PILGUB NTB – Menghitung Hari…

24 06 2008

Here we go…
Dalam hitungan hari, pemilihan gubernur NTB akan digelar.
Ya, tanggal 7 Juli 2008 hanya tinggal 13 hari lagi.
Empat calon pasangan sudah ditetapkan.
Kampanye sudah dimulai tanggal 20 kemarin.
PKS bersama dengan PBB mengusung Tuan Guru Bajang KH. Zainul Majdi, MA (Tuan Guru = Ulama, Bajang = muda dalam bahasa Lombok) sebagai calon Gubernur dan Bapak Ir. H. Badrul Munir, MM sebagai wakilnya.
Mohon do’anya agar PILGUB ini bisa berjalan dengan lancar, aman dan jujur.
Mohon do’anya agar pasangan ini bisa memperoleh suara terbanyak.
Mohon do’anya jika benar terpilih agar bisa menjadi pemimpin yang amanah….

Figur pemimpin perubahan:
Pemimpin BARU (BAjang – badRUl) dengan no. urut 2

Tuan Guru Bajang KH. M. Zainul Majdi, MA
Lahir di Pancor Lombok Timur, 31 Mei 1972
Master dan kandidat doktor ilmu tafsir Al-Qur’an Universitas Al-Azhar Kairo Mesir
Ulama muda kharismatik yang dekat dengan masyarakat
Pemimpin Pengurus Besar Nahdhatul Wathan (PBNW) organisasi Islam terbesar di NTB yang didirikan Maulana Syaikh Zainuddin Abdul Madjid, Ulama kharismatik di NTB yang juga merupakan kakek beliau
Menantu dari KH.Abdurrasyid Abdullah Syafi’i Kiai kondang di Jakarta pimpinan Ponpes Asy-Syafi’iyah
Anggota DPR RI komisi X bid. Kesra
Memiliki jaringan tingkat nasional dan internasional
Berwawasan moderat, demokratis dan menghargai pluralitas masyarakat

Ir. H. Badrul Munir, MM
Lahir di Sumbawa, 11 Agustus 1954
Insinyur Sipil dan Master Manajemen Pembangunan
Birokrat dan teknokrat berpengalaman 30 tahun
Ahli perencanaan dan penganggaran pembangunan daerah
Birokrat dengan prestasi kinerja luar biasa th 2002
Memiliki jaringan kerja lintas departemen dan daerah
Penulis buku perencanaan pembangunan, efisiensi anggaran, perubahan atau statusquo dan pembangunan infrastruktur

Visi: Terwujudnya Masyarakat NTB yang BERSAING (Beriman dan Berdaya saing)

Advertisements




Khataman Luqman yang Pertama

18 06 2008

….Sebuah postingan yang terlambat…
Alhamdulillah…
Tanggal 6 April yang lalu, Luqman telah mengkhatamkan al-Qur’an untuk yang pertama kalinya.

Teringat masa lalu waktu di Kalimantan, biasanya saat khatam Qur’an diadakan acara seperti ini. Dibuatkan telur warna warni. Ingin menularkan perasaan bahagia yang sama pada Luqman

Tak salah kan? Menyenangkan hati anak…. Menghargai usahanya yang telah bersungguh-sungguh mempelajari Kitab Allah ini…

Malam sebelum khataman kami sempat berpesan pada Luqman. Kami akan memanggil teman-temannya untuk mensyukuri khatamnya dia, tetapi dia harus berjanji akan tetap membaca al-Qur’an. Khataman bukan berarti stop membaca Qur’an. Justru harus semakin rajin membacanya.

Abinya sengaja membuatkan tulisan dengan gambar dirinya. Abinya juga yang merangkai telur, bercerita untuk teman-temannya dan membacakan do’a untuknya.

Karena persiapannya mendadak, telurnya hanya sedikit.
Tapi Luqman tampak bahagia sekali.
You deserve it Son…





TV oh… Jeratanmu TV

8 06 2008

 

Saya sedang mengantri di sebuah praktek dokter gigi ketika hal yang menggelitik batin saya ini terjadi. Biasalah, di beberapa tempat praktek dokter disediakan TV sebagai pengisi waktu agar tidak bosan mengantri. Seorang perempuan yang usianya kira-kira 40 tahun berdiri dan mengganti channel TV tersebut ke stasiun TV yang menayangkan acara infotainment. Dengan seksama dia menyaksikan acara itu. Ketika tiba jeda iklan, dia mengganti channel ke stasiun TV lain yang juga menayangkan acara yang sama (infotainment juga). Saya dan suami saling lirik dan tersenyum. Kata suami, ”Umi dulu begitu.” Saya menjawabnya dengan anggukan dan senyum saya semakin lebar.

 

Ya, saya dulu penikmat TV dan merasa terikat dengannya. Dimanapun berada sebisa mungkin mencari TV. Apalagi bila ada sebuah acara (baca telenovela) yang sedang diikuti dan sedang seru-serunya. Waktu itu saya aktif mengikuti acara ”Bettty Lavea” yang diputar di salah satu stasiun swasta, sekitar tahun 2001 kalau tidak salah. Saya mewajibkan diri saya mengikutinya karena penasaran dengan akhir ceritanya. Saat acaranya sedang disiarkan, dan saya berada di tempat lain rasanya gelisah sekali ingin mencari benda segi empat yang bagi seorang teman dirasa ajaib ini. Sampai saya nekat menelpon saudara yang ada di pulau lain untuk mengetahui lanjutan ceritanya. Gila bener….

 

Suami sering mengingatkan untuk segera mengakhiri kecanduan saya. Apa jawaban saya? ”Nanti deh kalau udah habis gak ngikutin yang lain lagi. Ini yang terakhir”

”Justru disini letak perjuangannya, saat sedang klimaksnya, kalau bisa meninggalkannya luar biasa.” Begitu katanya. Saya setuju dengan kalimatnya itu, tapi kok rasanya masih berat waktu itu untuk melepaskannya.

 

Tapi kemudian dengan azzam yang kuat, Alhamdulillah saya bisa berhenti ?(mengikuti telenovela). Tidak perlu masuk rehabilitasi (memangnya ada ya rehabilitasi untuk pecandu telenovela?).

 

Pernah ada sebuah artikel di majalah UMMI tentang TV yang bisa menjadwalkan kehidupan seseorang. Tulisan itu bagus dan mengena sekali. Bayangkan seorang ibu rumah tangga yang tidak ada kegiatannya di rumah, kalau tidak cermat, bisa terjadwalkan waktunya oleh TV ini. Pagi nonton gosip, agak siang telenovela, siang gosip lagi, menjelang sore reality show, sore gosip lagi, setelah magrib sampai malam sinetron (kapan ngeblognya dong?). Begitu setiap hari. Sampai hapal  jadwalnya, dan akan duduk dengan rapi saat sebuah acara yang disukai lagi ’on’.

 

Dulu saya kagum pada orang-orang yang mampu menghilangkan TV dari rumahnya. Saya ingin seperti itu tapi rasanya belum mampu secara total meniadakannya. Apa excuse saya waktu itu? Ah, TV itu seperti pisau, tergantung siapa yang menggunakan. Yang penting kita bisa memilih acara TV yang baik dan bisa menjelaskannya kepada anak. Kita perlu berita soalnya. Nonton TV itu enak, bisa disambi, kalau baca koran harus serius.

 

Betul memang, nonton TV bisa disambi. Sambil masak, ngurus anak, bersihin rumah, dsb. Karena disambi itulah akhirnya kita sering tidak sadar kalau acara berita habis, berganti dengan acara-acara yang tidak bermutu (maaf kalau saya katakan tidak bermutu, karena ada beberapa acara TV yang saya sama sekali tidak melihat manfaatnya). Akhirnya nonton TV-nya jadi keterusan.

 

Kadang saya tidak bisa mengontrol anak saat mereka nonton TV. Saya pikir saya harus berhenti mengkonsumsi TV itu. Tapi bagaimana caranya? Selama TV masih nangkring dengan manis di atas raknya, sulit menghindarinya.

 

Sampai suatu hari TV kami rusak. Kami kirim ke tukang servis. Bisa ’On’ selama dua hari. Setelah itu mati dan betul-betul mati. Katanya tabungnya yang rusak. Wassalam…..

Mau beli TV baru selain harus mengeluarkan uang lagi, sudah tidak menggebu lagi. Dan Alhamdulillah sampai menjelang dua tahun ini keinginan beli belumlah ada. Saya belum melihat stasiun TV yang bisa diterima di Lombok ini (tanpa berlangganan) yang benar-benar aman. Iklannya itu lho terutama.

 

Nonton berita, ada iklan sinetron yang rata-rata ceritanya tentang kisah cinta dua anak manusia yang kadang adegannya belum pantas ditonton oleh anak seumur anak-anak saya. Kalau anak-anak sering melihat sinetron remaja yang selalu mempertontokan gaya berpacaran remaja masa kini, sehingga terekam dengan baik di otaknya. Mungkin dia tidak langsung mencontohnya sekarang. Tetapi, saya khawatir adegan-adegan itu ingin dicobanya saat masa-masa remaja mulai dimasukinya. 

 

Dan Subhanallah, tidak punya TV ini manfaatnya luar biasa. Jadi banyak waktu yang tidak terbuang, tidak terikat lagi oleh acara-acara yang menjerat.  

 

Ada yang bilang, ’wah ketinggalan berita dong?’. Ya tidak juga. Kami belangganan koran. Malahan dengan begitu Luqman juga ikutan membaca koran. Kami juga memasang TV combo di computer.

Jadi, kalau suatu saat ada berita yang tidak cukup hanya membaca di koran seperti meninggalnya isteri Pak Hidayat Nurwahid dan Pak Harto, kami masih bisa menyimak beritanya melalui tv combo itu.

Ada juga yang bilang, ’nanti anaknya kuper lho’…. Semoga saja tidak. Sebulan sekali mereka kami belikan film anak-anak yang ’layak’ tonton. Sebut saja Finding nemo, Brother Bear, Tarzan (Tarzan kecil), Lion King, The Wild and so on. Saat menonton yang pertama kalinya juga selalu kami dampingi.

Ada yang bertanya, ‘gak takut anaknya malah nonton di rumah orang, kan malah berbahaya?’. Kami hanya mengusahakan apa-apa yang mampu kami lakukan. Ketika dia berada jauh dari jangkauan kami, kepada Allah, Tuhan yang tak pernah terlelap, kami memohon perlindungan atasnya. Yang pasti rambu-rambu dalam bermain sudah sering kami sampaikan.

 

Seorang ibu yang tinggal jauh dari perkotaan juga pernah menulis di majalah UMMI bahwa mereka tetap menggunakan tv di rumah, dan bisa meminimalisir bahayanya. Saya salut kalau dia bisa me-manage tv dengan baik.  Tapi sayangnya saya tidak bisa seteliti itu. Karenanya, sementara ini saya lebih memilih tidak memelihara tv di rumah, sampai waktu yang tidak ditentukan.

Semoga bisa istiqomah.

 

p.s. Maaf ya tulisannya kepanjangan….. hanya ingin berbagi….

Ini adalah pilihan kami… setiap orang tua tentunya ingin memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya, dengan caranya masing-masing..

I’ve got mine, you’ve got yours, let’s respect each others……





Kalau Terjadi Gempa

3 06 2008

Tiba-tiba rumah terasa bergoyang. Seperti ada gempa. Nyai yang lagi duduk menyandar di dinding juga merasakan getaran itu. Tak lama ada SMS dari suami yang saat itu berada di pulau Sumbawa:

”Tadi ngerasa gempa gak?”

Setelah kujawab ”ya” ada SMS masuk lagi:
”Waspada saja, kunci jangan ditaruh jauh-jauh”

 

Mungkin ada yang bertanya, Lho kuncinya kan tempat  nongkrongnya di pintu? Kok jangan ditaruh jauh-jauh?

Seharusnya begitu, tapi setelah beberapa kali ada tetangga yang kerampokan di sekitar rumah, kami berikhtiar menghindari perampokan dengan cara melepas kunci dari lubangnya. Mengingat cara perampok masuk dengan cara mencongkel jendela, kemudian dari lubang jendela membuka kunci pintu.

Kalau saya lupa melepasnya, Luqman sudah otomatis melakukan itu.

 

Kembali ke masalah gempa kecil yang baru saja kami rasakan, saya langsung mengatur rencana dengan Luqman (as the oldest son, meskipun baru 8 tahun tapi dia yang paling bisa diajak berpikir)

Umi: Kakak, kalau pas kita lagi tidur (saat itu waktu menunjukkan pukul 20.00, sudah menjelang waktu tidur), tiba-tiba gempa…. nanti Umi gendong Ade dan nuntun Abang. Kakak yang tuntun Nyai ya… Kita keluar rumah sama-sama…

Kakak: Iya…. yang ambil kunci siapa Mi?

Umi: Nanti Umi yang ambil kunci

Kakak: Tas Umi?

Umi: Tas Umi  Kakak yang bawa keluar ya. Kalau mudah ngambilnya. Kalau susah gak usah, tinggal aja

Kakak: Raket? Kan sayang Mi…. baru dibeli

Umi: Gak usah Kak…. nanti kan bisa beli lagi

Kakak: Bantal kempesnya Kakak?

Umi: Kalau semua mau dibawa gak bisa dong Kak. Yang penting kita selamat dulu

 

Abang Syamil, rupanya ikut menyimak apa yang saya bincangkan dengan Luqman. Begitu Nyai keluar kamar, rencana itu langsung disampaikannya pada Nyai.

Abang: Nyai, ada gempa!!! (tidak pakai ’kalau’ nih). Umi gendong ade, abang sama umi. Kakak sama nyai. Umi bawa kunci, kakak bawa tas. (Pas sekali dengan yang saya rencanakan, rupanya dia betul-betul menyimak ya…)

Nyai: Oh… iya….

Abang: Eh, tapi Umi pakai jilbab dulu Mi ya..

Umi: Oh iya… Umi hampir lupa Bang. Tapi kenapa kok Umi pakai jilbab dulu Bang?

Abang: Ya biar rambutnya gak kelihatan.

Umi: Memangnya kalo rambutnya kelihatan kenapa Bang?

 

Belum sempat dia menjawab, tiba-tiba lampu mati. Semua terkejut. Begitu agak tenang, saya ulangi pertanyaan yang tadi.

Umi: Bang, kalau rambutnya Umi kelihatan kenapa sih?

Abang: Yaaaaa, nanti…… mati lampu lagi…….

Umi, Nyai, Kakak: Hahahaha….. Abang-abang… (ternyata dia memang masih kecil ya)

 

Tak lama kemudian lampu hidup kembali.

Saya menyiapkan anak-anak untuk tidur. Minum susu lalu sikat gigi. Setelah siap mau ke tempat tidur. Abang tampak bingung…..

Abang: Lho… ayo Mi

Umi: Ayo kemana Bang?

Abang: Ayo keluar sekarang Mi. Umi gendong Ade, abang pegang Umi. Kakak pegang Nyai. (what??????…..). Lelaki kecil permata hati kami itu ternyata belum paham makna kata ‘KALAU’.

 

Alhamdulillah, gempa yang besar tidak terjadi. Getaran yang kami rasakan itu adalah akibat gempa yang terjadi di daerah Taliwang, di Pulau Sumbawa.

Ada satu hal yang terlupa, yang semestinya saya sampaikan pada Luqman malam itu. Tentang tawwakal setelah berusaha…..

Saya akan menyampaikannya di lain waktu, insya Allah.