Kesan Mendalam Sebuah Rumah Sakit

3 02 2009

Saya sengaja ingin mengkhususkan tulisan tentang sebuah rumah sakit, dimana selama 5 hari kami merasa begitu dekat pada-Nya.

Rumah sakit ini tergolong rumah sakit yang baru di Mataram. Awalnya, rumah sakit ini adalah sebuah klinik. Sudah sering mendengar teman bercerita tentang rumah sakit baru ini, bagus katanya. Tetapi, belum terpikir untuk suatu saat jika ada yang sakit akan dibawa kesana.

Hingga benar-benar terjadi, anak bungsu kami panas suhu tubuhnya di luar dari kebiasaan, dan lab tempat kami ingin memeriksakan darahnya tidak memiliki serum yang kami maksud. Berangkatlah kami ke rumah sakit ini, dengan tujuan utamanya adalah labnya.

Begitu masuk, keramahan karyawan/watinya mulai terasa. Suasana di dalamnya terasa nyaman. Hati semakin sejuk tatkala melihat sebagian dari karyawatinya berbusana muslimah. Urusan administrasinya juga tidak begitu rumit (baca: cepat).

Saya dan suami sepakat, jika ternyata anak kami nantinya harus diopname, kami akan membawanya kesana.

Ketika kemudian hasil lab menunjukkan bahwa anak kami harus diopname, saya langsung membawa ke UGD RS tersebut. Pelayanan sempat tertunda karena hasil lab dibawa oleh teman saya. Setelah memastikan anak saya dapat kamar, dan hasil lab sudah diterima, anak saya langsung diberi tindakan infus. Dokter dan petugasnya nampak sabar meski jarum infus sulit menemukan urat tangan dan kaki anak saya, juga meski anak saya meronta-ronta. Kondisi yang demikian sangat membantu saya, sebagai orang tua yang saat itu dalam kondisi hati yang gelisah.

Setelah kamar siap, anak kami dipindah ke kamar. Kamar yang nyaman dan bersih. Memang sesuai standar perusahaan tempat suami bekerja, kamar yang kami terima adalah VIP, tapi saya sempat mengintip kelas yang lebih rendah, ruangan juga nyaman dan bersih. Rumah sakit ini memang benar-benar memperhatikan kebersihan. Dua hari sekali kamar dibersihkan dan kamar mandi disikat. Sampah tak sampai menumpuk sudah dibuang. Sungguh nyaman.

dsc012621Hal yang paling menyenangkan dari rumah sakit ini adalah perawat yang sangat ramah, SEMUANYA. Jika di rumah sakit lain, mungkin ada perawat yang ramah, tapi tidak semuanya, lebih banyak yang galak. Biasanya saya agak stres ketika pergantian shift perawat, khawatir jika perawat berikutnya adalah perawat yang galak. Maka di rumah sakit ini hal tersebut tidak terjadi. Mereka tetap tersenyum meskipun saya bolak-balik memanggil mereka karena infus anak saya macet akibat gerakannya. Mereka dengan sabar membetulkannya.

Rumah sakit ini milik orang Hindu. Akan tetapi, kecuali janur yang terpasang di sebelah papan namanya, rasanya seperti di rumah sakit biasa atau malah seperti di rumah sakit Islam. Separuh dari perawat yang pernah masuk ke ruangan berbusana muslimah. Ini jelas membuat hati tentram. Pernah ada seorang perawat masuk, dari namanya saya tahu bahwa dia bukanlah muslimah, sempat khawatir bila dia akan bersikap dingin karena kami adalah keluarga muslim. Tapi, alhamdulillah selama disana saya justru menemukan dia adalah termasuk dari salah satu perawat yang sangat ramah. Pernah juga di suatu pagi masuk seorang perawat yang terlihat senior. Saya sempat berpikir, “Wah, kayaknya galak nih”, tapi lagi-lagi dugaan saya salah. Perawat itu justru sangat bijak dan baik sekali.

