[Ramadhan 1429] Bulan Penuh Ujian

28 09 2008

Kita mengenal Ramadhan sebagai Bulan Tarbiyah, Bulan Ibadah, Bulan Taubat, Bulan Dakwah dan beberapa sebutan lainnya untuk Bulan yang Mulia ini. Ramadhan kali ini, bagi saya merupakan bulan penuh ujian.

Di suatu pagi, tepat dua pekan setelah suami saya terjangkit cacar, ketika saya memeluk Syamil, si nomor dua, saya merasakan panas di beberapa bagian tubuhnya. Saya juga menemukan satu bintik kecil berisi air di wajahnya yang bundar. Syamil tertular cacar. Dokter sudah menginformasikan, kalau memang anak-anak tertular, dua pekan lagi baru terlihat. Dan benar saja, tepat dua pekan berikutnya Syamil tertular juga. Innalillah….

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun” (2:155-156)

“Sabar ya Mi…Abi yang menularkan, sekarang Abi tinggal Umi ngurusin Abang sendirian” Kalimat itu keluar dengan sangat berat dari lisan si abi, karena siangnya dia memang harus berangkat kembali ke Sumbawa.

“It’s ok. Bi…” Saya menjawabnya sambil membayangkan hari-hari ke depan harus rajin melap tubuh Syamil, melumurinya dengan bedak dan menempelkan salep. Terbayang pula rengekan Syamil menahan rasa sakit…. Namun segera saya tata hati… Ini hanyalah sebuah ujian kecil….. kecil… bahkan sangatlah kecil…..

Sorenya saya ajak dia ke dokter dan apotek. Seperti abinya, dia harus mengkonsumsi obat selama 7 hari, setiap hari 5 kali. Bukan masalah besar… Saya bersyukur sang kakak dan adik tidak tertular…. Dan ternyata Syamil sangat sabar menghadapi sakit cacar ini.

”Mi…. kaya’nya ade’ panas ini…” Begitu kata bibi esok pagi harinya.

Saya teliti wajah Fayyadh… Ada tiga titik benjolan yang sangat kecil. Cacar kah? Sepertinya bukan.

Ketika saya buka bajunya, bermaksud memandikannya, saya temukan benjolan yang sedikit lebih besar…. dan berisi air….

Innalillah…. Fayyadh tertular juga. Saya tertawa…. lepas…. Bibi bingung….

”Kenapa Umi tertawa”

”Jadi harus bagaimana Bi?“

Tak ada sedikitpun sinyal dari otak saya yang memerintahkan saya untuk menangis atau bersedih.

Saya kemudian terdiam…..

Tampak sekali bagi saya Allah benar-benar memberikan ujian…. Allahu Akbar… Tak ada satupun yang mampu menghalangi kehendak-Nya….

Ketika abinya sedang terkena cacar, ada komentar dari teman-teman yang berbeda. Ada yang bilang, lebih baik anaknya ditularkan juga, terkena cacar saat masih balita lebih baik. Ada juga yang bilang anaknya dijauhkan dari abinya biar tidak tertular. Yang mana yang harus saya ikuti? Ah, saya lebih memilih menyerahkannya pada DIA yang memberikan penyakit. Jika kemudian Syamil dan Fayyadh tertular juga, maka itulah yang terbaik yang DIA berikan.

Lalu sore harinya saya kembali menemui dokter untuk minta resep obat bagi Fayyadh…

Obat dan dosisnya sama persis…. Diminum 5 kali sehari juga…

Sesampainya di rumah saya langsung membuat tabel minum obat Syamil dan Fayyadh agar tak terlupa…. Memory saya tak cukup kuat untuk merekam apakah mereka sudah mengkonsumsi obat atau belum…Setiap kali selesai meminumkan obat, saya akan menconteng harinya.

Alhamdulillah… masa-masa itu telah berlalu…. Dalam waktu tiga hari cacarnya sudah mengering, dan benar-benar kering setelah tujuh hari. Cacar yang keluar tidak terlalu banyak. Ketika saya bertanya pada dokter, jawabnya itu berarti kondisi tubuh mereka tidak terlalu buruk. Karena ada beberapa teman yang bilang, lebih baik jika cacar itu keluar semua. Tentunya saya lebih percaya apa yang dikatakan oleh dokter.

Kepada sahabat-sahabat tercinta… saya mohon dimaafkan, jarang berkunjung… hanya sesekali….

Ujian-ujian itu cukup menyita waktu..

Dan kini… Ramadhan sudah hampir berada di penghujungnya…

Semoga segala amal ibadah kita di bulan suci ini diterima oleh Allah…

Amin…..

Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu; dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu. (47:31)





[Ramadhan 1429] Allah Sangat Mengasihiku

8 09 2008

Hari itu pertemuan rutin pekanan (liqo) kami yang terakhir, sebelum ramadhan tiba. Saya dan teman-teman merundingkan, akan bagaimana pertemuan pekanan kami selama Bulan Ramadhan. Ada yang mengusulkan pada pertemuan pertama selama Bulan Ramadhan (yang saat itu bertepatan dengan Ramadhan hari pertama), diadakan sore hari sekalian ifthar Jama’i (Berbuka puasa bersama). Kemudian dijawab, karena itu adalah berbuka puasa hari pertama, lebih baik kita di rumah saja, agar bisa berbuka puasa bersama keluarga. Saya tersenyum, saya katakan bahwa di rumah atau dimana sama saja bagi saya. Bagi orang lain puasa hari pertama mungkin istimewa. Tapi bagi saya tiga puluh hari puasa tersebut sama istimewanya. Sembilan tahun menikah, mungkin hanya sekali atau dua kali pernah berbuka puasa pada hari pertama puasa bersama suami. Selebihnya saya hanya berbuka sendiri, atau dengan anak-anak. Ketika ada yang mengomentari, ’Sabar ya Mba’. Saya tersenyum kembali. ’Sudah biasa, ’ Kata saya kemudian.

Keinginan untuk senantiasa berbuka bersama suami tentulah ada. Tapi tak bisa memaksa jika keadaan tak memungkinkan. Bahkan pada hari Senin-Jum’at saya akan berbuka di masjid bersama anak TPQ di perumahan. Saya dan pengurus yang lain bertugas mengatur buka puasa mereka. Jadi, ketika jadwal OFF suami bertepatan dengan hari itu (Senin-Jum’at) suami juga memilih berbuka puasa di masjid bersama dengan pengurus Ta’mir yang lain. Dalam satu bulan Ramadhan itu tak lebih dari 8 hari kami bisa berbuka puasa bersama.

Namun…. Allah memang mengasihiku (dan kita semua)… sungguh…

Suami saya pulang dari Sumbawa, tempatnya bekerja, hari Rabu, 27 Agustus yang lalu. Hari kamisnya dia mengeluhkan badannya yang dirasa tidak nyaman. Ketika saya sentuh keningnya terasa hangat. Malam Sabtunya saya temani dia ke dokter. Sang dokter memberikan istirahat baginya 3 hari, artinya hari Senin sore dia baru dianjurkan berangkat kerja. Artinya suami bisa merasakan puasa hari pertama di rumah. Merasa senang dibalik musibah sakit yang menimpanya? Bukan, hanya merasa, di balik sakitnya ada hikmah yang tersimpan.

Tapi… ketika hari Sabtunya suami merasa badannya lebih baik, dia ingin berangkat kembali ke Sumbawa sorenya. Baiklah, saya tak ingin menghalanginya yang tidak ingin lama-lama izin. Bagi saya tak apa puasa sendiri, saya hanya mengkhawatirkan kondisinya yang belum fit benar.

Sekali lagi Allah Maha Pengasih…. Allah mengasihi suamiku… DIA ingin meleburkan dosa-dosa suamiku sebelum memasuki Bulan yang penuh rahmat ini…. DIA ingin memberikan istirahat yang lebih pada suamiku…. Maka dimunculkanlah bintik-bintik kecil, yang berisi air… Yang membuatnya memanggil saya untuk meyakinkan dirinya apakah benar bintik-bintik itu adalah cacar air. Setelah saya perhatikan, dan karena dulu pernah terkena, saya mengangguk. Ya dia terkena cacar. Dokter yang kami kunjungi (lagi) malam itu semakin meyakinkan bahwa suami saya benar-benar terkena cacar. Surat keterangan sakit yang diberikan malam sebelumnya diedit, dari tiga hari menjadi 7 hari. Sebetulnya, dengan surat keterangan bahwa suami terkena cacar saja, perusahaan bukan hanya mengizinkan, tapi mengharuskan karyawannya untuk tidak bekerja. Mungkin karena cacar ini jenis penyakit menular ya..

Lihatlah betapa pengasihnya Allah…

Dia berikan suamiku istirahat yang lebih… Karena saya memang melihat kelelahan yang sangat pada dirinya. Bukan hanya fisik tapi juga pikiran.

Dia berikan kesempatan bagi saya dan suami untuk merasakan puasa hari pertama. Bahkan tak cukup hanya hari pertama, tetapi delapan hari pertama. Saya juga tentunya akan izin kepada pengurus TPA yang lain untuk tidak berbuka di masjid dulu. Tak mungkin saya membiarkan suami yang sedang sakit berbuka puasa di rumah sendirian.

Beginilah cara Allah mengasihi kami

Subhanallah walhamdulillah…..

Meskipun untuk itu suami saya harus merasakan gatal di tubuhnya karena cacar itu..

Tapi Alhamdulillah… dia bisa bersabar….





Simpan Saja Asap Itu Untukmu

25 08 2008

Hidup ini memberikan begitu banyak pilihan….

Termasuk diantaranya pilihan untuk merokok… atau tidak…

Berani memilih tentunya berani pula menanggung semua resiko yang ditimbulkan olehnya.

Menurut saya, seseorang bisa dikatakan bertanggung jawab ketika mampu menanggung semua resikonya sendiri tanpa memiliki keinginan untuk membagi resiko tersebut kepada orang lain.

Saya tak ingin membahas tentang resikonya disini. Sudah banyak artikel yang mengupasnya dengan sangat jelas. Beberapa diantaranya disini http://rokok.komunikasi.org atau disini http://organisasi.org

Saya bisa memahami, orang yang merokok itu bukan karena tidak tahu akibatnya tetapi karena sulit menghentikannya.

Baiklah…. Saya paham..

Tapi saya tidak bisa paham jika ada orang dewasa (bisa membaca) yang mengepulkan asap rokoknya dengan bebasnya di hadapan orang lain, terlebih di hadapan anak kecil.

Dan lebih tidak paham lagi jika orang yang merokok itu marah, ketika orang yang berada di dekatnya mengingatkannya bahwa asapnya sangat mengganggu. Merasa bahwa itu adalah hak mereka. Tapi mereka lupa bahwa kita juga berhak untuk mendapatkan udara yang segar.

Dan parahnya… kejadian itu terjadi di praktik dokter, yang notabene merupakan tempat berobat bagi orang-orang yang sakit. Setiap membawa diri sendiri atau anak-anak periksa ke dokter, selalu saja menemukan orang merokok dengan cueknya. Menebar asap dengan bebasnya. Padahal di sekitarnya ada papan bertuliskan ”DILARANG MEROKOK”.

Masya Allah. Sudah jatuh tertimpa tangga. Berangkat ke dokter dalam keadaan sakit untuk berikhtiar mencari penyembuhan, malah mendapat asap rokok yang jelas-jelas merupakan sumber penyakit.

Berlebihan kah jika saya mengatakan orang itu telah berbuat dzalim?

Pernah suami saya mengingatkan seseorang yang merokok di sebelah kami (saya, suami, dan Luqman yang saat itu berusia 1 tahun), ketika menunggu antrian di praktik dokter spesialis anak. Orang tersebut naik pitam, malah menantang suami yang sebenarnya sudah menegur dengan sangat halus. ”Jadi Bapak mau apa?”, katanya waktu itu.

Akhirnya suami mencoba berempati, secara dulu dia juga merupakan perokok berat.

”Yah sabar saja Mi…. Memang, rasa keakuan itu terusik kalo kita sedang merokok ditegur.”

Apakah asap rokok itu tidak cukup hanya merusak organ-organ tubuh tapi juga mengeraskan hati?

Ini mungkin hanya oknum tertentu… Saya percaya tidak semua perokok seperti itu.

Apakah anda perokok?

Tak apa, itu sebuah pilihan… Tapi tolonglah…. jangan buang asapnya sembarangan.

(Ah.. akhirnya ganjalan hati ini tertuang juga dalam tulisan.. sudah lama sekali memendamnya)

Pertanyaan: Kenapa fotonya si Fayyadh yang dipajang bukan gambar rokok?

Jawab: Hehe…. Itu foto waktu lagi ngantri di praktik dokter.. Dari pada sakit hati melihat orang yang merokok dengan cueknya, lebih baik mengambil gambarnya Fayyadh





Karnaval yang Membuat Dada Sesak

19 08 2008

Dahulu, ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar, hal yang paling menarik dari sebuah perayaan Kemerdekaan RI adalah menyaksikan duta-duta daerah seluruh Indonesia yang dikirim untuk mengibarkan Bendera di Istana Negara. Selain itu adalah menonton pawai pembangunan yang selalu melintas di depan rumah saya. Rumah saya tak jauh dari jalan raya. Jadi, jika orang-orang yang tinggal agak jauh harus datang berbondong-bondong dengan membawa bekal seadanya, maka saya dan saudara cukup menanti di pintu rumah. Rasanya bahagia sekali melihat iring-iringan kendaraan yang dihias sedemikian rupa serta menyaksikan orang-orang yang duduk di atas kendaraan itu melambaikan tangannya. Saya juga pernah menjadi salah satu peserta pawai itu. Waktu itu saya masih SD. Duduk di salah satu mobil yang penuh hiasan jagungnya dengan berpakaian adat Madura. Baju kebaya merah menyala, peniti emas (palsu) gepeng seperti koin, tapi ukurannya lebih lebar, memakai pengghel (gelang kaki yang besar). Waktu itu saya bangga sekali memakai baju itu. Indonesia memang kaya sekali dengan budaya yang beraneka ragam. Apalagi jika yang pawai adalah anak-anak TK – SD, duh… lucu sekali.

Itu dulu…..

Tapi, apa yang saya saksikan kemarin siang, membuat sesak di dada.

Secara tak sengaja saya melintas di starting point penyelenggaraan karnaval Agustusan di Kecamatan Gunung Sari. Pintu masuk BTN tempat tinggal kami selalu dipergunakan sebagai starting point . Tahun lalu saya mengajak Luqman melihat-lihat sambil memperkenalkan pakaian adat Indonesia yang banyak dipakai oleh para peserta.

Betapa terkejutnya saya ketika melihat sekumpulan ABG yang berpenampilan seronok.

[Bayangkan sendiri]…. Sekitar enam orang ABG, berjalan berlenggok menuju tempat berkumpul peserta dengan memakai stocking hitam, celana/ rok sangat pendek, atasan yang sangat ketat dengan warna yang mencolok, rambut diikat tinggi, memakai sepatu boot warna hitam setinggi lutut, kaca mata hitam yang hampir menutupi pipinya.

Saya ternganga melihatnya, sambil mengingat-ingat… wilayah mana dari Indonesia yang mempunyai pakaian adat seperti itu? Sumatera? Jawa? Kalimantan? Nusa Tenggara? Maluku? Irian? Rasanya tak ada yang seperti itu. Lalu, mereka berpenampilan seperti itu maksudnya mewakili golongan apa? Beginikah remaja-remaja yang kita harapkan akan memimpin Indonesia 10 tahun ke depan?

Melihat mereka saya teringat salah seorang penyanyi yang pernah saya lihat penampilannya di harian langganan saya, Mulan Jameela. Aha… rupanya Mulan itu yang menjadi inspirasi mereka. Bedanya, Mulan berlenggak lenggok di panggung dengan bayaran tinggi, mereka berlenggak-lenggok di jalan kampung. Semakin orang-orang kampung menyoraki mereka, semakin melenggoklah mereka.

Duh, dada ini terasa sesak….

Kalau Pak Sawali mengupas tentang apa yang tersisa dari pesta karnavalnya, saya melihat bahwa karnaval ini bisa menjadi cerminan kondisi masyarakat yang ada.

Kemarin tidak membawa kamera, jadi tak sempat difoto. Cukup dibayangkan saja ya bagaimana kondisinya.





SEJUTA MERAH PUTIH UNTUK INDONESIAKU

17 08 2008

Menyambut Hari Kemerdekaan Ri yang ke 63, Bidang Kewanitaan PKS seluruh Indonesia mengadakan aksi “SEJUTA MERAH PUTIH UNTUK INDONESIAKU”. Dalam aksi ini kader wanita dan simpatisan membagikan bendera merah putih di jalan-jalan yang paling banyak dilalui pengendara motor.
Tidak ingin ketinggalan, Kewanitaan DPC PKS Gunung Sari Lombok Barat NTB juga turut serta dalam aksi ini. Tentu saja aksinya dilakukan di wilayah Gunung Sari saja.

Pukul 14.00 para kader sudah berkumpul di rumah ibu Istining untuk memasang bendera pada pipet dan memberi tulisan.
Pukul 16.15, setelah shalat Ashar, bergerak ke titik yang akan dituju.
Ketika sampai di tempat aksi, orang-orang yang berada di sekitar situ langsung meminta bendera yang kami bawa.
Alhamdulillah… Karena mereka semangat, maka kami pun tambah bersemangat.
Mulai dari pengendara motor, mobil, taxi, cidomo (dokar), truk, sampai pejalan kaki berminat dengan bendera yang kami bagi.
Bukan hanya warga asli Indonesia saja yang meminta bendera, aja juga warga asing yang kebetulan melintas juga meminta bendera dan memasangnya di motor yang sedang dikendarainya.

Ah, senang sekali.
Pada saat yang bersamaan anak-anak TK dan SD sedang melakukan aksi karnaval, kami semakin terhibur melihat anak-anak yang lewat dengan berbagai macam pakaian adat.

Harapan kami, bukan hanya sejuta bendera yang mampu kami sumbangkan pada rakyat Indonesia, tapi juga sejuta cinta, sejuta asa dan sejuta solusi bagi sejuta permasalahan yang dihadapi. Semoga….

Ke Kalimantan membeli papan
Jangan lupa membeli kain
Sampai jumpa tahun depan
Tunggu aksi kami yang lain

MERDEKA!!!!





Ketika Abi Kehabisan Cerita

8 08 2008

Anak anda senang mendengarkan dongeng?

Anak kami senang sekali.

Sedang bermain apapun, ketika mendengar kami bercerita dengan saudaranya yang lain, permainan itu akan ditinggalkan untuk kemudian bergabung bersama kami.

Dalam hal bercerita ini si Abi jagonya.

Meskipun dadakan, bisa saja dia mengarang cerita.

Namun itu tidak terjadi tadi malam.

Mungkin karena kelelahan, bakat berceritanya tidak bisa berkembang dengan maksimal.

Tapi Luqman memaksa abi harus cerita, apalagi dia tahu dengan pasti bahwa kemarin saya dan abinya telah mengikuti workshop ”Teknik Bercerita” bersama Kak Bimo.

Dia terus merengek minta diceritakan. Maka bendera putih dari si abi pun berkibar.

Dan mengalirlah sebuah cerita..

”Di sebuah desa pantai…. Hiduplah seekor ayam jago dengan tiga ekor anaknya.. Suatu malam sang ayah berbaring bersama ketiga anaknya di atas rerumputan. Berkatalah anak yang sulung: Ayah kenapa sih Allah menciptakan bintang yang banyak berkelipan di langit? Si ayah terdiam sebentar dan berkata: untuk memberi petunjuk kepada nelayan arah mata angin. Anak yang sulung mengangguk2 dan akhirnya tertidur………….”

Hening….. abi pura-pura tidur…. (berharap Luqman tidak protes)

Luqman: Abi….. lanjutin ceritanya…..

Abi gelagapan, dan melanjutkan ceritanya

”Anak yg kedua bertanya tentang bulan. Jawab ayahnya untuk perhitungan kalender. Kemudian anak kedua juga tertidur.”

Hening lagi…. abi tertidur lagi… (tetap berharap Luqman ikut tertidur)

Luqman: Abi…. kok tidur juga…

Dan cerita dilanjutkan kembali

”Anak yang bungsu, yg agak bawel bertanya tentang matahari. Jawab ayahnya untuk penerangan di siang hari…..

Belum selesai bercerita, Luqman menyela,

Luqman: Ah… pasti habis ini Abi tidur lagi…

Mendengar itu Abinya melanjutkan ceritanya

”Si bungsu tidak mau tidur. Ia minta dinyanyikan. Si ayah yang mulai mengantuk menyanyikan lagu Matahari Terbenam (abi bernyanyi hingga selesai, melirik Luqman, belum tidur), Ambilkan Bulan (bernyanyi lagi, Luqman belum tertidur juga), Nina Bobo (bernyanyi dengan suara melemah, tapi Luqman belum mau tidur juga), dan terakhir Go to Sleep (suaranya semakin melemah). Dan akhirnya si anak dan ayahnya tertidur…”

Zzzzzzzzz abinya tertidur….

Luqman: Ah…. Abi…. kok tidur……

Abinya terkejut…

Cerita harus dilanjutkan. Maka abi berpikir keras…

”Sang ayah ini diamanahi penduduk desa itu sebagai petugas yang membangunkan warga ketika fajar. Namun pagi itu seluruh warga kesiangan, karena si ayam bangun telat dan tidak ada yang berkokok. Kenapa ayahnya bangun telat?, karena dipaksa bercerita oleh anaknya. Seluruh warga jadi susah. Kalau gitu kita tidur sekarang ya nak…”

Luqman tidak berkomentar lagi…

Abinya menganggap diamnya dia berarti setuju.

Setelah itu hening……

Saya tahu abinya pasti sudah bermimpi, Luqman? Entahlah…..





Those who are so Brilliant

7 08 2008

Dapat dari Aya….

Seperti juga Aya, saya tidak tahu pasti apa arti tag ini.

Tapi jika harus menominasi 7 blog yang lain, maka saya akan pilih blog-blog yang menurut saya brillian, diantaranya:

  1. Kang Achoey (Sang motivator… bahasanya selalu santun, khas anak muda yang hanif)
  2. Donny Reza (Baca tulisannya… tak mau berhenti. Anak muda yang cerdas…)
  3. Fakhrurozy (Bahasanya tingkat tinggi… Mengunjungi sitenya selalu menjadi teraphy hati)
  4. Galih (Blognya simpel tapi cerdas)
  5. Ventin (Saya suka liputannya tentang Mesir…. dan makanan :) )
  6. NH18 (Siapa yang tak kenal? Trainer yang kreatif sangat)
  7. Menik, (Blognya asyik…. Ibu-ibu yang asyik…)
  8. Aduhhhhhh sebenernya masih banyak lagi… tapi dijatahin cuman 7.

Peraturannya adalah:

  1. Put the logo on your blog.
  2. Add a link to the person who awarded you.
  3. Nominate at least 7 other blogs
  4. Add links to those blogs on yours.
  5. Leave a message for your nominees on their blogs




Masa Kecil Dulu dan Kini

24 07 2008

Sebagai guru dan pengelola sempoa ASMA di lingkungan tempat tinggal saya, seringkali menemui kesulitan dalam mencocokkan jadwal sempoa calon siswa. Ahad les renang, Senin les tari, Selasa les matematika, setiap siang les pelajaran di sekolah, Rabu les piano, jum’at drum, Kamis dan Sabtu les bahasa inggris (yang terbanyak). Saya sampai geleng-geleng kepala melihat kesibukan anak-anak yang melebihi kesibukan orangtuanya. Saya sungguh tidak berani mengomentari masalah les yang bermacam-macam ini. Tentunya orang tua mempunyai alasan sendiri dalam hal itu.

Kalau boleh bertanya, kapan mereka main? Saya bukanlah seorang psikolog atau ahli dalam pendidikan anak, tapi dari pelatihan-pelatihan yang saya ikuti, saya dapati bahwa bermain itu merupakan hal yang sangat berarti bagi perkembangan anak. Namun sekali lagi, saya tidak ingin berkomentar banyak. Setiap orang tua mempunyai prinsip yang berbeda dalam mendidik anak-anaknya.

Saya hanya teringat masa kecil, bisa bebasnya bermain kapan saja mau.

Mandi di laut dengan teman-teman dan saudara (yang letaknya di belakang rumah), main di bawah kolong rumah tetangga (rumah di Balikpapan, yang dekat pantai memang dibangun tinggi supaya air tidak masuk saat di laut sedang pasang), main asinan (menggambar petak-petak di lantai kemudian kita melompat ke kotak-kotak tersebut), lompat karet (he….. saya dulu termasuk jagonya secara punya kaki panjang), main bekel, kasti, gobak sodor (asinan naga), kelereng, ular tangga, monopoli, sekolah-sekolahan, jual-jualan, yang lainnya lupa, tapi pastinya lebih banyak lagi. Kalau saya sedang ingin main sendiri, maka saya akan masuk ke dalam kamar, mainan boneka kertas yang pakaiannya bisa dibongkar pasang. Ah, sungguh menyenangkan…

Kemudian saya bawa kembali pikiran saya ke zaman sekarang. Permainan yang paling digemari anak-anak saat ini adalah PS, main kartu (apa sih namanya, ah, saya lupa), dan sebagian lagi menonton tv. Anak-anak di rumah sengaja tidak dibelikan PS, karena belum melihat urgensinya. Tidak tahu lah nanti.

Sebenarnya kasihan juga melihat anak-anak saya sendiri. Untuk bermain harus saya batasi waktunya. Mereka saya beri waktu bermain sore hari setelah pulang dari TPA. Anggapan saya, di sekolah Luqman punya waktu cukup untuk bermain, karena Alhamdulillah di SDIT belajarnya tidak membuat anak stress. Sekolahnya bernuansa alam. Di rumah juga cukup waktu bermainnya dengan Syamil, adiknya. Itu anggapan saya. Untuk mengganti PS, saya jadwalkan dia main game di computer. Untuk mengembangkan imajinasinya saya jadwalkan dia menonton VCD anak-anak yang ’aman’. Dijadwalkan? Sebenarnya kasihan. Padahal waktu saya kecil waktu main tidak terbatas dan tidak terjadwan. Tapi, ya begitulah… saya memang melihat adanya perbedaan dulu dan kini, yang membuat saya tidak bisa membiarkan anak-anak bermain sebebas saya dulu bermain. Tak adil? Saya justru merasa tidak adil jika saya memperlakukan mereka sama seperti bagaimana dahulu saya diperlakukan. Saya bahagia dengan masa kecil, tapi tak berani menjamin bahwa buah hati saya akan mendapat kebahagiaan yang sama.

Hm…. Terkadang pusing sendiri memikirkan apa ya yang terbaik buat anak-anak….

Ah… kemana perginya asinan, lompat karet, main bekel, kasti, gobak sodor, kelereng, ular tangga, monopoli…

Sesungguhnya permainan-permainan lama itu banyak manfaatnya… Namun kini banyak ditinggalkan.





Dalam Sebuah Perjalanan

14 07 2008

Dalam sebuah perjalanan, kita seringkali menemukan hal-hal yang menarik, menyedihkan atau mencengangkan.

Perjalanan apapun itu. Perjalanan ke luar kota, ke luar negeri maupun perjalanan hidup secara keseluruhan.

Yang ingin saya share disini adalah perjalanan kampanye dalam mengusung calon gubernur baru bagi NTB. Calon itu adalah seorang Tuan Guru…

Tuan Guru bagi masyarakat NTB adalah sesosok figur yang dimuliakan, diagungkan.

Tapi isu yang senantiasa diumbar oleh lawan politiknya adalah ”Untuk apa Tuan Guru mencalonkan diri jadi gubernur? Sebaiknya mengurusi pengajian saja.”
Tuan Guru yang satu ini bukanlah seorang Tuan Guru yang hanya mampu mengurusi pengajian saja.

Namun dia adalah Tuan Guru yang cerdas, emosinya terjaga, akhlaqnya baik dan seorang yang visioner.

Banyak hal menarik yang kami temui selama kampanye mengusung pasangan BARU ini dari desa ke desa, dari kota ke kabupaten.

1. Uangnya Mana?

Begitu masuk ke perkampungan untuk sosialisasi TGB (Tuan Guru Bajang), kami langsung disodori pertanyaan, ”Uangnya mana?, kemarin si A kesini bagi uang, si B bagi mukenah, si C menjanjikan motor.” Masya Allah. Sebagian masyarakat kita ini sudah benar-benar sangat miskin dan kehilangan izzahnya. Mereka ingin kesenangan yang instant dan sekejap. Suara bisa dibeli dengan uang (yang kadang hanya bernilai 10.000,- rupiah). Perlu penjelasan panjang untuk menyadarkan mereka, bahwa Yang memberi UANG pasti KORUPSI bila menang. Ambil uangnya JANGAN pilih orangnya. Membagi uang ini cara yang sudah kuno sekali, sejak zaman saya masih pakai rok merah hati dulu. Rupanya mereka tidak punya TIM KREATIF yang mampu menciptakan cara berkampanye yang lebih baik dan bermoral. Ada yang membagi-bagikan mi instant dengan ditempeli stiker dengan pesan ’Yang makan mi ini haram kalau tidak mencoblos orangnya’… Hehe… bukankah ini sebuah penyesatan? Bukannya yang haram justru kalau mencoblos ya, karena sama saja dengan disuap.

2. No Goyang Dangdut

Begitu kesempatan kampanye secara terbuka dimulai, para pasangan berlomba-lomba mengumpulkan massa. Cara yang paling sering dipakai adalah dengan mendatangkan artis ibu kota, atau paling tidak menyediakan arena goyang dangdut lah. Hanya pasangan BARU yang tidak. Tapi Subhanallah, massa bisa terkumpul walau tanpa goyang dangdut, dengan jumlah yang sama bahkan lebih. Cukup dihibur (atau lebih tepatnya disemangati) dengan Nasyid perjuangan. Judul kampanye yang digunakan cukup ”Tabligh Akbar”, maka para jama’ah datang dengan niat yang tulus.

3. Ngeriiiiii

Ini adalah ungkapan yang keluar dari lisan salah seorang ibu ketika kami melakukan Voter Education di kampung-kampung. Tidak ada yang tidak kenal terhadap sosok TGB ini. ”Saya Bu, denger namanya saja sudah ngeri…” Hehe… mungkin maksudnya ’merinding’ ya. Tuan Guru Bajang memang figur yang kharismatik.

Semoga Beliau bisa memimpin dengan amanah dan istiqomah.

Hari ini KPUD akan tetapkan GUbernur-Wagub terpilih.

Hasil Rekapitulasi kota/ kabupaten se-NTB yang dihimpun Lombok Post, menunjukkan kemenangan bagi Pasangan BARU yang mencapai 38,84%.

[110.1] Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.

[110.2] Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong,

[110.3] maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat.





PILGUB NTB - Menghitung Hari…

24 06 2008

Here we go…
Dalam hitungan hari, pemilihan gubernur NTB akan digelar.
Ya, tanggal 7 Juli 2008 hanya tinggal 13 hari lagi.
Empat calon pasangan sudah ditetapkan.
Kampanye sudah dimulai tanggal 20 kemarin.
PKS bersama dengan PBB mengusung Tuan Guru Bajang KH. Zainul Majdi, MA (Tuan Guru = Ulama, Bajang = muda dalam bahasa Lombok) sebagai calon Gubernur dan Bapak Ir. H. Badrul Munir, MM sebagai wakilnya.
Mohon do’anya agar PILGUB ini bisa berjalan dengan lancar, aman dan jujur.
Mohon do’anya agar pasangan ini bisa memperoleh suara terbanyak.
Mohon do’anya jika benar terpilih agar bisa menjadi pemimpin yang amanah….

Figur pemimpin perubahan:
Pemimpin BARU (BAjang - badRUl) dengan no. urut 2

Tuan Guru Bajang KH. M. Zainul Majdi, MA
Lahir di Pancor Lombok Timur, 31 Mei 1972
Master dan kandidat doktor ilmu tafsir Al-Qur’an Universitas Al-Azhar Kairo Mesir
Ulama muda kharismatik yang dekat dengan masyarakat
Pemimpin Pengurus Besar Nahdhatul Wathan (PBNW) organisasi Islam terbesar di NTB yang didirikan Maulana Syaikh Zainuddin Abdul Madjid, Ulama kharismatik di NTB yang juga merupakan kakek beliau
Menantu dari KH.Abdurrasyid Abdullah Syafi’i Kiai kondang di Jakarta pimpinan Ponpes Asy-Syafi’iyah
Anggota DPR RI komisi X bid. Kesra
Memiliki jaringan tingkat nasional dan internasional
Berwawasan moderat, demokratis dan menghargai pluralitas masyarakat

Ir. H. Badrul Munir, MM
Lahir di Sumbawa, 11 Agustus 1954
Insinyur Sipil dan Master Manajemen Pembangunan
Birokrat dan teknokrat berpengalaman 30 tahun
Ahli perencanaan dan penganggaran pembangunan daerah
Birokrat dengan prestasi kinerja luar biasa th 2002
Memiliki jaringan kerja lintas departemen dan daerah
Penulis buku perencanaan pembangunan, efisiensi anggaran, perubahan atau statusquo dan pembangunan infrastruktur

Visi: Terwujudnya Masyarakat NTB yang BERSAING (Beriman dan Berdaya saing)