[Madura] Kenalan Dulu ya…

30 12 2008

picture-072Madura…

Apa yang terlintas dalam benak anda ketika mendengar kata Madura?

Sate? Garam? Karapan sapi? Carok?

Hehehe… sampai juga ke carok.

Katanya orang Madura itu keras dan pemarah. Katanya…

Tapi saya menemukan ibu saya sebagai orang yang paling sabar di seluruh dunia.

Dia adalah asli keturunan Madura.

Mungkin mayoritas keras dan pemarah…. Tapi tidak semuanya.

Sedikit info tentang Madura yang saya copy dari Tante Wiki ..

Madura adalah nama pulau yang terletak di sebelah timur laut Jawa Timur. Pulau Madura besarnya kurang lebih 5.250 km2 (lebih kecil daripada pulau Bali), dengan penduduk sekitar 4 juta jiwa.

Suku Madura di Indonesia jumlahnya kira-kira ada 10 juta jiwa (data tahuin 2004, kira-kira termasuk saya tidak ya?). Mereka berasal dari Pulau Madura dan pulau-pulau sekitarnya, seperti Gili Raja, Pulau Sapudi, Pulau Raas dan Kangean. Selain itu, orang Madura tinggal di bagian timur Jawa Timur, dari Pasuruan sampai utara Banyuwangi. Orang Madura di Situbondo dan Bondowoso, serta timur Probolinggo jumlahnya paling banyak, dan jarang yang bisa berbahasa Jawa.

Suku Madura juga banyak dijumpai di provinsi lain seperti Kalimantan, di tempat huruhara di Sampit dan Sambas. Orang Madura pada dasarnya adalah orang yang suka merantau karena keadaan wilayahnya yang tidak baik untuk bertani. Orang Madura senang berdagang dan dominan di pasar-pasar. Selain itu banyak yang bekerja menjadi nelayan, buruh, pengumpul besi tua dan barang-barang rongsokan lainnya.

Suku Madura terkenal karena gaya bicaranya yang blak-blakan serta sifatnya yang keras dan mudah tersinggung, tetapi mereka juga dikenal hemat, disiplin dan rajin bekerja. (Tuh kan, dikenalnya sebagai orang yang keras dan mudah tersinggung. Tapi saya enggak lho…. Eh, iya sih… sedikit)

Untuk naik haji, orang Madura sekalipun miskin pasti menyisihkan sedikit penghasilannya untuk simpanan naik haji. Selain itu orang Madura dikenal mempunyai tradisi Islam yang kuat, sekalipun kadang melakukan ritual Pethik Laut atau Rokat Tasse (sama dengan Larung Sesaji).

Harga diri, juga paling penting dalam kehidupan orang Madura, mereka memiliki sebuah peribahasa “Lebbi Bagus Pote Tollang, atembang Pote Mata”. Artinya, lebih baik mati (putih tulang) daripada malu (putih mata). Tradisi carok juga berasal dari sifat itu.

Madura dibagi menjadi empat kabupaten, yaitu:

  1. Bangkalan (Bapak dan ibu saya aslinya dari sini)
  2. Sampang
  3. Pamekasan
  4. Sumenep

Pulau ini termasuk provinsi Jawa Timur dan memiliki nomor kendaraan bermotor sendiri, yaitu “M”.

Sejarah

Secara politis, Madura selama berabad-abad telah menjadi subordinat daerah kekuasaan yang berpusat di Jawa. Sekitar tahun 900-1500, pulau ini berada di bawah pengaruh kekuasaan kerajaan Hindu Jawa timur seperti Kediri, Singhasari, dan Majapahit. Di antara tahun 1500 dan 1624, para penguasa Madura pada batas tertentu bergantung pada kerajaan-kerajaan Islam di pantai utara Jawa seperti Demak, Gresik, dan Surabaya. Pada tahun 1624, Madura ditaklukkan oleh Mataram. Sesudah itu, pada paruh pertama abad kedelapan belas Madura berada di bawah kekuasaan kolonial Belanda (mulai 1882), mula-mula oleh VOC, kemudian oleh pemerintah Hindia-Belanda. Pada saat pembagian provinsi pada tahun 1920-an, Madura menjadi bagian dari provinsi Jawa Timur.[1]

Ekonomi

Secara keseluruhan, Madura termasuk salah satu daerah miskin di provinsi Jawa Timur[2]. Tidak seperti Pulau Jawa, tanah di Madura kurang cukup subur untuk dijadikan tempat pertanian. Kesempatan ekonomi lain yang terbatas telah mengakibatkan pengangguran dan kemiskinan. Faktor-faktor ini telah mengakibatkan emigrasi jangka panjang dari Madura sehingga saat ini banyak masyarakat suku Madura tidak tinggal di Madura. Penduduk Madura termasuk peserta program transmigrasi terbanyak (Tak heran kalau bapak saya pun terlahirnya di Kalimantan)

Pertanian subsisten (skala kecil untuk bertahan hidup) merupakan kegiatan ekonomi utama. Jagung dan singkong merupakan tanaman budi daya utama dalam pertanian subsisten di Madura, tersebar di banyak lahan kecil. Ternak sapi juga merupakan bagian penting ekonomi pertanian di pulau ini dan memberikan pemasukan tambahan bagi keluarga petani selain penting untuk kegiatan karapan sapi. Perikanan skala kecil juga penting dalam ekonomi subsisten di sana.

Tanaman budi daya yang paling komersial di Madura ialah tembakau. Tanah di pulau ini membantu menjadikan Madura sebagai produsen penting tembakau dan cengkeh bagi industri kretek domestik. Sejak zaman kolonial Belanda, Madura juga telah menjadi penghasil dan pengekspor utama garam.

Bangkalan yang terletak di ujung barat Madura telah mengalami industrialisasi sejak tahun 1980-an. Daerah ini mudah dijangkau dari Surabaya, kota terbesar kedua di Indonesia, dan dengan demikian berperan menjadi daerah suburban bagi para penglaju ke Surabaya, dan sebagai lokasi industri dan layanan yang diperlukan dekat dengan Surabaya. Jembatan Suramadu yang lama direncanakan dan kini sedang dalam tahap pembangunan diharapkan meningkatkan interaksi daerah Bangkalan dengan ekonomi regional.

Budaya

Madura terkenal dengan budaya Karapan sapinya.

Itu sedikit info tentang Madura.

Dalam urusan politik. Madura belakangan jadi penentu nasib 2 pasangan Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur Jawa Timur, KarSa (Pak Dhe Soekarwo dan Saifullah Yusuf) dan KaJi ( Khofifah Indar Parawansa dan Mudjiono). “MK memerintahkan Komisi Pemilihan Umum (KPU Jatim) Jawa Timur melakukan coblosan ulang Pilkada di Kabupaten Bangkalan dan Sampang, serta melakukan penghitungan suara ulang di Kabupaten Pamekasan“.

Semoga info ini bermanfaat. Saya sendiri baru tahu info detail tentang Madura setelah membaca wikipedia. Thanks to Wikipedia.

Advertisements




[Catatan Perjalanan] Madura Sebagai Tujuan Pertama

22 12 2008

Dengan tergesa-gesa kami berangkat ke bandara menggunakan taxi. Waktu sudah menunjukkan pukul 11.30. Sudah masuk waktunya check in. Syukurnya jarak antara rumah dan bandara tidak terlalu jauh. Dalam waktu tak lebih dari 10 menit dan membayar taxi Rp. 10.000,- kami sudah tiba di bandara. Antrian check in cukup panjang. Rupanya sebagian orang juga memilih check ini di akhir waktu. Setelah membayar airport tax sebesar Rp.20.000,- per orang kami segera masuk ke ruang tunggu. Dan terbanglah kami ke bandara Juanda Surabaya.

Mungkin masih ingat rencana perjalanan kami (Sidoarjo-Gresik-Madura-Malang), yang waktu itu sempat membingungkan sebelum memutuskan daerah mana yang akan dikunjungi lebih dahulu. Malam sebelum berangkat kami memutuskan untuk langsung menuju Madura dari Juanda.

Setibanya di juanda, abi mengurus bagasi, saya menunggu sambil mencari informasi tentang angkutan yang termurah tapi cepat ke Pelabuhan Perak. Kali ini kami sengaja tidak minta jemput keluarga yang ada di Madura. Ada seorang cleaning service yang ramah (catatan: cleaning service di bandara Juanda ramah-ramah), yang memberikan beberapa pilihan angkutan yang bisa kami gunakan.

1. Naik DAMRI ke Bungur Asih, tarifnya kurang lebih 10.000, dilanjutkan dengan naik bis ke Pelabuhan Perak dengan tarif perkiraan 5.000–10.000. Kalau hitungannya tiga orang maka kami akan membayar 45.000–60.000 dengan durasi perjalanan yang lebih lama, mungkin akan memakan waktu 2 – 3 jam.

2. Naik taxi bandara, kemungkinan tarifnya 80.000

3. Naik kijang, mereka tidak tahu berapa tarifnya.

Begitu keluar dari bandara, yang pertama kali terlihat adalah loket penjualan tiket taxi. Saya mencoba bertanya. Tarif taxi sampai Pelabuhan Perak adalah Rp. 118.000,-. Setelah diskusi sedikit, kami putuskan untuk naik taxi bandara ini. Dua kali lipat mungkin dari harga bis tapi tentunya perjalanannya lebih singkat.

Abi sempat bertanya kepada supir kijang yang menawarkan jasanya pada kami. Tarif kalau sampai Perak 130.000. Syukurlah, ternyata taxi lebih murah dari kijang tersebut.

Kami memilih lewat tol. Dengan membayar 8.000 kami tiba di Pelabuhan Perak kurang lebih 1 jam. Sampai di Perak, kami langsung membeli tiket ferry. Untuk dewasa 4.000, anak-anak 2.000. Cukup murah ya..

picture-015

Saat berada di atas ferry, cukup kaget juga lihat kondisi ferrynya dibanding 3 ½ tahun yang lalu waktu saya terakhir ke Madura. Ferrynya bersih. Bersih sekali. Ada seorang wanita yang berdiri di ujung tangga. Penampilannya seperti pramugari, hanya lebih macho. Perempuan itu dengan tegas memerintahkan penumpang yang naik dengan menghisap rokok untuk segera mematikan rokoknya. Ferry itu bebas asap rokok. Dia juga tak sungkan membantu ibu-ibu yang kesulitan membawa barang-barangnya ke atas kapal. Saya tak pernah menemukan perempuan itu sebelumnya. Kemajuan yang pesat. Alhamdulillah…

Sekitar 45 menit kemudian kami tiba di Pelabuhan Kamal, Madura. Kapalnya belum merapat dengan sempurna, sudah banyak laki-laki yang menawarkan jasa angkutan ke kota. Sesuai pesan kakak saya, tarif normalnya 30.000-50.000. Salah satu supir menawarkan ongkos 80.000 dengan ngotot, tak bisa ditawar. Saya pura-pura menelpon kakak untuk minta dijemput, akhirnya si supir menyerah dengan harga 50.000. Perjalanan ke Burneh, tempat kakak saya tinggal memakan waktu sekitar 45 menit.

Akhirnya tibalah kami di pulau dimana kenangan masa kecil saya sempat terekam beberapa saat.

(Tulisan ini sengaja saya buat agak detail, siapa tahu kelak ada yang membutuhkannya. Jika dianggap tidak penting, diskip saja ya…)





[IBSN] Informasimu Untukku

6 12 2008

Blogging, bagi sebagian orang mungkin akan dianggap membuang waktu. Padahal banyak sekali manfaat yang dihasilkan dari aktivitas yang satu ini. Terkadang sebuah tulisan dalam blog pribadi memberikan informasi yang mungkin bagi orang lain sangat berarti. Bisa jadi si penulis tidak menyadari bahwa tulisannya bermanfaat bagi orang lain, karena memang ada beberapa blogger yang menjadikan tulisannya hanya sebagai diary, sebuah catatan perjalanan hidup.

Ketika sebuah tulisan mengandung informasi (positif) bagi orang lain, bukankah itu merupakan amal bagi si penulis? Otomatis kebaikan yang tercipta dari tulisannya akan kembali padanya. Benarlah jika dikatakan siapa menebar kebaikan akan mendapatkan kebaikan pula.

Saya belum dua tahun memiliki blog, jadi wajarlah jika tak banyak (bahkan mungkin tak ada) informasi yang bisa saya tularkan kepada orang-orang yang berkunjung ke blog saya. Tapi, saya sudah begitu banyak mendapatkan manfaat dari berkunjung ke blog orang lain. Apakah itu kunjungan yang saya sengaja maupun tidak.

Contohnya, waktu mau berangkat ke beberapa kota di Jawa Timur kemarin, saya betul-betul memerlukan informasi tentang rute dan transportasi yang paling pas, serta tempat-tempat wisata yang tersedia disana.

Coba googling, dapat beberapa informasi. Ah, senangnya.

Terima kasih kepada blogger yang rela membagi informasinya.

Contoh yang lain, ketika saya memiliki tepung hunkwe yang cukup banyak di rumah, dan bingung mau diapakan. Saya cukup mengetik kata ‘hunkwe’ di google, maka muncullah beberapa jenis panganan yang bisa diolah dari tepung ini.

Tampilan yang muncul di layar tersebut tidak akan ada jika tak ada yang bermurah hati menuliskannya bukan?

Do’a saya, semoga orang-orang yang telah ikhlas berbagi informasi tersebut senantiasa berada dalam kasih sayang-Nya. Amin…

Bagaimana dengan Anda? Sudahkah bloging terasa bermanfaat bagi Anda?