Di hari terakhir, seorang wanita berbusana muslimah masuk, kemudian memperkenalkan dirinya sebagai bagian dari manajemen RS. Wanita yang ternyata juga seorang dokter itu mempertanyakan bagaimana perasaan saya terhadap pelayanan RS tersebut. Dia juga menyerahkan sebuah bingkisan kecil, yang ternyata isinya adalah sebuah mainan. Bertambahlah kesan baik saya terhadap rumah sakit ini.

dsc01211Rumah sakit yang memberi kesan mendalam tersebut adalah RS. Risa Sentra Medika. Letaknya yang berada di tengah kota menjadi poin tambahan bagi RS ini. Mudah bagi keluarga pasien mencari kebutuhan sehari-hari termasuk makanan. Agak bising sedikit karena dekat sekali dengan jalan raya, tapi tak mengurangi kenyamanan.

picture-095Saya sudah empat kali opname di RS. Pertama di Samarinda, satu kali melahirkan di Balikpapan, dua kali melahirkan di Lombok, tapi belum pernah menemukan kenyamanan seperti ini. Di kota lain mungkin sudah banyak rumah sakit yang seperti ini, tapi bagi kami yang tinggal di Lombok kehadiran rumah sakit ini benar-benar sebuah berita bagus.

Rumah sakit bukanlah tempat yang ingin setiap saat kita kunjungi. Tapi kalau itu harus terjadi, rumah sakit yang nyaman akan sangat menyenangkan.

Kalau saja semua rumah sakit di Mataram seperti ini, kita yang sakit tidak akan semakin sakit.

Advertisements




Pertolongan-Nya Begitu Nyata

30 01 2009

Selasa malam, sekitar pukul 2 dini hari, saya dikejutkan atas sentuhan kulit Fayyadh, anak bungsu kami, yang terasa sangat panas. Tidak biasa…. Kalau boleh mengira-ngira, suhunya sekitar 39-40 derajat. Biasanya, bila sedang demam, tubuh anak-anak tidak langsung panas, hangat dulu. Saya merasakan hal yang ganjil. Saya langsung teringat banyaknya warga perumahan yang terkena Demam Berdarah. dsc01203

Pagi harinya saya dan suami berinisiatif membawanya ke Lab untuk cek darah, tapi saat itu serum DB sedang kosong. Maka kami membawanya ke Rumah sakit yang memiliki lab. Disana kami tidak disarankan untuk cek darah karena panasnya Fayyadh baru 1 hari, virus DB tidak akan terlacak. Biasanya virus baru dapat dideteksi setelah tiga hari. Akhirnya kami hanya konsultasi dengan dokter anak yang sedang jaga. Oleh dokter tersebut Fayyadh diberi obat penurun panas dan batuk pilek.

Hari itu adalah jadwal suami kerja ke Sumbawa. Maka berangkatlah ia sore harinya. Sampai malam menjelang, panas di tubuh Fayyadh tidak turun juga. Dia juga tak tenang tidur, menangis sepanjang malam, hanya diam jika digendong. Tak lazim. Anak-anak biasanya tidak pernah sampai minta digendong ketika sakit. Saya pikir pasti ada sesuatu yang lain.

Sampai tiga hari panasnya tetap bertahan, turun mungkin hanya 1 derajat, setelah saya beri tambahan sanmol.

Hari Sabtu, pukul 10.00 pagi, saya putuskan membawanya ke Lab untuk tes darah. Kasihan melihat dia meronta-ronta ketika petugas mengambil sampel darahnya. Hasil baru dapat diketahui pukul 14.00, lalu pulanglah saya.

Saya meminta tolong seorang sahabat mengambilkan hasilnya. Pukul 13.30 sahabat tersebut menelpon dan memberi kabar, “Dik, Qowwam (panggilan lain Fayyadh) positif DB, harus segera diopname, trombositnya drop, 85.000. Apalagi fungsi hatinya tinggi, ada virus di hatinya”.

Saat itu tangan saya yang sedang menggenggam hand phone terasa bergetar. Panik. Ini adalah kasus yang pertama. Dua kakaknya sebelumnya sakit tidak pernah sampai diopname. Bingung. Apa yang harus saya lakukan? Akhirnya saya telpon suami untuk memberi kabar. Dia menenangkan saya dan berjanji akan segera pulang. Khadimat saya panggil untuk menemani Luqman dan Syamil. Setelah itu saya panggil taxi dan menuju ke rumah sakit.

Sampai di UGD rumah sakit tersebut, Fayyadh dipasangi infus. Ujian dimulai dari sini. Jarum infus tak mampu menembus urat halus Fayyadh. Mungkin ada sekitar 6 sampai 7 kali tangan dan kakinya ditusuk jarum. Kasihan sekali… dia hanya bisa menjerit-jerit antara kesakitan dan ketakutan. Syukurlah akhirnya berhasil juga. Tiga jam kemudian Fayyadh dipindah ke kamar. Kamar yang nyaman. Tapi belum bisa terasa nyaman bila melihat kondisinya yang lemas. Tak ada senyum dari bibirnya, matanya memancarkan trauma. Ah, sangat menyayat hati.

Malamnya dia tak tenang tidur, apalagi geraknya dibatasi oleh jarum infus yang menempel di kakinya. Pukul 5 shubuh, jarum infusnya terlepas karena gerakannya. Darah menetes dari kakinya. Perawat akhirnya melepas infusnya, dan mengistirahatkan sejenak. Infus baru dipasang kembali pada pukul 9 pagi. Syukurnya hanya sekali tusuk di tangannya langsung tepat, jadi tak perlu melihat tangan dan kakinya ditusuk berulang-ulang. Malamnya, dia kembali tak bisa tenang. Merengek-rengek. Saya diceritakan oleh salah satu kawan yang pernah mengalami DB ini, bahwa sakitnya memang luar biasa. Seluruh tubuh terasa sakit. Tak heran jika Fayyadh terus merintih. Mungkin rasa tak nyaman itu juga disebabkan oleh infusnya yang kadang meleset, macet, dsb. Hingga pagi harinya infus itu benar-benar macet sehingga harus dilepas. Perawat yang bertugas pagi itu mencoba untuk memindahkan posisi jarum infusnya. Namun tak berhasil, apalagi seluruh tubuh Fayyadh mengalami pembengkakan. Uratnya semakin sulit dicari. Perawat tersebut tidak melanjutkan usahanya. Fayyadh diberi istirahat. Petugas lab mengambil darahnya uintuk diperiksa. Trombositnya turun, 63.000.

Dokter yang datang memeriksa meminta agar konsumsi air minum Fayyadh ditambah, sore akan diambil darah lagi, jika ada peningkatan, selang infus tak perlu dipasang. Mendengar itu saya berusaha memberi minum Fayyadh dengan air putih, jus jambu batu dan sari kurma. Abinya berinisiatif memberinya air zam-zam. Kami paksa ia minum, karena memang ia sudah tak mau membuka mulutnya. Seluruh tubuhnya yang bengkak kami usap dengan air zam-zam. Ingat pesan dokter dan perawat, jika tak ingin infus dipasang harus minum banyak, saya susui dia sambil tidur. Syukurnya dia banyak minum ASI. Lepas sedikit saya masukkan lagi. Saya yang akhirnya meminum air zam-zam, sari kurma dan jus jambu itu. Kami ingin sekali melihat trombosit itu naik. Abinya sangat benci melihat infus dan jarumnya yang sungguh menyiksa anak kami. Sorenya tak sabar kami bertanya pada perawat tentang hasil lab. “Tetap harus diinfus bu”. Ohhhhh… Belum genap ujian yang Allah berikan…

Trombosit sudah naik menjadi 66.000, namun dokter tetap memasang infus untuk berjaga-jaga. Usai shalat maghrib perawat mencoba memasang infus kembali, namun berakhir dengan kegagalan. Jarum tetap tak mampu menemukan uratnya. Kami sungguh tak kuasa melihat dia meronta-ronta menahan sakit. Air mata keluar begitu saja dari ujung mata kami. Perawat memutuskan untuk menundanya. Hingga pagi, perawat tak datang ke kamar. Malam itu tidur kami lumayan tenang. Sepanjang malam saya tetap memberika ASI kepada Fayyadh, tanpa jeda yang lama.

Pagi hari, perawat datang membawa peralatan infusnya, mencoba memasangkannya kembali ke tangan Fayyadh. Lagi-lagi, tak berhasil. Petugas lab datang lagi untuk mengambil darahnya. Kami tak henti berdoa, semoga trombositnya bisa naik. Dua jam kemudian, perawat masuk tiba-tiba dan memberitakan sebuah kabar yang melambungkan hati kami berdua. Trombositnya sudah naik 172.000 dan dokter memutuskan untuk menghentikan infusnya. Allahu akbar….. Allah begitu nyata pertolongannya. Dia begitu dekat. Kenaikan yang pesat, tanpa infus….

Subhanallah….. Dia Maha Besar…. Maha Mulia…. Maha Agung…Kami langsung tersungkur bersujud…

Bagi saya… yang paling mengkhawatirkan adalah melihat tubuhnya yang bengkak, walau dokter sudah menyatakan bahwa itu tidak apa-apa, itu pengaruh dari cairan infus yang dimasukkan.

Sementara, yang paling tak tahan dilihat oleh abinya adalah saat jarum-jarum infus itu dimasukkan ke tangannya kemudian digoyang-goyang untuk mencari uratnya. Entah sudah berapa banyak lubang yang diakibatkan oleh jarum infus tersebut. Malam Senin itu…. Kami berdo’a kepada Allah dengan kekhusyukan yang mendalam. Benarlah apa yang dituliskan oleh seorang teman dalam sebuah pesan singkatnya melalui HP:

“Sabar ya Mba… Allah lagi kasih surat cinta buat mbak supaya lebih berbunga-bunga ketika berdo’a padanya-Nya…..” (Syukran ya Mbak Rina, atas motivasinya)

Benar… Allah terasa ada disana. Mendengarkan… Memperhatikan… Menunggu hingga saya menyelesaikan do’a yang saya panjatkan.

Allah sedang mengingatkan kami… yang selama ini mungkin kurang ikhlas dalam beribadah…

Ketika Senin paginya infus macet, perawat mencoba memasang lagi dan tak berhasil, kami mengira Allah masih menguji, padahal disitulah jawaban Allah atas do’a kami. Bukankan abinya ingin sekali melihat infus itu dilepas karena baginya itu penderitaan bagi Fayyadh. Saya sendiri khawatir jika infus terus dipasang, bengkaknya semakin besar. Dan infus tak dapat terpasang juga, hingga Selasa pagi. Kami tak perlu melihat infus itu terpasang di tubuh kecilnya lagi. Betapa berbahagianya kami pagi itu.

Entah apa yang menjadi asbab kesembuhan Fayyadh… Hanya Allah yang tahu.

Apakah do’a kami, cairan infus, jus jambu, sari kurma, air zam-zam, ASI, atau keikhlasan do’a sahabat-sahabat kami? Bahkan ada salah satu sahabat yang mengkhususkan shalat malam dan dhuha untuk berdo’a bagi kesembuhan Fayyadh. Namun apapun asbabnya, jelas sekali bahwa ini adalah pertolongan Allah.

Kepada-Nya kita menyembah dan kepada-Nya lah kita meminta pertolongan. Kepada-Nya hendaklah dikembalikan segala urusan.

Demam Berdarah – selama ini saya menganggapnya sebagai penyakit yang biasa. Ternyata setelah anak sendiri yang mengalaminya, DB bukanlah penyakit yang ringan, terutama bila yang menderita adalah anak-anak. Sebisa mungkin kita menghindarinya….

Kepada seluruh sahabat, yang bagai saudara…Terima kasih atas perolongannya…Semoga Allah saja yang membalasnya





[Madura] Kenalan Dulu ya…

30 12 2008

picture-072Madura…

Apa yang terlintas dalam benak anda ketika mendengar kata Madura?

Sate? Garam? Karapan sapi? Carok?

Hehehe… sampai juga ke carok.

Katanya orang Madura itu keras dan pemarah. Katanya…

Tapi saya menemukan ibu saya sebagai orang yang paling sabar di seluruh dunia.

Dia adalah asli keturunan Madura.

Mungkin mayoritas keras dan pemarah…. Tapi tidak semuanya.

Sedikit info tentang Madura yang saya copy dari Tante Wiki ..

Madura adalah nama pulau yang terletak di sebelah timur laut Jawa Timur. Pulau Madura besarnya kurang lebih 5.250 km2 (lebih kecil daripada pulau Bali), dengan penduduk sekitar 4 juta jiwa.

Suku Madura di Indonesia jumlahnya kira-kira ada 10 juta jiwa (data tahuin 2004, kira-kira termasuk saya tidak ya?). Mereka berasal dari Pulau Madura dan pulau-pulau sekitarnya, seperti Gili Raja, Pulau Sapudi, Pulau Raas dan Kangean. Selain itu, orang Madura tinggal di bagian timur Jawa Timur, dari Pasuruan sampai utara Banyuwangi. Orang Madura di Situbondo dan Bondowoso, serta timur Probolinggo jumlahnya paling banyak, dan jarang yang bisa berbahasa Jawa.

Suku Madura juga banyak dijumpai di provinsi lain seperti Kalimantan, di tempat huruhara di Sampit dan Sambas. Orang Madura pada dasarnya adalah orang yang suka merantau karena keadaan wilayahnya yang tidak baik untuk bertani. Orang Madura senang berdagang dan dominan di pasar-pasar. Selain itu banyak yang bekerja menjadi nelayan, buruh, pengumpul besi tua dan barang-barang rongsokan lainnya.

Suku Madura terkenal karena gaya bicaranya yang blak-blakan serta sifatnya yang keras dan mudah tersinggung, tetapi mereka juga dikenal hemat, disiplin dan rajin bekerja. (Tuh kan, dikenalnya sebagai orang yang keras dan mudah tersinggung. Tapi saya enggak lho…. Eh, iya sih… sedikit)

Untuk naik haji, orang Madura sekalipun miskin pasti menyisihkan sedikit penghasilannya untuk simpanan naik haji. Selain itu orang Madura dikenal mempunyai tradisi Islam yang kuat, sekalipun kadang melakukan ritual Pethik Laut atau Rokat Tasse (sama dengan Larung Sesaji).

Harga diri, juga paling penting dalam kehidupan orang Madura, mereka memiliki sebuah peribahasa “Lebbi Bagus Pote Tollang, atembang Pote Mata”. Artinya, lebih baik mati (putih tulang) daripada malu (putih mata). Tradisi carok juga berasal dari sifat itu.

Madura dibagi menjadi empat kabupaten, yaitu:

  1. Bangkalan (Bapak dan ibu saya aslinya dari sini)
  2. Sampang
  3. Pamekasan
  4. Sumenep

Pulau ini termasuk provinsi Jawa Timur dan memiliki nomor kendaraan bermotor sendiri, yaitu “M”.

Sejarah

Secara politis, Madura selama berabad-abad telah menjadi subordinat daerah kekuasaan yang berpusat di Jawa. Sekitar tahun 900-1500, pulau ini berada di bawah pengaruh kekuasaan kerajaan Hindu Jawa timur seperti Kediri, Singhasari, dan Majapahit. Di antara tahun 1500 dan 1624, para penguasa Madura pada batas tertentu bergantung pada kerajaan-kerajaan Islam di pantai utara Jawa seperti Demak, Gresik, dan Surabaya. Pada tahun 1624, Madura ditaklukkan oleh Mataram. Sesudah itu, pada paruh pertama abad kedelapan belas Madura berada di bawah kekuasaan kolonial Belanda (mulai 1882), mula-mula oleh VOC, kemudian oleh pemerintah Hindia-Belanda. Pada saat pembagian provinsi pada tahun 1920-an, Madura menjadi bagian dari provinsi Jawa Timur.[1]

Ekonomi

Secara keseluruhan, Madura termasuk salah satu daerah miskin di provinsi Jawa Timur[2]. Tidak seperti Pulau Jawa, tanah di Madura kurang cukup subur untuk dijadikan tempat pertanian. Kesempatan ekonomi lain yang terbatas telah mengakibatkan pengangguran dan kemiskinan. Faktor-faktor ini telah mengakibatkan emigrasi jangka panjang dari Madura sehingga saat ini banyak masyarakat suku Madura tidak tinggal di Madura. Penduduk Madura termasuk peserta program transmigrasi terbanyak (Tak heran kalau bapak saya pun terlahirnya di Kalimantan)

Pertanian subsisten (skala kecil untuk bertahan hidup) merupakan kegiatan ekonomi utama. Jagung dan singkong merupakan tanaman budi daya utama dalam pertanian subsisten di Madura, tersebar di banyak lahan kecil. Ternak sapi juga merupakan bagian penting ekonomi pertanian di pulau ini dan memberikan pemasukan tambahan bagi keluarga petani selain penting untuk kegiatan karapan sapi. Perikanan skala kecil juga penting dalam ekonomi subsisten di sana.

Tanaman budi daya yang paling komersial di Madura ialah tembakau. Tanah di pulau ini membantu menjadikan Madura sebagai produsen penting tembakau dan cengkeh bagi industri kretek domestik. Sejak zaman kolonial Belanda, Madura juga telah menjadi penghasil dan pengekspor utama garam.

Bangkalan yang terletak di ujung barat Madura telah mengalami industrialisasi sejak tahun 1980-an. Daerah ini mudah dijangkau dari Surabaya, kota terbesar kedua di Indonesia, dan dengan demikian berperan menjadi daerah suburban bagi para penglaju ke Surabaya, dan sebagai lokasi industri dan layanan yang diperlukan dekat dengan Surabaya. Jembatan Suramadu yang lama direncanakan dan kini sedang dalam tahap pembangunan diharapkan meningkatkan interaksi daerah Bangkalan dengan ekonomi regional.

Budaya

Madura terkenal dengan budaya Karapan sapinya.

Itu sedikit info tentang Madura.

Dalam urusan politik. Madura belakangan jadi penentu nasib 2 pasangan Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur Jawa Timur, KarSa (Pak Dhe Soekarwo dan Saifullah Yusuf) dan KaJi ( Khofifah Indar Parawansa dan Mudjiono). “MK memerintahkan Komisi Pemilihan Umum (KPU Jatim) Jawa Timur melakukan coblosan ulang Pilkada di Kabupaten Bangkalan dan Sampang, serta melakukan penghitungan suara ulang di Kabupaten Pamekasan“.

Semoga info ini bermanfaat. Saya sendiri baru tahu info detail tentang Madura setelah membaca wikipedia. Thanks to Wikipedia.





[Catatan Perjalanan] Madura Sebagai Tujuan Pertama

22 12 2008

Dengan tergesa-gesa kami berangkat ke bandara menggunakan taxi. Waktu sudah menunjukkan pukul 11.30. Sudah masuk waktunya check in. Syukurnya jarak antara rumah dan bandara tidak terlalu jauh. Dalam waktu tak lebih dari 10 menit dan membayar taxi Rp. 10.000,- kami sudah tiba di bandara. Antrian check in cukup panjang. Rupanya sebagian orang juga memilih check ini di akhir waktu. Setelah membayar airport tax sebesar Rp.20.000,- per orang kami segera masuk ke ruang tunggu. Dan terbanglah kami ke bandara Juanda Surabaya.

Mungkin masih ingat rencana perjalanan kami (Sidoarjo-Gresik-Madura-Malang), yang waktu itu sempat membingungkan sebelum memutuskan daerah mana yang akan dikunjungi lebih dahulu. Malam sebelum berangkat kami memutuskan untuk langsung menuju Madura dari Juanda.

Setibanya di juanda, abi mengurus bagasi, saya menunggu sambil mencari informasi tentang angkutan yang termurah tapi cepat ke Pelabuhan Perak. Kali ini kami sengaja tidak minta jemput keluarga yang ada di Madura. Ada seorang cleaning service yang ramah (catatan: cleaning service di bandara Juanda ramah-ramah), yang memberikan beberapa pilihan angkutan yang bisa kami gunakan.

1. Naik DAMRI ke Bungur Asih, tarifnya kurang lebih 10.000, dilanjutkan dengan naik bis ke Pelabuhan Perak dengan tarif perkiraan 5.000–10.000. Kalau hitungannya tiga orang maka kami akan membayar 45.000–60.000 dengan durasi perjalanan yang lebih lama, mungkin akan memakan waktu 2 – 3 jam.

2. Naik taxi bandara, kemungkinan tarifnya 80.000

3. Naik kijang, mereka tidak tahu berapa tarifnya.

Begitu keluar dari bandara, yang pertama kali terlihat adalah loket penjualan tiket taxi. Saya mencoba bertanya. Tarif taxi sampai Pelabuhan Perak adalah Rp. 118.000,-. Setelah diskusi sedikit, kami putuskan untuk naik taxi bandara ini. Dua kali lipat mungkin dari harga bis tapi tentunya perjalanannya lebih singkat.

Abi sempat bertanya kepada supir kijang yang menawarkan jasanya pada kami. Tarif kalau sampai Perak 130.000. Syukurlah, ternyata taxi lebih murah dari kijang tersebut.

Kami memilih lewat tol. Dengan membayar 8.000 kami tiba di Pelabuhan Perak kurang lebih 1 jam. Sampai di Perak, kami langsung membeli tiket ferry. Untuk dewasa 4.000, anak-anak 2.000. Cukup murah ya..

picture-015

Saat berada di atas ferry, cukup kaget juga lihat kondisi ferrynya dibanding 3 ½ tahun yang lalu waktu saya terakhir ke Madura. Ferrynya bersih. Bersih sekali. Ada seorang wanita yang berdiri di ujung tangga. Penampilannya seperti pramugari, hanya lebih macho. Perempuan itu dengan tegas memerintahkan penumpang yang naik dengan menghisap rokok untuk segera mematikan rokoknya. Ferry itu bebas asap rokok. Dia juga tak sungkan membantu ibu-ibu yang kesulitan membawa barang-barangnya ke atas kapal. Saya tak pernah menemukan perempuan itu sebelumnya. Kemajuan yang pesat. Alhamdulillah…

Sekitar 45 menit kemudian kami tiba di Pelabuhan Kamal, Madura. Kapalnya belum merapat dengan sempurna, sudah banyak laki-laki yang menawarkan jasa angkutan ke kota. Sesuai pesan kakak saya, tarif normalnya 30.000-50.000. Salah satu supir menawarkan ongkos 80.000 dengan ngotot, tak bisa ditawar. Saya pura-pura menelpon kakak untuk minta dijemput, akhirnya si supir menyerah dengan harga 50.000. Perjalanan ke Burneh, tempat kakak saya tinggal memakan waktu sekitar 45 menit.

Akhirnya tibalah kami di pulau dimana kenangan masa kecil saya sempat terekam beberapa saat.

(Tulisan ini sengaja saya buat agak detail, siapa tahu kelak ada yang membutuhkannya. Jika dianggap tidak penting, diskip saja ya…)





[IBSN] Informasimu Untukku

6 12 2008

Blogging, bagi sebagian orang mungkin akan dianggap membuang waktu. Padahal banyak sekali manfaat yang dihasilkan dari aktivitas yang satu ini. Terkadang sebuah tulisan dalam blog pribadi memberikan informasi yang mungkin bagi orang lain sangat berarti. Bisa jadi si penulis tidak menyadari bahwa tulisannya bermanfaat bagi orang lain, karena memang ada beberapa blogger yang menjadikan tulisannya hanya sebagai diary, sebuah catatan perjalanan hidup.

Ketika sebuah tulisan mengandung informasi (positif) bagi orang lain, bukankah itu merupakan amal bagi si penulis? Otomatis kebaikan yang tercipta dari tulisannya akan kembali padanya. Benarlah jika dikatakan siapa menebar kebaikan akan mendapatkan kebaikan pula.

Saya belum dua tahun memiliki blog, jadi wajarlah jika tak banyak (bahkan mungkin tak ada) informasi yang bisa saya tularkan kepada orang-orang yang berkunjung ke blog saya. Tapi, saya sudah begitu banyak mendapatkan manfaat dari berkunjung ke blog orang lain. Apakah itu kunjungan yang saya sengaja maupun tidak.

Contohnya, waktu mau berangkat ke beberapa kota di Jawa Timur kemarin, saya betul-betul memerlukan informasi tentang rute dan transportasi yang paling pas, serta tempat-tempat wisata yang tersedia disana.

Coba googling, dapat beberapa informasi. Ah, senangnya.

Terima kasih kepada blogger yang rela membagi informasinya.

Contoh yang lain, ketika saya memiliki tepung hunkwe yang cukup banyak di rumah, dan bingung mau diapakan. Saya cukup mengetik kata ‘hunkwe’ di google, maka muncullah beberapa jenis panganan yang bisa diolah dari tepung ini.

Tampilan yang muncul di layar tersebut tidak akan ada jika tak ada yang bermurah hati menuliskannya bukan?

Do’a saya, semoga orang-orang yang telah ikhlas berbagi informasi tersebut senantiasa berada dalam kasih sayang-Nya. Amin…

Bagaimana dengan Anda? Sudahkah bloging terasa bermanfaat bagi Anda?





Surabaya, Madura, Gresik dan Malang

12 11 2008

Insya Allah tanggal 16 besok akan berangkat ke Surabaya, tanggal 21 ke Malang dan tanggal 24 kembali ke Mataram.
Masih bingung kapan ke Maduranya dan kapan ke Gresiknya, soalnya masih bingung dengan rutenya.
Ada yang bisa kasih saran? Sebaiknya bagaimana untuk menghemat waktu dan biaya?





Tamsil untuk Luqman-Ikan Cupang

1 11 2008

Luqman… anak sulung kami, paling berat kalo melakukan aktifitas mandi.

Segala macam cara sudah dicoba… Tapi dari kecil dia memang sulit sekali disuruh mandi.

Pagi itu, Abinya yang membangunkannya, karena saya sedang sibuk di

dapur.

Mengajaknya mandi dengan cara diajak ngobrol, dengan lembut.

Luqman tak menunjukkan tanda-tanda akan berdiri.

Abinya mulai kesel, agak dikerasin suaranya, masih juga tak mau berdiri.

Akhirnya semakin keras suara yang keluar, dan Luqman menangis.

Hari itu adalah hari ke4 OFF, biasanya abinya akan sangat menghindari marah terhadap Luqman, karena setelah marah itu yang tersisa adalah penyesalan, karena harus kembali ke Sumbawa. Biasanya, kalau sampai

marah, abinya akan memeluk Luqman.

Tapi kali itu tidak. Katanya ingin memberi pembelajaran kepada Luqman. Supaya dia tidak merasa ’ah, paling nanti disayang lagi’.

Sampai mobil yang membawanya ke pelabuhan berangkat abinya tidak

meninggalkan kata sayang sedikitpun kepada Luqman.

Pulang sekolah, Luqman menelpon abinya untuk meminta maaf.

Setelah itu, perasaan menyesal yang hadir….

Dan terciptalah tamsil untuk Luqman yang dikirim melalui SMS yang saya tulis ulang di atas kertas:

————————————-

Abi sekarang seperti ikan cupang di dalam toples sendirian

Tahu ikan cupang?

Ikan yang cepat naik pitam

Tahu naik pitam? Artinya marah

Bagaimana orang pemarah di dalam toples sendirian?

Tapi hati Abi sebenarnya penuh cinta

Cuma cinta itu telah dirasuki setan sehingga berubah menjadi murka

Abi ini terlalu banyak beban pikiran

Sementara Abi sudah bosan berpisah dengan Kaka karena kerja di Sumbawa ini

Bisakah Kaka membalas cinta Abi ini sama besarnya?

Sehingga setan tidak bisa merubahnya jadi murka

Murka itu kini menyiksa Abi dalam perasaan berdosa

Mengapa cinta membawa dosa? Harusnya kebahagiaan

Abi benar-benar seekor ikan cupang yang malang

Menatap wajah sendiri di toples dikira musuh, karena seram

Semakin marah semakin seram

————————————

Diantara tiga bersaudara, Luqman adalah yang paling perasa.

Seperti biasanya, tatkala membaca pesan tertulis dari abinya yang sejenis ini, airmatanya pasti akan mengalir.

Demikian pula hari itu… Dia menyembunyikan wajahnya, kemudian menghapus matanya.

Hari itu Luqman telah mendapat satu pelajaran…

Tentang ikan cupang dan naik pitam…..:)


Keterangan foto:

Dua foto pertama dan kedua diambil saat Luqman sedang membaca Tamsil sang abi

Foto ketiga diambil dari:

http://wb4.indo-work.com/pdimage/87/913387_betta-edithae.gif