Kita mengenal Ramadhan sebagai Bulan Tarbiyah, Bulan Ibadah, Bulan Taubat, Bulan Dakwah dan beberapa sebutan lainnya untuk Bulan yang Mulia ini. Ramadhan kali ini, bagi saya merupakan bulan penuh ujian.
Di suatu pagi, tepat dua pekan setelah suami saya terjangkit cacar, ketika saya memeluk Syamil, si nomor dua, saya merasakan panas di beberapa bagian tubuhnya. Saya juga menemukan satu bintik kecil berisi air di wajahnya yang bundar. Syamil tertular cacar. Dokter sudah menginformasikan, kalau memang anak-anak tertular, dua pekan lagi baru terlihat. Dan benar saja, tepat dua pekan berikutnya Syamil tertular juga. Innalillah….
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun” (2:155-156)
“Sabar ya Mi…Abi yang menularkan, sekarang Abi tinggal Umi ngurusin Abang sendirian” Kalimat itu keluar dengan sangat berat dari lisan si abi, karena siangnya dia memang harus berangkat kembali ke Sumbawa.
“It’s ok. Bi…” Saya menjawabnya sambil membayangkan hari-hari ke depan harus rajin melap tubuh Syamil, melumurinya dengan bedak dan menempelkan salep. Terbayang pula rengekan Syamil menahan rasa sakit…. Namun segera saya tata hati… Ini hanyalah sebuah ujian kecil….. kecil… bahkan sangatlah kecil…..
Sorenya saya ajak dia ke dokter dan apotek. Seperti abinya, dia harus mengkonsumsi obat selama 7 hari, setiap hari 5 kali. Bukan masalah besar… Saya bersyukur sang kakak dan adik tidak tertular…. Dan ternyata Syamil sangat sabar menghadapi sakit cacar ini.
”Mi…. kaya’nya ade’ panas ini…” Begitu kata bibi esok pagi harinya.
Saya teliti wajah Fayyadh… Ada tiga titik benjolan yang sangat kecil. Cacar kah? Sepertinya bukan.
Ketika saya buka bajunya, bermaksud memandikannya, saya temukan benjolan yang sedikit lebih besar…. dan berisi air….
Innalillah…. Fayyadh tertular juga. Saya tertawa…. lepas…. Bibi bingung….
”Kenapa Umi tertawa”
”Jadi harus bagaimana Bi?“
Tak ada sedikitpun sinyal dari otak saya yang memerintahkan saya untuk menangis atau bersedih.
Saya kemudian terdiam…..
Tampak sekali bagi saya Allah benar-benar memberikan ujian…. Allahu Akbar… Tak ada satupun yang mampu menghalangi kehendak-Nya….
Ketika abinya sedang terkena cacar, ada komentar dari teman-teman yang berbeda. Ada yang bilang, lebih baik anaknya ditularkan juga, terkena cacar saat masih balita lebih baik. Ada juga yang bilang anaknya dijauhkan dari abinya biar tidak tertular. Yang mana yang harus saya ikuti? Ah, saya lebih memilih menyerahkannya pada DIA yang memberikan penyakit. Jika kemudian Syamil dan Fayyadh tertular juga, maka itulah yang terbaik yang DIA berikan.
Lalu sore harinya saya kembali menemui dokter untuk minta resep obat bagi Fayyadh…
Obat dan dosisnya sama persis…. Diminum 5 kali sehari juga…
Sesampainya di rumah saya langsung membuat tabel minum obat Syamil dan Fayyadh agar tak terlupa…. Memory saya tak cukup kuat untuk merekam apakah mereka sudah mengkonsumsi obat atau belum…Setiap kali selesai meminumkan obat, saya akan menconteng harinya.
Alhamdulillah… masa-masa itu telah berlalu…. Dalam waktu tiga hari cacarnya sudah mengering, dan benar-benar kering setelah tujuh hari. Cacar yang keluar tidak terlalu banyak. Ketika saya bertanya pada dokter, jawabnya itu berarti kondisi tubuh mereka tidak terlalu buruk. Karena ada beberapa teman yang bilang, lebih baik jika cacar itu keluar semua. Tentunya saya lebih percaya apa yang dikatakan oleh dokter.
Kepada sahabat-sahabat tercinta… saya mohon dimaafkan, jarang berkunjung… hanya sesekali….
Ujian-ujian itu cukup menyita waktu..
Dan kini… Ramadhan sudah hampir berada di penghujungnya…
Semoga segala amal ibadah kita di bulan suci ini diterima oleh Allah…
Amin…..
Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu; dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu. (47:31)








Kata Para Penumpang