Dia Ibuku, Cinta dan Kesabarannya Tak Pernah Mati

27 09 2010

Wanita itu duduk di sudut tempat tidurnya  sejak pulang dari mesjid pukul 05.15 hingga 08.05. Tak beranjak sedikitpun. Di tangannya yang sudah dipenuhi tanda-tanda penuaan tetap tergenggam erat Qur’an kecil yang lengkap dengan terjemahannya. Suatu hari dia berkata, “Be’eng le tammat Nin? engko’ cek abite, lo’ mat-tammat” (Kamu sudah khatam Nin? Saya lama betul nggak khatam-khatam). Ini Bahasa Madura, sahabat. “Soale engko’ ebeca bi’ artene” (soalnya saya dibaca dengan artinya). Ya, Ramadhan tahun ini dia memang ingin mengkhatamkan membaca qur’an beserta artinya. Sebagai informasi, dia tidak pernah belajar membaca dan menulis di sekolah resmi. Dia belajar sendiri. Tapi minat bacanya memang tinggi, walau kadang dia tak mampu mencerna secara sempurna apa yang dibacanya. Kata salah seorang kakak iparku, “Nyai itu kenapa masih kuat dan nggak pikun, karena rajin membaca, keinginan belajarnya tinggi, otaknya dipakai.” Aku setuju…

Siapakah dia yang oleh kakak iparku itu dipanggil “Nyai”? Dia ibuku, “Nyai” itu untuk memanggil nenek dalam bahasa Madura. Dahulu aku memanggilnya dengan sebutan yang lazim digunakan di Kota Balikpapan ini, “Mama’”, tapi setelah memiliki anak aku ikut pula memanggilnya “Nyai” untuk membiasakan anak-anak. Usianya sudah lebih dari dua kali usiaku, kira-kira 80 tahunan. Maklumlah, orang jaman dulu tak pernah ingat kapan tanggal lahirnya, jadi tidak tahu usia pastinya. Setelah melihatnya duduk dengan tekun sambil membaca Qur’an dan artinya itu, otakku langsung memerintahkan tangan untuk menulis, jangan ditunda lagi. Selama ini banyak sekali hal tentangnya yang ingin kutuangkan dalam tulisan, tapi selalu tertunda.

Ibuku adalah  perempuan yang kuat, secara lahir maupun bathin. Kisah hidupnya, lebih konflik dari pada kisah sinetron yang sepertinya sekarang ini sudah kehabisan ide cerita hingga selalu berputar-putar pada masalah yang sama.

Lahir dari sebuah keluarga petani sederhana di kampung kecil yang bernama kramat. Salah satu desa di kecamatan Bangkalan, kabupaten Bangkalan, Madura. Suatu hari ketika sedang berada di sawah bersama saudaranya, sebuah pesawat terbang melintas di atas mereka. Dia berkata, “Apa rasanya naik kapal terbang itu ya”. Saudaranya tertawa, “Apa Sah (Namanya Aisah), kamu itu macam-macam.” Saat itu dia benar-benar memimpikan bisa naik pesawat terbang walau dia menyadari bahwa itu tak mungkin. Bagaimana bisa anak petani yang tak memiki banyak harta bisa naik pesawat terbang?

Nyatanya, hal yang tak mungkin terjadi dalam pandangan manusia mudah saja diwujudkan oleh Sang Maha Kuasa. Kehidupannya setelah menikah memiliki beribu kisah yang membuatnya harus berjuang demi mempertahankan hidup. Pernah di suatu masa dia mencari daun pisang, ikan, udang, Kupil (sejenis buah yang tubuh di tambak) dan lainnya untuk kemudian dijual di pasar yang ditempuhnya dengan berjalan kaki sejauh tak kurang dari 4 km setiap hari. Terkadang mengeruk kerang di tase’ (pantai) untuk dimakan bersama ibu dan anak-anaknya. Tentang suaminya, biarlah itu menjadi kisah yang disimpannya sendiri. Sebagaimana sebuah kehidupan perkawinan, ada suka pasti ada pula duka . Jika kemudian dia harus mengakhiri pernikahan dengan suaminya, itu adalah garis hidup yang telah Allah tetapkan untuknya. Allah telah menyiapkan skenario baru baginya, yang dengannya dia bisa merasakan apa yang dahulu ingin dirasakan. Mimpi sejak kecil,  Naik Pesawat Terbang. Ternyata, melalui lika-liku kehidupannya itulah impiannya bisa terwujud.

Singkat cerita, menikahlah dia dengan seorang pria Madura yang lahir dan besar di Balikpapan. Setelah menikah, suaminya mengajaknya turut serta ke Balikpapan. Itulah saat pertama kalinya dia naik pesawat terbang. Bisa membayangkan bagaimana perasaannya saat itu? Jika dahulu dia melihat pesawat terbang dari sebidang tanah yang digarap oleh orang tuanya, maka saat itu dia melihat sawah membentang dari atas pesawat terbang. Berangkatlah dia meninggalkan pulau dimana dia beserta kedua saudaranya dibesarkan, menyambut kehidupan baru yang telah menantinya.

Ya, kehidupan baru dengan konflik baru. Pernikahan ini adalah pernikahan kedua pula bagi suaminya. Dua orang manusia yang menikah dengan sama-sama membawa anak dari pernikahan terdahulu pastilah memiliki pernak pernik tersendiri. Ujian demi ujian datang menghampiri. Tapi, kalian akan menjumpai ibuku sebagai orang yang sabar. Paling sabar se-Indonesia. Semua ujian mampu dilewatinya, walau kadang dengan linangan air mata.

Aku lahir satu tahun setelah pernikahan mereka. Saat itu usia ibuku lebih dari 40 tahun. Karenanya tak sedikit teman-teman yang mengira dia adalah nenekku. Nenek yang setia menungguiku di sekolah sejak di taman kanak-kanak hingga Sekolah Dasar kelas dua. Cintanya teramat besar padaku. Baginya, mencintai itu adalah menuruti semua keinginanku. Walau orang di sekelilingnya sering mengatakan cintanya itu membuatku manja, ibuku tak perduli. Sungguh aku menemukannya sebagai orang yang sabar. Sungguh.

Kesabarannya semakin teruji seiring dengan pertumbuhanku. Aku adalah anak yang manja, mudah mengamuk, terutama ketika keinginanku tidak langsung dipenuhi. Aku bisa mengamuk di tengah malam, berguling dari dapur ke ruang tamu dengan mata terpejam, hanya karena minta satu botol vitamin C. Ibuku tak marah, diketuknya pintu kamar penjaga apotek depan rumah untuk menuruti keinginanku. Ketika tiba masaku bersekolah, ibuku semakin menampakkan kesabarannya. Ada saja alasanku untuk menangis setiap hari. Mulai dari kunciran rambut yang kurang kencang atau justru kekencangan, atau kunciran rambut yang tidak simetris, atau seragam yang tak pas. Ibuku? Dengan sabar menghadapiku hingga bayanganku sudah tak tampak lagi oleh mata indahnya.

Saat pulang sekolah telah menjadi kebiasaanku untuk meminta uang jajan. Tahu apa yang terjadi jika aku tak mendapatkannya? Aku akan mengamuk sepanjang hari. Oleh karena itu sebelum aku pulang ibuku akan menyiapkan uang itu, entah dari mana. Bapak adalah pemborong bangunan, yang kadang-kadang menganggur jika tak ada proyek. Kalau sudah begitu, maka uang di rumah akan sangat terbatas. Lantas bagaimana ibuku menyiapkan uang untukku? Karena tak ingin aku menangis saat pulang sekolah, ibuku akan berusaha mencari uang yang tercecer di rumah. Rumah kami berlantai papan dan berkolong. Ibuku akan masuk ke kolong rumah untuk mengumpulkan uang yang mungkin jatuh melalui celah-celah papan. Betapa zalimnya aku saat itu, dan sayangnya itu baru kusadari sekarang. Apakah kata maaf dan terima kasih sudah cukup untuk membayar semua itu?

Andai saja semua harta yang kumiliki saat ini kuserahkan padanya untuk membayar semua air matanya yang pernah tertumpah karenaku, itu tak akan mencukupi.

Aku semakin menyadari betapa berartinya dia bagiku ketika suatu hari takziah ke rumah seorang sahabat yang ibunya baru meninggal. Sahabat itu menangis, terkenang masa-masa indah dengan ibunya.  Aku jadi teringat ibuku sendiri di rumah. Di usianya yang sudah sangat tua sekarang ini dia memang agak sedikit “cerewet” dan mudah tersinggung, tapi itu tak menghapus kasih sayang yang telah diberikan selama ini. Kenangan indah itu pastilah ada. Aku teringat saat dia memijat lembut tanganku setiap akan tidur. Tak pernah ada kata lelah keluar dari lisannya.

Dia ibuku, yang tak pernah memarahiku dengan suara keras.

Dia ibuku, yang tak bisa tidur tenang jika aku sedang berada dalam masalah.

Dia ibuku, yang senang tatkala anak-anaknya menyantap makanan yang dimasaknya dengan lahap

Dia ibuku, yang cintanya tak pernah berakhir, bahkan hingga di usiaku yang sudah tak muda ini.

Dia ibuku, yang senantiasa menyembunyikan pakaian kotornya. Tak ingin aku mencucinya karena dilihatnya cucianku sudah banyak. Padahal itu sama sekali tak memberatkanku.

Mudah, mudah sekali jika ingin membahagiakannya. Dia akan bahagia ketika bisa membagi cucu-cucunya uang, walaupun uang itu diperoleh dari anak-anaknya juga. Dia juga akan sangat bahagia ketika aku pulang dari suatu tempat dan membawa sesuatu untuknya. Mungkin dia teringat, dahulu dialah yang melakukannya untukku. Dahulu dia sering membelikan wafer kesukaanku, kini dia pun senang ketika aku membelikan cemilan berupa wafer ini. Dengan jumlah gigi yang sudah sangat minim, tentunya makanan yang bisa dimakan sangatlah terbatas. Tapi dia akan menghabiskan perlahan-lahan cemilan ini. Gery Chocolatos sering menjadi pilihan untuk dijadikan oleh-oleh untuknya. 😉

“Lomba Blog 1000 Kisah Tentang Ibu Presembahan Ungu & Chocolatos”
http://unguband.com/1000kisahtentangibu.html