Menyesalkah Kau?

23 04 2008

Sihir…. Hahaha…. Kau kena sihir AH… Gaya bahasamu terseret AH…. Sama seperti aku…. Tiba-tiba menulis dengan tulisan seperti AH.

Hihihi… BTW, aku turut merasakan situasimu saat itu. Apa kau tak menyesal sekarang setelah semua itu akhirnya hanya menjadi IRT dengan 3 anak laki-laki?

 SMS itu kuterima lima menit yang lalu, dari suami tercinta, lelaki yang kepadanya segala gundah, gelisah dan bahagia kutumpahkan. Pesan singkat itu merupakan balasan atas SMS yang kukirimkan padanya:

 Waktu itu…. Seorang dosen idolaku dengan kumis tebalnya mengantarkan sebuah surat dengan sampul polos tertulis Nina Maulinawati ke tempat dimana aku bekerja. Dia sudah tahu isinya. Aku membukanya didampingi Ian Fraser, Australian supervisorku di kantor itu. Begitu terkejutnya aku ketika tahu bahwa itu adalah surat pengumuman kelulusanku atas satu-satunya beasiswa ke Australia yang pernah ada di Poltek(waktu itu sambil menunggu pengumuman beasiswa, aku bekerja di perusahaan pabrik kertas). Aku langsung diberi ucapan selamat oleh Ian. Setelah itu menangis terisak ingat bapakku yang sudah beristirahat di ‘rumah’nya. Ingin kukabarkan padanya bahwa aku, anak bungsunya akan ke luar negeri. Bahkan dulu membayangkannya saja mungkin dia tidak pernah. Sekarang aku juga terisak membayangkan bagaimana haru biru di rumah ikal saat membaca surat kelulusan…

Ikal dan Arai… Sang Pemimpi…. Ya… aku baru saja menamatkan “Sang Pemimpi”. Terlambat memang… Padahal novelnya sudah ada di rumah sejak beberapa bulan yang lalu. Suamiku sudah lebih dulu membacanya. Makanya dia langsung terpingkal menerima SMSku tadi. Dia sudah lebih dulu merasakan betapa hatinya saat itu begitu terbawa oleh kalimat-kalimat indah AH (Andrea Hirata). Terhanyut pada petualangan menakjubkan tokoh-tokoh yang ada di dalamnya. Hal yang sama yang terjadi pada jiwaku. Penggambarannya yang sangat nyata pada situasi di rumah Ikal saat membaca pengumuman beasiswa itu mengingatkanku pada peristiwa yang coba kugambarkan pada sms di atas tadi.

 

Tapi, ini bukan tentang novel penggugah semangat itu… Kalau tentangnya, kurasa siapapun yang pernah membacanya akan mencintainya dan menebar begitu banyak pujian. Kalau ada kesempatan lain, ingin juga aku membahasnya.

 

Ini tentang kalimat terakhir pada sms suamiku, menyesalkah aku menjadi ibu rumah tangga?

SMS itu dengan mantap kujawab,  Kata ‘menyesal’ itu tak pernah sedikit pun menghampiriku bahkan berkelebat di hatiku pun tidak

 

Dan itu bukan kalimat penuh bualan, itulah yang sebenarnya terjadi. Dan beginilah kisahnya……

Sebelas tahun yang lalu, sebelum pulang ke Indonesia, aku mengirim surat lamaran ke sebuah perusahaan tambang di Kalimantan Selatan. Menurut dosen idolaku perusahaan tambang batu bara itu sedang dalam kondisi yang baik dibanding perusahaan yang lain, dan ia termasuk salah satu dari 10 perusahaan yang mendukung dana beasiswaku. Dua pekan setelah kepulanganku, aku dipanggil oleh perusahaan itu. Setelah melewati beberapa tes akhirnya aku bisa bekerja disana. Aku sangat mencintai pekerjaan itu, apalagi kompensasi yang diberikan perusahaan lebih dari cukup. Aku menjadi penggila kerja. Bekerja lembur, di dalam kantor di tengah tambang, pada malam yang sepi, sendirian tanpa seorang teman pun aku lakukan. Kalau sekarang disuruh mengulang aku tak akan berani melakukannya.

Sampai menikah dan hamil, aku tetap bekerja. Setiap hari dari Senin hingga Jum’at, setelah shalat shubuh, dengan perut yang semakin membesar, aku bergegas naik ke atas speed boat, terhempas-hempas bila ombaknya sedang besar, menuju tambang tempat bekerja. Menjelang maghrib kembali lagi ke kota, terhempas ombak lagi, bahkan lebih besar. Setelah masuk trimester ketiga kehamilan baru aku meminta izin tinggal di camp, sehingga tak perlu naik speed boat, kecuali akhir pekan untuk menengok rumah.

