus meninggalkan buah hatinya sejak shubuh hingga maghrib, demi sebuah kata: prestige……..

 

Jalinan cerita indah itu adalah… sebulan sebelum anak kami lahir, perusahan beraliansi dengan salah satu kontraktor. Seluruh karyawan diPHK dan dialihkan statusnya menjadi karyawan kontraktor tersebut, bagi yang mau. Bagi yang tidak bisa mencari pekerjaan lain. Aku dan suami memilih tidak bergabung dengan kontraktor itu, karena jadwal kerjanya yang bagi kami kurang masuk akal.

 

Setelah anak pertama lahir, aku mencoba mencari pekerjaan lain, dan diterima. Tetapi, baru setengah hari bekerja, aku tidak bisa tenang. Di layar komputer terpampang wajah innocent anakku Luqman yang waktu itu berusia 1 bulan. Saat itu juga aku mengajukan permohonan berhenti bekerja dan pulang ke rumah dengan hati lega. Sebulan setelahnya kami pindah ke Lombok. Pernah aku mencoba melamar lagi di perusahaan lain (waktu itu kami berkeinginan sekali pindah kembali ke Balikpapan, karenanya aku iseng mencoba), sampai tahap wawancara gagal. Setelah itu…. Aku tak pernah mencoba lagi.  Pernah juga seorang teman datang menawarkan pekerjaan yang kedengarannya fantastis…. Tapi aku menolaknya, dengan pertimbangan anak.  

 

Hingga saat ini…. Aku menikmati pilihan hidupku sebagai ibu rumah tangga saja. Ada beberapa kegiatan lain, tapi tidak mengikat waktuku sebagaimana jika aku memilih untuk tetap bekerja. Untuk saat ini…. Berada di rumah, mengikuti perkembangan anak-anak yang amazing lebih terasa baik bagiku. Dan itu semua kulewati tanpa sebuah rasa penyesalan….. (Kau dengar ini suamiku…. T a n p a  p e n y e s a l a n….)

 

Aku juga mengenal beberapa orang teman yang mempunyai pilihan yang sama dan berbahagia dengan itu. Sebutlah si penulis ini, atau amazing mom ini. Menjadi ibu rumah tangga, dengan segala pernak-perniknya, kiranya tak ada yang patut disesali.

 

Note: Tulisan ini sama sekali tak bermaksud mengecilkan peran wanita bekerja. Tidak sama sekali. Aku kagum pada mereka yang mampu memanage waktunya dengan baik hingga mampu mengurus rumah tangga sambil tetap bekerja. Aku sangat menghormati pilihan hidup yang telah mereka ambil. Dan sangat mengharapkan orang lain juga bisa menghormati pilihanku….

 

 

 

 





Syamil dan Kuah Coklat

2 04 2008

abang-dan-kuah-coklat.jpg

Syamil, si abang punya menu favorit (walau sesungguhnya setiap makanan nampaknya bisa menjadi favoritnya). Tapi dia memang paling senang makan dengan ‘kuah coklat’ begitu dia menyebutnya. Tahu masakan apa yang dimaksud? Semur. Semur apa saja. Daging, ayam maupun ikan.

Kalau sudah makan menu yang satu ini, dia sering terkena short term memory lost. Meski baru satu jam berlalu waktu makannya, sesaat kemudian dia sudah minta makan lagi.

“Mi, mau makan dengan kuah coklat.” Saat saya katakan “kan tadi sudah Bang?,” “Belum mi…..”

Begitulah Syamil. Saya sih senang saja dia mempunyai selera makan seperti itu, tapi saya tak selalu menurutinya, karena khawatir  dia over weight dan susah menyetop nafsu makannya karena sudah terpola. Ada beberapa anak teman yang seperti itu, dan harus rutin konsultasi pada dokter spesialis untuk bisa menurunkan berat badan si anak.

Kembali soal Syamil dan kuah coklatnya. Suatu pagi dia ingin makan. Dia menuju ke dapur dan disana ada nyainya. Ini percakapannya dengan nyai:

Syam    : Nyai, abang mau makan

Nyai      : Pake ikan apa? Ikannya belum masak bang… ini cuman ada semur, mau?

Syam    : Gak mau semur…. Maunya pake kuah coklat kaya’ kemaren

Nyai      : Lho, gak ada kuah coklatnya, yang ada kuah hitam

Syam    : Gak mau, maunya kuah coklat….

Akhirnya saya jelaskan ke Nyai yang dimaksud kuah coklat ya semur (atau kuah hitam bagi nyai) itu..“Oooooo….” Begitu kata Nyai.

Kemudian saat Syamil makan kuah coklatnya, saya perhatikan, ternyata warnanya memang benar coklat, lantas kenapa nyai bilang hitam ya? Mungkin karena salah satu pelengkapnya (kecap) berwarna hitam, nyai menyebutnya kuah hitam.

Hehe…. Ternyata beda pemahaman tentang warna.

Jadi teringat masa kuliah dulu, ada teman yang menyampaikan sebuah joke pada saya yang berdarah Madura.

“Nin, untungnya kamu pilih akuntansi ya, coba teknik elektro gak lulus kamu. Kan orang Madura buta warna, hijau dibilang biru, bisa konslet semua nanti gara-gara salah pasang kabel.”

Memang benar, hijau itu bahasa Maduranya biru. Jadi buat orang Madura daun itu warnanya biru… Kok bisa ya? Saya juga tidak tahu kenapa bisa begitu.

Susah juga kalau orang Madura (yang masih memahami hijau itu biru) jualan cat, kain, undangan atau segala sesuatu yang berhubungan dengan warna. Saat si pembeli memesan undangan berwarna biru, yang dikirim warna hijau. Wah, susah juga.

Kembali lagi ke soal Syamil…. kalau saya tidak campur tangan menjelaskan pada nyai apa yang dimaksud Syamil, bisa tidak makan-makan Syamilnya. Hanya karena beda pemahaman soal warna. Hehe..