[Ramadhan 1429] Bulan Penuh Ujian

28 09 2008

Kita mengenal Ramadhan sebagai Bulan Tarbiyah, Bulan Ibadah, Bulan Taubat, Bulan Dakwah dan beberapa sebutan lainnya untuk Bulan yang Mulia ini. Ramadhan kali ini, bagi saya merupakan bulan penuh ujian.

Di suatu pagi, tepat dua pekan setelah suami saya terjangkit cacar, ketika saya memeluk Syamil, si nomor dua, saya merasakan panas di beberapa bagian tubuhnya. Saya juga menemukan satu bintik kecil berisi air di wajahnya yang bundar. Syamil tertular cacar. Dokter sudah menginformasikan, kalau memang anak-anak tertular, dua pekan lagi baru terlihat. Dan benar saja, tepat dua pekan berikutnya Syamil tertular juga. Innalillah….

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun” (2:155-156)

“Sabar ya Mi…Abi yang menularkan, sekarang Abi tinggal Umi ngurusin Abang sendirian” Kalimat itu keluar dengan sangat berat dari lisan si abi, karena siangnya dia memang harus berangkat kembali ke Sumbawa.

“It’s ok. Bi…” Saya menjawabnya sambil membayangkan hari-hari ke depan harus rajin melap tubuh Syamil, melumurinya dengan bedak dan menempelkan salep. Terbayang pula rengekan Syamil menahan rasa sakit…. Namun segera saya tata hati… Ini hanyalah sebuah ujian kecil….. kecil… bahkan sangatlah kecil…..

Sorenya saya ajak dia ke dokter dan apotek. Seperti abinya, dia harus mengkonsumsi obat selama 7 hari, setiap hari 5 kali. Bukan masalah besar… Saya bersyukur sang kakak dan adik tidak tertular…. Dan ternyata Syamil sangat sabar menghadapi sakit cacar ini.

”Mi…. kaya’nya ade’ panas ini…” Begitu kata bibi esok pagi harinya.

Saya teliti wajah Fayyadh… Ada tiga titik benjolan yang sangat kecil. Cacar kah? Sepertinya bukan.

Ketika saya buka bajunya, bermaksud memandikannya, saya temukan benjolan yang sedikit lebih besar…. dan berisi air….

Innalillah…. Fayyadh tertular juga. Saya tertawa…. lepas…. Bibi bingung….

”Kenapa Umi tertawa”

”Jadi harus bagaimana Bi?“

Tak ada sedikitpun sinyal dari otak saya yang memerintahkan saya untuk menangis atau bersedih.

Saya kemudian terdiam…..

Tampak sekali bagi saya Allah benar-benar memberikan ujian…. Allahu Akbar… Tak ada satupun yang mampu menghalangi kehendak-Nya….

Ketika abinya sedang terkena cacar, ada komentar dari teman-teman yang berbeda. Ada yang bilang, lebih baik anaknya ditularkan juga, terkena cacar saat masih balita lebih baik. Ada juga yang bilang anaknya dijauhkan dari abinya biar tidak tertular. Yang mana yang harus saya ikuti? Ah, saya lebih memilih menyerahkannya pada DIA yang memberikan penyakit. Jika kemudian Syamil dan Fayyadh tertular juga, maka itulah yang terbaik yang DIA berikan.

Lalu sore harinya saya kembali menemui dokter untuk minta resep obat bagi Fayyadh…

Obat dan dosisnya sama persis…. Diminum 5 kali sehari juga…

Sesampainya di rumah saya langsung membuat tabel minum obat Syamil dan Fayyadh agar tak terlupa…. Memory saya tak cukup kuat untuk merekam apakah mereka sudah mengkonsumsi obat atau belum…Setiap kali selesai meminumkan obat, saya akan menconteng harinya.

Alhamdulillah… masa-masa itu telah berlalu…. Dalam waktu tiga hari cacarnya sudah mengering, dan benar-benar kering setelah tujuh hari. Cacar yang keluar tidak terlalu banyak. Ketika saya bertanya pada dokter, jawabnya itu berarti kondisi tubuh mereka tidak terlalu buruk. Karena ada beberapa teman yang bilang, lebih baik jika cacar itu keluar semua. Tentunya saya lebih percaya apa yang dikatakan oleh dokter.

Kepada sahabat-sahabat tercinta… saya mohon dimaafkan, jarang berkunjung… hanya sesekali….

Ujian-ujian itu cukup menyita waktu..

Dan kini… Ramadhan sudah hampir berada di penghujungnya…

Semoga segala amal ibadah kita di bulan suci ini diterima oleh Allah…

Amin…..

Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu; dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu. (47:31)





[Ramadhan 1429] Allah Sangat Mengasihiku

8 09 2008

Hari itu pertemuan rutin pekanan (liqo) kami yang terakhir, sebelum ramadhan tiba. Saya dan teman-teman merundingkan, akan bagaimana pertemuan pekanan kami selama Bulan Ramadhan. Ada yang mengusulkan pada pertemuan pertama selama Bulan Ramadhan (yang saat itu bertepatan dengan Ramadhan hari pertama), diadakan sore hari sekalian ifthar Jama’i (Berbuka puasa bersama). Kemudian dijawab, karena itu adalah berbuka puasa hari pertama, lebih baik kita di rumah saja, agar bisa berbuka puasa bersama keluarga. Saya tersenyum, saya katakan bahwa di rumah atau dimana sama saja bagi saya. Bagi orang lain puasa hari pertama mungkin istimewa. Tapi bagi saya tiga puluh hari puasa tersebut sama istimewanya. Sembilan tahun menikah, mungkin hanya sekali atau dua kali pernah berbuka puasa pada hari pertama puasa bersama suami. Selebihnya saya hanya berbuka sendiri, atau dengan anak-anak. Ketika ada yang mengomentari, ’Sabar ya Mba’. Saya tersenyum kembali. ’Sudah biasa, ’ Kata saya kemudian.

Keinginan untuk senantiasa berbuka bersama suami tentulah ada. Tapi tak bisa memaksa jika keadaan tak memungkinkan. Bahkan pada hari Senin-Jum’at saya akan berbuka di masjid bersama anak TPQ di perumahan. Saya dan pengurus yang lain bertugas mengatur buka puasa mereka. Jadi, ketika jadwal OFF suami bertepatan dengan hari itu (Senin-Jum’at) suami juga memilih berbuka puasa di masjid bersama dengan pengurus Ta’mir yang lain. Dalam satu bulan Ramadhan itu tak lebih dari 8 hari kami bisa berbuka puasa bersama.

Namun…. Allah memang mengasihiku (dan kita semua)… sungguh…

Suami saya pulang dari Sumbawa, tempatnya bekerja, hari Rabu, 27 Agustus yang lalu. Hari kamisnya dia mengeluhkan badannya yang dirasa tidak nyaman. Ketika saya sentuh keningnya terasa hangat. Malam Sabtunya saya temani dia ke dokter. Sang dokter memberikan istirahat baginya 3 hari, artinya hari Senin sore dia baru dianjurkan berangkat kerja. Artinya suami bisa merasakan puasa hari pertama di rumah. Merasa senang dibalik musibah sakit yang menimpanya? Bukan, hanya merasa, di balik sakitnya ada hikmah yang tersimpan.

Tapi… ketika hari Sabtunya suami merasa badannya lebih baik, dia ingin berangkat kembali ke Sumbawa sorenya. Baiklah, saya tak ingin menghalanginya yang tidak ingin lama-lama izin. Bagi saya tak apa puasa sendiri, saya hanya mengkhawatirkan kondisinya yang belum fit benar.

Sekali lagi Allah Maha Pengasih…. Allah mengasihi suamiku… DIA ingin meleburkan dosa-dosa suamiku sebelum memasuki Bulan yang penuh rahmat ini…. DIA ingin memberikan istirahat yang lebih pada suamiku…. Maka dimunculkanlah bintik-bintik kecil, yang berisi air… Yang membuatnya memanggil saya untuk meyakinkan dirinya apakah benar bintik-bintik itu adalah cacar air. Setelah saya perhatikan, dan karena dulu pernah terkena, saya mengangguk. Ya dia terkena cacar. Dokter yang kami kunjungi (lagi) malam itu semakin meyakinkan bahwa suami saya benar-benar terkena cacar. Surat keterangan sakit yang diberikan malam sebelumnya diedit, dari tiga hari menjadi 7 hari. Sebetulnya, dengan surat keterangan bahwa suami terkena cacar saja, perusahaan bukan hanya mengizinkan, tapi mengharuskan karyawannya untuk tidak bekerja. Mungkin karena cacar ini jenis penyakit menular ya..

Lihatlah betapa pengasihnya Allah…

Dia berikan suamiku istirahat yang lebih… Karena saya memang melihat kelelahan yang sangat pada dirinya. Bukan hanya fisik tapi juga pikiran.

Dia berikan kesempatan bagi saya dan suami untuk merasakan puasa hari pertama. Bahkan tak cukup hanya hari pertama, tetapi delapan hari pertama. Saya juga tentunya akan izin kepada pengurus TPA yang lain untuk tidak berbuka di masjid dulu. Tak mungkin saya membiarkan suami yang sedang sakit berbuka puasa di rumah sendirian.

Beginilah cara Allah mengasihi kami

Subhanallah walhamdulillah…..

Meskipun untuk itu suami saya harus merasakan gatal di tubuhnya karena cacar itu..

Tapi Alhamdulillah… dia bisa bersabar….