 

Kulalui masa-masa itu dengan penuh suka cita, karena aku memang penggila kerja, bahagia dengan statusku sebagai perempuan bekerja. Aku dan suami sudah mengatur rencana, bagaimana nanti ketika anak kami yang pertama lahir. Kami akan mencari baby sitter untuknya. Namun, Allah sang pemilik jiwa-jiwa kami, telah menyiapkan jalinan cerita-Nya yang lebih indah dari sekedar menjadi perempuan bekerja, yang harus meninggalkan buah hatinya sejak shubuh hingga maghrib, demi sebuah kata: prestige……..

 

Jalinan cerita indah itu adalah… sebulan sebelum anak kami lahir, perusahan beraliansi dengan salah satu kontraktor. Seluruh karyawan diPHK dan dialihkan statusnya menjadi karyawan kontraktor tersebut, bagi yang mau. Bagi yang tidak bisa mencari pekerjaan lain. Aku dan suami memilih tidak bergabung dengan kontraktor itu, karena jadwal kerjanya yang bagi kami kurang masuk akal.

 

Setelah anak pertama lahir, aku mencoba mencari pekerjaan lain, dan diterima. Tetapi, baru setengah hari bekerja, aku tidak bisa tenang. Di layar komputer terpampang wajah innocent anakku Luqman yang waktu itu berusia 1 bulan. Saat itu juga aku mengajukan permohonan berhenti bekerja dan pulang ke rumah dengan hati lega. Sebulan setelahnya kami pindah ke Lombok. Pernah aku mencoba melamar lagi di perusahaan lain (waktu itu kami berkeinginan sekali pindah kembali ke Balikpapan, karenanya aku iseng mencoba), sampai tahap wawancara gagal. Setelah itu…. Aku tak pernah mencoba lagi.  Pernah juga seorang teman datang menawarkan pekerjaan yang kedengarannya fantastis…. Tapi aku menolaknya, dengan pertimbangan anak.  

 

Hingga saat ini…. Aku menikmati pilihan hidupku sebagai ibu rumah tangga saja. Ada beberapa kegiatan lain, tapi tidak mengikat waktuku sebagaimana jika aku memilih untuk tetap bekerja. Untuk saat ini…. Berada di rumah, mengikuti perkembangan anak-anak yang amazing lebih terasa baik bagiku. Dan itu semua kulewati tanpa sebuah rasa penyesalan….. (Kau dengar ini suamiku…. T a n p a  p e n y e s a l a n….)

 

Aku juga mengenal beberapa orang teman yang mempunyai pilihan yang sama dan berbahagia dengan itu. Sebutlah si penulis ini, atau amazing mom ini. Menjadi ibu rumah tangga, dengan segala pernak-perniknya, kiranya tak ada yang patut disesali.

 

Note: Tulisan ini sama sekali tak bermaksud mengecilkan peran wanita bekerja. Tidak sama sekali. Aku kagum pada mereka yang mampu memanage waktunya dengan baik hingga mampu mengurus rumah tangga sambil tetap bekerja. Aku sangat menghormati pilihan hidup yang telah mereka ambil. Dan sangat mengharapkan orang lain juga bisa menghormati pilihanku….

 

 

 

 


Actions

Information

17 responses

23 04 2008
Um Ibrahim

Masya’Allah…tulisanmu ya Ukhti…bikin terharu ngalahin AH, because you are a real character not only a story tale one🙂

*masih merah tersipu wajahku, am just a normal mom, everything I do Insya’Allah only for the sake of Allah*

hugs&kisses :)*

Hehe… jadi gak enak nih ama AH… Eh dia based on true story juga lho…

23 04 2008
oliveoile

Tepuk tangan buat mbak…
Saya juga pengennya begitu😀

Saya do’akan yang terbaik untuk Mba Rini

23 04 2008
realylife

Insya Allah , baik laki-laki maupun perempuan , mari kita saling bersyukur dengan anugrah yang telah diberikan oleh Allah SWT
Salut bun , tetap istiqomah berjuang demi kemaslahatan perempuan yang lebih menyadari perannya dan kemuslimahannya

Insa Allah

23 04 2008
jimmy

menjadi ibu rumah tangga dan mengurus anak adalah pekerjaan terberat di dunia, apalagi kalau anaknya lebih dari 1.

saya lihat sendiri istri saya mengurus 1 anak sendirian, begitu beratnya! saya yang cuma membantu setelah pulang kerja saja stress (dan kadang berpikir lebih baik saya kerja terus daripada ngurus anak, karena ngurus anak lebih capek), apalagi istri saya yang dari pagi sampai malam bahkan harus siaga terus selama 24 jam demi mengurus anak..

ini memang resiko tidak pakai baby sitter, tapi dengan mengurus anak sendirian, walaupun capeknya gak ketulungan dan bikin stress, tetap lebih banyak positifnya buat kami

Betul Pak… Tapi ekarang kalo pergi saya jug akadang percayakan anak pada bibi di rumah… tapi kan gak tiap hari…

so, saya sungguh sangat salut pada ibu-ibu rumah tangga yang mengurus anak, it’s the hardest job in the world!

24 04 2008
hanggadamai

keep istiqomah ya mbak🙂

Insa Allah Mas Hangga..

25 04 2008
Rien Hanafiah

‘menyesalkah kau?’ inilah sebenar-benarnya hidup dalam pengabdian untuk cintaNYA…nice story🙂

jadi inget pernah ngomporin anti waktu kita masih sama-2 kerja ya😆

anyway, jadi maluw ada namaku nyempil😀

ukh, gimana rencana kita?

Ah anti emang selalu ngomporin akyu…
Hayoooo dong… kapan anti punya waktu

25 04 2008
Donny Reza

Naluri memang nggak bisa dibohongi ya bu?🙂 Anggap saja di rumah juga bekerja😉 mudah2an jundi-jundinya bisa merasakan sosok ibu yang diharapkan😉

Amin… Memang menjadi ibu rumah tangga memang merupakan pekerjaan yang bayarannya kelak di yaumil qiyamah…

26 04 2008
Rozy

Subhanallah…

Sebuah pilihan bijak dari seorang ibu, meskipun bukan berarti mengecilkan peran wanita2 yg tetap bisa bekerja di luar yg mendedikasikan kerja utk kemaslahatan orang banyak selain keluarga sendiri.

Saya percaya, bahwa masing2 kita [wanita khususnya] mempunyai peran-peran dan bagian-bagiannya sendiri yg unik. Namun pasti, pilihan menjadi seorang ibu rumah tangga itu pasti tidak lain karena sebuah pemahaman dari seorang ibu yg mampu melihat bahwa posisi ibu tidak lain sangat penting sebagai madrasah awal bagi putera-putri mereka, terlebih di masa-masa pertumbuhan dan perkembangan fisik dan mental sang buah hati🙂 .

Semoga Allah SWT senantiasa memberkahi dan membimbing Mbak Nin sekeluarga untuk senantiasa berada di jalan-Nya…amin.

Amin…. Kabulkanlah ya Robb….

Ijinkan saya berbagi sebuah tulisan yg mengangkat sedikit tentang Sayyidah Fatimah az zahra di sini

Insya Allah saya akan mampir

Wassalam

26 04 2008
eko

salam kenal dari eko
kunjungi site ku juga ya
maksih

Salam kenal kembali… Insya Allah akan saya kunjungi…
*cek sekretaris dulu… hari ini ada jadwal kunjungan ngga ;)*

26 04 2008
senaz

mba Nin..kalo aku case nya lain kali yaa..
aku emang bener2 nunggu punya momongan..jd pas tau hamil, langsung deh yg namanya smua kegiatan dari yg kursus sampe rencana ngambil master di postponed..
itu baru hamil..dan pas Zhavar lahir ya bener2 dinikmati itu yg namanya ngurus anak..pkknya bahagia bgt..dan ternyata ngurus anak sangatlah tdk mudah..
jd aku jg ga pernah nyesel..

Alhamdulillah… Jadi kapan ngambil masternya nih?

27 04 2008
hafidzi

kada perlu gin kaya itu…..nikmati and syukuri, insya lebih baik:D

Nah… kaya apa dong…

28 04 2008
almascatie

*merenung*:mrgreen:

Jangan kelamaan yah…

28 04 2008
Edi Psw

Menjadi ibu rumah tangga, mengurus rumah dan anak-anak, penuh dengan pahala.

Insya Allah… yang penting ikhlas…

28 04 2008
nh18

HHmmm … Ibu Nina datang lagi …
AH ya bu …
Abis Sang pemimpi trus Edensor Bu …

Ya Pak… sudah semua….. Luar biasa…

Tetapi Edensor penulisannya murni penuh petualangan AH di Eropa-Rusia dan Afrika …

Ya saya juga berfikir begitu… tapi asik juga….. Jadi belajar Geografi

Aku memang lebih suka yang 1 dan 2 …

(sedang menunggu yang ke 4 … )(kok ndak keluar-keluarya bukunya …)

Katanya setelah yang ke 1 difilmkan dulu…

28 04 2008
deen10february

🙂. what a great story.. real story definitely..🙂

Keren euy.. salut ma mbak.. insyaALLAH ingin meneladani para ummahat yg berjaya di rumah dan lingkungan sosialnya🙂

Insya Allah… Nanti ceritakan ya gimana rasanya….

28 04 2008
achoey sang khilaf

subhanallah
ananda bener2 kagum
bunda hebat🙂

moga ananda kelak mendapatkan juga yg hebat. amin!

Amin…… Jangan henti berdo’a….. Eh, yang hebat sih hanya Allah ananda…

3 07 2008
indah

Assalamu’alaikum wr.wb

Saluuuuut sama Bu Ninna…saya terharu baca tulisannya…do’akan kita semua ya Bu…bisa mengambil keputusan untuk menjadi Ibu Rumah Tangga t a n p a p e n y e s a l a n

Insya Allah…
Menjalani apapun tanpa penyesalan itu terasa lebih nikmat….;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: