Pertolongan-Nya Begitu Nyata

30 01 2009

Selasa malam, sekitar pukul 2 dini hari, saya dikejutkan atas sentuhan kulit Fayyadh, anak bungsu kami, yang terasa sangat panas. Tidak biasa…. Kalau boleh mengira-ngira, suhunya sekitar 39-40 derajat. Biasanya, bila sedang demam, tubuh anak-anak tidak langsung panas, hangat dulu. Saya merasakan hal yang ganjil. Saya langsung teringat banyaknya warga perumahan yang terkena Demam Berdarah. dsc01203

Pagi harinya saya dan suami berinisiatif membawanya ke Lab untuk cek darah, tapi saat itu serum DB sedang kosong. Maka kami membawanya ke Rumah sakit yang memiliki lab. Disana kami tidak disarankan untuk cek darah karena panasnya Fayyadh baru 1 hari, virus DB tidak akan terlacak. Biasanya virus baru dapat dideteksi setelah tiga hari. Akhirnya kami hanya konsultasi dengan dokter anak yang sedang jaga. Oleh dokter tersebut Fayyadh diberi obat penurun panas dan batuk pilek.

Hari itu adalah jadwal suami kerja ke Sumbawa. Maka berangkatlah ia sore harinya. Sampai malam menjelang, panas di tubuh Fayyadh tidak turun juga. Dia juga tak tenang tidur, menangis sepanjang malam, hanya diam jika digendong. Tak lazim. Anak-anak biasanya tidak pernah sampai minta digendong ketika sakit. Saya pikir pasti ada sesuatu yang lain.

Sampai tiga hari panasnya tetap bertahan, turun mungkin hanya 1 derajat, setelah saya beri tambahan sanmol.

Hari Sabtu, pukul 10.00 pagi, saya putuskan membawanya ke Lab untuk tes darah. Kasihan melihat dia meronta-ronta ketika petugas mengambil sampel darahnya. Hasil baru dapat diketahui pukul 14.00, lalu pulanglah saya.

Saya meminta tolong seorang sahabat mengambilkan hasilnya. Pukul 13.30 sahabat tersebut menelpon dan memberi kabar, “Dik, Qowwam (panggilan lain Fayyadh) positif DB, harus segera diopname, trombositnya drop, 85.000. Apalagi fungsi hatinya tinggi, ada virus di hatinya”.

Saat itu tangan saya yang sedang menggenggam hand phone terasa bergetar. Panik. Ini adalah kasus yang pertama. Dua kakaknya sebelumnya sakit tidak pernah sampai diopname. Bingung. Apa yang harus saya lakukan? Akhirnya saya telpon suami untuk memberi kabar. Dia menenangkan saya dan berjanji akan segera pulang. Khadimat saya panggil untuk menemani Luqman dan Syamil. Setelah itu saya panggil taxi dan menuju ke rumah sakit.

Sampai di UGD rumah sakit tersebut, Fayyadh dipasangi infus. Ujian dimulai dari sini. Jarum infus tak mampu menembus urat halus Fayyadh. Mungkin ada sekitar 6 sampai 7 kali tangan dan kakinya ditusuk jarum. Kasihan sekali… dia hanya bisa menjerit-jerit antara kesakitan dan ketakutan. Syukurlah akhirnya berhasil juga. Tiga jam kemudian Fayyadh dipindah ke kamar. Kamar yang nyaman. Tapi belum bisa terasa nyaman bila melihat kondisinya yang lemas. Tak ada senyum dari bibirnya, matanya memancarkan trauma. Ah, sangat menyayat hati.

Malamnya dia tak tenang tidur, apalagi geraknya dibatasi oleh jarum infus yang menempel di kakinya. Pukul 5 shubuh, jarum infusnya terlepas karena gerakannya. Darah menetes dari kakinya. Perawat akhirnya melepas infusnya, dan mengistirahatkan sejenak. Infus baru dipasang kembali pada pukul 9 pagi. Syukurnya hanya sekali tusuk di tangannya langsung tepat, jadi tak perlu melihat tangan dan kakinya ditusuk berulang-ulang. Malamnya, dia kembali tak bisa tenang. Merengek-rengek. Saya diceritakan oleh salah satu kawan yang pernah mengalami DB ini, bahwa sakitnya memang luar biasa. Seluruh tubuh terasa sakit. Tak heran jika Fayyadh terus merintih. Mungkin rasa tak nyaman itu juga disebabkan oleh infusnya yang kadang meleset, macet, dsb. Hingga pagi harinya infus itu benar-benar macet sehingga harus dilepas. Perawat yang bertugas pagi itu mencoba untuk memindahkan posisi jarum infusnya. Namun tak berhasil, apalagi seluruh tubuh Fayyadh mengalami pembengkakan. Uratnya semakin sulit dicari. Perawat tersebut tidak melanjutkan usahanya. Fayyadh diberi istirahat. Petugas lab mengambil darahnya uintuk diperiksa. Trombositnya turun, 63.000.

Dokter yang datang memeriksa meminta agar konsumsi air minum Fayyadh ditambah, sore akan diambil darah lagi, jika ada peningkatan, selang infus tak perlu dipasang. Mendengar itu saya berusaha memberi minum Fayyadh dengan air putih, jus jambu batu dan sari kurma. Abinya berinisiatif memberinya air zam-zam. Kami paksa ia minum, karena memang ia sudah tak mau membuka mulutnya. Seluruh tubuhnya yang bengkak kami usap dengan air zam-zam. Ingat pesan dokter dan perawat, jika tak ingin infus dipasang harus minum banyak, saya susui dia sambil tidur. Syukurnya dia banyak minum ASI. Lepas sedikit saya masukkan lagi. Saya yang akhirnya meminum air zam-zam, sari kurma dan jus jambu itu. Kami ingin sekali melihat trombosit itu naik. Abinya sangat benci melihat infus dan jarumnya yang sungguh menyiksa anak kami. Sorenya tak sabar kami bertanya pada perawat tentang hasil lab. “Tetap harus diinfus bu”. Ohhhhh… Belum genap ujian yang Allah berikan…

Trombosit sudah naik menjadi 66.000, namun dokter tetap memasang infus untuk berjaga-jaga. Usai shalat maghrib perawat mencoba memasang infus kembali, namun berakhir dengan kegagalan. Jarum tetap tak mampu menemukan uratnya. Kami sungguh tak kuasa melihat dia meronta-ronta menahan sakit. Air mata keluar begitu saja dari ujung mata kami. Perawat memutuskan untuk menundanya. Hingga pagi, perawat tak datang ke kamar. Malam itu tidur kami lumayan tenang. Sepanjang malam saya tetap memberika ASI kepada Fayyadh, tanpa jeda yang lama.

Pagi hari, perawat datang membawa peralatan infusnya, mencoba memasangkannya kembali ke tangan Fayyadh. Lagi-lagi, tak berhasil. Petugas lab datang lagi untuk mengambil darahnya. Kami tak henti berdoa, semoga trombositnya bisa naik. Dua jam kemudian, perawat masuk tiba-tiba dan memberitakan sebuah kabar yang melambungkan hati kami berdua. Trombositnya sudah naik 172.000 dan dokter memutuskan untuk menghentikan infusnya. Allahu akbar….. Allah begitu nyata pertolongannya. Dia begitu dekat. Kenaikan yang pesat, tanpa infus….

Subhanallah….. Dia Maha Besar…. Maha Mulia…. Maha Agung…Kami langsung tersungkur bersujud…

Bagi saya… yang paling mengkhawatirkan adalah melihat tubuhnya yang bengkak, walau dokter sudah menyatakan bahwa itu tidak apa-apa, itu pengaruh dari cairan infus yang dimasukkan.

Sementara, yang paling tak tahan dilihat oleh abinya adalah saat jarum-jarum infus itu dimasukkan ke tangannya kemudian digoyang-goyang untuk mencari uratnya. Entah sudah berapa banyak lubang yang diakibatkan oleh jarum infus tersebut. Malam Senin itu…. Kami berdo’a kepada Allah dengan kekhusyukan yang mendalam. Benarlah apa yang dituliskan oleh seorang teman dalam sebuah pesan singkatnya melalui HP:

“Sabar ya Mba… Allah lagi kasih surat cinta buat mbak supaya lebih berbunga-bunga ketika berdo’a padanya-Nya…..” (Syukran ya Mbak Rina, atas motivasinya)

Benar… Allah terasa ada disana. Mendengarkan… Memperhatikan… Menunggu hingga saya menyelesaikan do’a yang saya panjatkan.

Allah sedang mengingatkan kami… yang selama ini mungkin kurang ikhlas dalam beribadah…

Ketika Senin paginya infus macet, perawat mencoba memasang lagi dan tak berhasil, kami mengira Allah masih menguji, padahal disitulah jawaban Allah atas do’a kami. Bukankan abinya ingin sekali melihat infus itu dilepas karena baginya itu penderitaan bagi Fayyadh. Saya sendiri khawatir jika infus terus dipasang, bengkaknya semakin besar. Dan infus tak dapat terpasang juga, hingga Selasa pagi. Kami tak perlu melihat infus itu terpasang di tubuh kecilnya lagi. Betapa berbahagianya kami pagi itu.

Entah apa yang menjadi asbab kesembuhan Fayyadh… Hanya Allah yang tahu.

Apakah do’a kami, cairan infus, jus jambu, sari kurma, air zam-zam, ASI, atau keikhlasan do’a sahabat-sahabat kami? Bahkan ada salah satu sahabat yang mengkhususkan shalat malam dan dhuha untuk berdo’a bagi kesembuhan Fayyadh. Namun apapun asbabnya, jelas sekali bahwa ini adalah pertolongan Allah.

Kepada-Nya kita menyembah dan kepada-Nya lah kita meminta pertolongan. Kepada-Nya hendaklah dikembalikan segala urusan.

Demam Berdarah – selama ini saya menganggapnya sebagai penyakit yang biasa. Ternyata setelah anak sendiri yang mengalaminya, DB bukanlah penyakit yang ringan, terutama bila yang menderita adalah anak-anak. Sebisa mungkin kita menghindarinya….

Kepada seluruh sahabat, yang bagai saudara…Terima kasih atas perolongannya…Semoga Allah saja yang membalasnya


Actions

Information

21 responses

30 01 2009
hmcahyo

temen saya punya cerita yang mirip, sempat saya tulis disini

http://hmcahyo.wordpress.com/2008/09/23/marhaban-ramadhan-kekuatan-tawakal-dan-doa/

Ya… sudah saya kunjungi.
Subhanallah ya ALlah memang benar janji-Nya

30 01 2009
ridwan

Alhamdulillah, qowwam sudah sembuh.
Mudah2an Allah senantiasa menjaganya.

(Ridwan & Rina)

Amin…. terima kasih….

30 01 2009
ven

Mba niiinnnn…aku bacanya sampe berkaca-kaca..

bisa merasakan bagaimana rasanya diposisi mba nin pd saat itu…aku juga paling ga tahan mba kalo liat jarum infus hrs menembus tangan anak2 yg mungil…bener2 ga tega ya mbaa. Anak-anak sakit, rasanya kita malah lebih sakit…

Alhamdulillah, fayyadh dah sembuh…semoga lindungan Allah selalu bersamanya ..

Amin..
Makasih Tante Ven

30 01 2009
lovepassword

Syukurlah segalanya berjalan dengan baik.

🙂

31 01 2009
Rita

Merinding mbacanya mba, gak bisa ngomong apa2 yg berputar2 dibenak adalah, teguran kasih sayang Allah yang begitu setia menggoda hambanya yg lalai, betepa Maha Penyayang dan Maha Menjaganya DIA, betapa Maha pemberi selamat dan maha memberi jalan….Dia Maha Penyayang

Betul Mbak…
Saya bersyukur Allah mengngatkan saya..

31 01 2009
Rita

Alhamdulillah si adik udah sembuh. Panas tubuh yang menddak perlu diwaspadai ya mba, makasih infonya..

Alhamdulillah.
Iya Mbak… harus segera diwaspadai

1 02 2009
Danish

Salam…
Alhamdulillah…
Sesungguhnya Allah sentiasa perkenankan permintaan hambanya…asalkan kita berdoa dan berusaha….seperti maksud ayat …”Berdoalah nescaya akan AKU perkenankan….”

Benar sekali.
Asal dalam berdo’a kita meyakini benar pertolongan-Nya

1 02 2009
Zulmasri

Alhamdulillah. selamat bu, suatu mukzizat, atau karunia, atau karomah Allah sedang berlaku.

Alhamdulillah

Alhamdulillah…

2 02 2009
emma

Mbak’Niiin…aku tau isi hati mu saat itu..ada gundah di sana..
tapi Allah maha kasih ya untuk keluargamu..

semoga semua kini akan lebih baik lagii

*Peluk Mbak Ema*
Makasih ya Mbakk

2 02 2009
achoey

Subhanallah
Semoga putranya segera sehat kembali
Sungguh Bunda adalah orang penyabar

Alhamdulillah…
Semoga betul jadi orang yang penyabar…

2 02 2009
nh18

Ah Ibu NIn …
Saya merinding membacanya …
Urat darah untuk Infus yang gak ketemu-ketemu … Arrgghhh ini siksaan Bu …
Kalau boleh rasanya kita ingin menggantikan derita itu …

But … ALHAMDULILLAH … semua sudah lewat ya Bu ….

Yang jelas … saya selalu mendoakan semoga Fay … (juga Luqman dan Syamil, Ibu dan Abi …) Selalu sehat-sehat …
Selalu dalam lindungan-Nya …

Salam Saya …
Doa Saya …

Terima kasih Pak NH…
Alhamdulillah semua sudah berlalu…

2 02 2009
mujahidahwanita

Assalamu’alaikum Wr,Wb

Saya mengerti apa yang ibu rasakan,alahamdulillah anak ibu sudah sembuh.

Sungguh Maha Besar Allah serta Maha Penyayang yang selalu senantiasa menjaga hamba-hamba_Nya agar tidak pernah lalai untuk mengingat dan Me Agungkan kebesaran _Nya.

Semoga keluarga ibu selalu di dalam limpahan Kasih Sayang_Nya

Salam damai selalu…

Amin….
Dia memang sungguh Maha Penyayang…

2 02 2009
tren di bandung

tidak ada yang salah dari segenap penciptaan Allah swt dalam alam semesta ini.
juga tidak ada hasrat kejam dari segenap takdir yang kita alami.
hanya sebuah sarana untuk menjadi tahu, menjadi tegar, dan menjadi dekat kepada-Nya.

Taushiyahnya mengena sekali.
Terima kasih

2 02 2009
Ucha

Qadarullah.. semua itu skenario Allah untuk menguji..

Ya… Allah sedang menguji

2 02 2009
syelviapoe3

Alhamdulillah, mbak..sudah sembuhkah ?

Pertolongan Allah itu begitu dekat, ya…

Sampaikan salam dari ammahnya ini, ya, mbak…

Semoga Qowwam cepat pulih..

Amin… Terima kasih Amah…
SEkarang udah main lagi…

2 02 2009
uwiuw

wah mbak nin. semoga tidak terjangkit. Bahaya loh. Apalagi kalau penyakit ini sampe kena orang orang yg kita sayangi. Rasanya perih. salam dan doa dari bandung

Terima kasih…
Ya… jangan sampai terjangkit dua kali dah…

3 02 2009
siponang

oga mbake cepat sembuh ya ante……

Amin…

3 02 2009
uki21

Semoga keluarga mba sehat selalu..

Amin..
Terima kasih…

3 02 2009
idawy

Mbak, saya mbacanya sampe merinding.. kasian Fayyadh mesti mengalami ini.. Mudah2an cepet sembuh dan kembali aktif ya Mbak..

salam sayang buat Fayyadh, saya hanya bisa bantu doa dari sini..

Terima kasih Tante…
Apalagi yang menghadapinya ya…

8 02 2009
fitri

alhamdulillah sudah sehat ya mbak…

Ya… Alhamdulillah…

8 05 2009
lies harby

sesak dadaku bc tulisan umi Fayyadh…Alhamdulillah, Allah memang sangat dekat, lebih dekat drpd urat nadi kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: