8 Tahun yang Telah Terlewati

28 05 2008

Ini bagian lain dari tahun-tahun yang telah terlewati, setelah 8 tahun pernikahan kami

Bukan… saat ini bukanlah anniversary kami…

Tak harus menunggu saat itu kan untuk mengenang hari-hari yang telah kami lalui?

 

Dan akad nikah itu dilaksanakan tanggal 9-9-99. Agak lucu kalau mengingat hari itu. Banyak yang mengingatkan kami untuk tidak melangsungkan pernikahan tepat  pada tanggal itu. Ada yang bilang tanggal keramat, ada yang bilang saat itu adalah hari qiyamat.

Ada-ada saja….. Memangnya kenapa kalau kami menikah kemudian qiyamat? 😛

 

Delapan tahun usia pernikahan, tapi kami bertatap muka hanya separuhnya (mungkin lebih sedikit ditambah hari cuti kerja).

Saat menikah, roster kerja suami 6:3 dan aku sendiri 5:2. Bertemunya sedikit sekali. Setelah pindah ke Lombok, seperti yang aku ceritakan pada tulisan sebelumnya, roster kerja suami 4:4 dan aku sendiri tidak bekerja lagi. Empat hari bertemu, empat hari berpisah.

 

Empat hari aku menjadi single parent.

Ketika anak sakit, membawa mereka ke dokter sendiri.  Saat ada undangan, kadang pergi sendiri atau minta permakluman kepada yang mengundang. Jika ada barang di rumah rusak, aku coba perbaiki sendiri atau menunggu saat dia pulang.

 

Delapan tahun aku mengarungi BAHTERA CINTA bersama lelaki yang Allah pilihkan untukku. Dan DIA yang telah menggariskan pola kehidupan rumah tangga kami yang TERATUR oleh jadwal kerja suami.

Berat memang, rasanya sungguh tidak nyaman, tapi bukankah sesuatu yang buruk menurut kita belum tentu buruk menurut Allah dan sebaliknya.

 

Aku yakin (SUNGGUH MEYAKINI), dari kesusahan yang kami rasakan selama 8 tahun ini ada 1000 kebaikan yang tersimpan.

Dan tengoklah, aku yang selama ini tumbuh sebagai anak yang manja bisa menjadi lebih mandiri, tidak terlalu cengeng (masih agak sih…).

Kebaikan lainnya adalah semakin rajinnya suamiku menulis puisi cinta yang indah. Bagian teratas dari tulisan ini merupakan salah satu puisinya yang dikirimkan 3 tahun yang lalu.

Maka nikmat Allah mana yang pantas aku dustakan?

 





7 Tahun yang Sudah Terlewati

24 05 2008

Lebih kurang tujuh tahun silam, tepatnya bulan Oktober 2000, saya dan suami beserta si Luqman kecil yang saat itu berusia 4 bulan pindah ke Lombok. Suami bekerja di sebuah tambang di pulau Sumbawa, sementara kami menetap di Lombok. Setelah bekerja 4 hari, suami mendapatkan off 4 hari. Hari off ini dihabiskan di pulau Lombok, bersama kami, anak dan istrinya.

 

Setiap kali pulang, oleh-oleh tetapnya adalah minuman instant yang dikemas dalam kotak, wafer dan buah-buahan. Suami memang senantiasa membawa pulang jatah snack di tempat kerja. Waktu itu Luqman belum bisa mengkonsumsi minuman dan makanan sejenis itu, saya sendiri tidak terlalu menyukainya, jadi kadang oleh-oleh itu menumpuk. Ketika ada teman-teman Luqman yang lebih besar, kami memberikannya kepada mereka.

 

Seiring perjalanan waktu, luqman tumbuh besar, dan mulai senang minuman instant. Oleh-oleh yang dibawa suami tidak terlalu menumpuk lagi, karena mulai diminum oleh Luqman sedikit demi sedikit. Dia bisa minum sepuasnya (dengan batasan tentunya)…

 

Beberapa tahun kemudian, lahirlah Syamil. Kehadirannya belum berpengaruh bagi jatah Luqman mengkonsumsi minuman tersebut. Tetapi setelah dia berusia satu tahun dan mulai mengerti nikmatnya minuman instant, mulai terjadi perebutan. Jatah Luqman mulai berkurang karena harus dibagi dengan Syamil. Alhamdulillah dia bisa menerima.

 

Sekarang, Luqman telah memiliki adik baru yang usianya memasuki 1 tahun, dan nampaknya sudah mulai tertarik dengan benda kecil berbentuk kotak yang isinya sangat disukai anak-anak tersebut. Dan Luqman harus rela berbagi lagi dengan Fayyadh, adik barunya itu.

 

 

Saya memandangi tingkah mereka yang berebut oleh-oleh saat saya keluarkan dari tas abinya. Lucu….

Batin saya menggumam….

Subhanallah…. Sudah tujuh tahun terlewati… Mulai dari Luqman yang menikmati sendiri oleh-oleh abinya, kemudian ditambah anggota baru Syamil, sampai akhirnya harus menikmatinya bertiga dengan adik bungsunya.

 

Abinya juga merasakan sensasi yang berbeda. Kalau dahulu dia pulang membawa oleh-oleh yang cukup menambah berat beban tasnya (hingga beberapa kali ganti tas karena putus), belum tentu dikonsumsi oleh anaknya. Sekarang, seberat apapun beban itu tidak terasa olehnya, karena dia sudah membayangkan anak-anaknya yang langsung berebut mengambil jatahnya masing-masing.

 

Tujuh tahun…. Melewati berbagai perubahan…. Banyak yang tak disadari…

Salah satunya kisah tentang oleh-oleh ini…

Terima kasih duhai Allah… yang telah memberikan tiga penyejuk mata dan hati bagi kami…





Mereka Bukan Saudaraku

17 05 2008

Hari itu gas di rumah habis, sudah diganti yang baru, tak juga berfungsi kompornya.
Ada apa denganmu wahai kompor?
Jadilah dari sore hingga esoknya menjelang siang tidak ada aktivitas memasak di rumah.
Pagi harinya, ngobrol dengan salah satu tetangga, bercerita tentang segala hal yang patut diceritakan sampai akhirnya tentang masalah si kompor ini.
Setelah merasa cukup bertegur sapa dengan para tetangga yang lain (saat itu hari Ahad, jadi para tetangga sebagian besar terlihat) aku pun pulang menunggu sang tukang servis kompor datang.
Baru lima menit berada di dalam rumah, ada seseorang mengucapkan salam di luar.
Ternyata tetanggaku tadi yang datang dengan membawa rantang plastik berwarna hijau.
Subhanallah…
“Apa ini ukh?” Kataku penuh keheranan
”Anti pasti belum sarapan. Ini tadi ana numis kangkung. Seadanya.”
”Masya Allah. Anti, kok repot-repot.”(ini asli bukan basa basi, aku betul-betul tidak menduga akan dikirimin menu sarapan pagi begitu)
”Gak papa ukh. Kasihan anak-anak.”
”Syukran ya…”
Kemudian dia pun pulang.

Aku masih tertegun. Memandangi nasi, opor ayam, tumis kangkung, tempe goreng dan pisang goreng yang tidak tampak ’seadanya’.
Tetangga… memang beraneka ragam.
Ada yang baik, ada yang judes, ada yang cuek, ada yang suka senyum, ada yang mahal senyum.
Tapi Alhamdulillah, secara umum tetanggaku rata-rata baik, bahkan malahan baiknya bisa melebihi saudara.
Cerita di atas tadi contohnya.
Ya Allah muliakanlah tetangga-tetanggaku itu di surga-Mu.
Mereka bukan saudaraku, tapi kebaikannya sungguh menyentuh hatiku.

“Serve Allah, and join not any partners with Him; and do good – to parents, kinsfolk, orphans, those in need, neighbours who are near, neighbours who are strangers, the Companion by your side, the wayfarer (ye meet), and what your right hands possess; for Allah loveth not the arrogant, the vainglorious” (Q.S 4:36)





Rumah Masa Depan itu…..

8 05 2008

Saat membaca Lombok Post kemarin pagi, mataku tertuju pada sebuah judul yang cukup membuat hati penasaran.
“Ketika Orang-Orang Kaya Menyiapkan “Rumah” Masa Depan”
Hmmmmm… Kata ”Rumah” yang kubayangkan pada kalimat itu adalah rumah di surga.

Apa ya, yang orang-orang kaya persiapkan untuk mendapatkannya? Menyantuni anak yatim dengan hartanya? Menginfaqkan sebagian besar kekayaannya untuk dakwah? Atau Mendirikan sekolah-sekolah yang bermanfaat bagi orang miskin? Haaa…. Jadi semakin penasaran….

Membaca baris demi baris tulisan kecil berwarna hitam itu baru kupahami bahwa ternyata ”rumah” yang dimaksud adalah rumah sementara sebelum hari dibangkitkannya seluruh manusia untuk dihisab, yaitu kubur.

Koran itu menuliskan tentang susahnya mencari lokasi untuk makam di Jakarta, sehingga para pengembang berlomba membangun kompleks makam dengan konsep baru. Desain kuburan dibuat sebisa mungkin menghindari kesan angker, tapi bisa jadi tempat rekreasi. Makam dibangun dengan konsep keindahan dan keceriaan. Di sela-sela berziarah, pengunjung bisa menikmati fasilitas family center.

Astaghfirullah….. Ziarah kubur bisa menjadi ajang rekreasi. Padahal salah satu manfaat ziarah kubur adalah untuk mengingat mati. Bagaimana mungkin kita mengingat mati jika disana kita bersenang-senang, bersenda gurau dengan kerabat, menikmati pemandangan nan indah. Mungkinkah kita bisa mengambil ibrah di tengah keriangan dan canda tawa?

Tentang harganya? Fantastis. Tempat ini memang disediakan untuk orang-orang dengan harta berlimpah. Ada kavling makam seharga Rp 4M dibeli pengusaha Jakarta untuk pemakaman keluarganya. Ck ck ck…..
4 Miliar …….. untuk sebuah makam keluarga…… Yang kita tidak tahu pasti apa yang terjadi di bawah makam itu…. nikmat kubur kah… atau siksa kubur… Allah tak akan menunda siksa-Nya hanya karena di sekitar kubur itu tumbuh bunga-bunga beraneka warna dan di sekelilingnya berdiri pagar-pagar nan indah, yang di pintu masuknya dijaga oleh satpam bertubuh tegap.
Allah pun tak akan memperlambat nikmat-Nya meski lingkungan di tempat kita dikubur tak ada apa-apa, bahkan lampu sekalipun. Amal ibadah kita yang akan menjadi penerang di alam kubur kita nanti.
Kalau saja 4 M itu kita gunakan untuk membeli rahmat Allah dibarengi dengan keikhlasan, insya Allah ’rumah’ nan indah di surga-Nya sudah pasti menanti kita.

Apakah mereka mengira bahwa kubur itu adalah ”Rumah Masa Depan” yang hakiki?
Apakah mereka pikir semakin asri keadaan di luar kubur itu maka semakin nyaman keadaan manusia (yang tak lagi bernyawa) di dalamnya?
Wallahu a’lam bi shawab

Kadang jalan pikiran seseorang memang sulit ditangkap oleh cara berpikir orang yang lainnya.

Berita tentang ini juga bisa dilihat di http://www.kontan-online.com/print.php?q=v&tahun=XI&edisi=18&id=15