Sepeda Hias Luqman – Dari tahun ke tahun

31 05 2013

Jika pernah membaca postingan saya sebelumnya, akan ditemukan fakta bahwa Luqman, si sulung tak pernah mau ikut lomba apapun. Satu-satunya lomba yang mau diikutinya saat perayaan 17 Agustus di perumahan hanya lomba sepeda hias.  Sejatinya yang ikut lomba adalah sang penghias sepeda, abinya, tapi yang paling menikmati lombanya adalah Luqman. Dia terlihat bangga mengendarai sepeda yang telah dihias oleh abinya.

Waktu itu kami masih tinggal di Lombok. Si abi masih bekerja dengan jadwal kerja tambang. Lalu dihitungnya kalender, untuk menentukan kapan harus mulai menggarap sepeda, mengingat masanya di Lombok hanya 4 hari untuk selanjutnya kembali ke tambang.

Lomba pertama yang diikuti tahun 2003. Waktu itu Luqman usia 3 tahun. Ide yang hadir waktu itu membuatkan pesawat terbang. Hasilnya lumayan, sederhana  tapi berbeda dari peserta yang lainnya, yang hanya dihias kertas warna-warni.  Sepeda Luqman berbentuk sesuatu. Sayangnya di perjalanan pesawatnya ditabrak peserta lain. Rusaklah bagian belakangnya yang membuatnya sempat sedih, tapi hanya sesaat. Saat pengumuman Luqman tak menang. Dia tak peduli, karena dia sudah sangat senang bisa mengendarai pesawat sepanjang rute lomba :)

IMG_0624

Tahun berikutnya, Luqman ikut lomba sepeda lagi. Kali ini abinya lebih berpikir keras, bagaimana supaya hasilnya lebih bagus. Diputskanlah untuk membuat kapal. Bahan yang dipilih adalah kertas mengkilat dan kertas minyak. Kali ini hasilnya memang lebih bagus dan lebih rapi. Luqman dapat juara II. Lagi-lagi dia tidak peduli, dia tak mau maju ke panggung untuk mengambil hadiahnya.

IMG_0627

Tahun 2005, kembali ikut lomba. Tema yang dipilih si abi kali itu adalah mobil, mobil perang. Persiapannya lebih matang, hasilnya lebih bagus dan rapi. Luqman semakin senang, dia tetap tampil berbeda.

IM000397.JPG

IM000401.JPG

Untuk yang ketiga ini Luqman berhasil meraih juara pertama. Dia sudah bersedia naik ke panggung untuk mengambil hadiahnya.

IM000514.JPG

Tahun-tahun berikutnya Luqman sudah tak pernah ikut lomba lagi, sampai kami pindah ke Balikpapan. Semoga kelak ini menjadi bagian dari kenangan terindah yang pernah dimiliki Luqman.





Dia Ibuku, Cinta dan Kesabarannya Tak Pernah Mati

27 09 2010

Wanita itu duduk di sudut tempat tidurnya  sejak pulang dari mesjid pukul 05.15 hingga 08.05. Tak beranjak sedikitpun. Di tangannya yang sudah dipenuhi tanda-tanda penuaan tetap tergenggam erat Qur’an kecil yang lengkap dengan terjemahannya. Suatu hari dia berkata, “Be’eng le tammat Nin? engko’ cek abite, lo’ mat-tammat” (Kamu sudah khatam Nin? Saya lama betul nggak khatam-khatam). Ini Bahasa Madura, sahabat. “Soale engko’ ebeca bi’ artene” (soalnya saya dibaca dengan artinya). Ya, Ramadhan tahun ini dia memang ingin mengkhatamkan membaca qur’an beserta artinya. Sebagai informasi, dia tidak pernah belajar membaca dan menulis di sekolah resmi. Dia belajar sendiri. Tapi minat bacanya memang tinggi, walau kadang dia tak mampu mencerna secara sempurna apa yang dibacanya. Kata salah seorang kakak iparku, “Nyai itu kenapa masih kuat dan nggak pikun, karena rajin membaca, keinginan belajarnya tinggi, otaknya dipakai.” Aku setuju…

Siapakah dia yang oleh kakak iparku itu dipanggil “Nyai”? Dia ibuku, “Nyai” itu untuk memanggil nenek dalam bahasa Madura. Dahulu aku memanggilnya dengan sebutan yang lazim digunakan di Kota Balikpapan ini, “Mama’”, tapi setelah memiliki anak aku ikut pula memanggilnya “Nyai” untuk membiasakan anak-anak. Usianya sudah lebih dari dua kali usiaku, kira-kira 80 tahunan. Maklumlah, orang jaman dulu tak pernah ingat kapan tanggal lahirnya, jadi tidak tahu usia pastinya. Setelah melihatnya duduk dengan tekun sambil membaca Qur’an dan artinya itu, otakku langsung memerintahkan tangan untuk menulis, jangan ditunda lagi. Selama ini banyak sekali hal tentangnya yang ingin kutuangkan dalam tulisan, tapi selalu tertunda.

Ibuku adalah  perempuan yang kuat, secara lahir maupun bathin. Kisah hidupnya, lebih konflik dari pada kisah sinetron yang sepertinya sekarang ini sudah kehabisan ide cerita hingga selalu berputar-putar pada masalah yang sama.

Lahir dari sebuah keluarga petani sederhana di kampung kecil yang bernama kramat. Salah satu desa di kecamatan Bangkalan, kabupaten Bangkalan, Madura. Suatu hari ketika sedang berada di sawah bersama saudaranya, sebuah pesawat terbang melintas di atas mereka. Dia berkata, “Apa rasanya naik kapal terbang itu ya”. Saudaranya tertawa, “Apa Sah (Namanya Aisah), kamu itu macam-macam.” Saat itu dia benar-benar memimpikan bisa naik pesawat terbang walau dia menyadari bahwa itu tak mungkin. Bagaimana bisa anak petani yang tak memiki banyak harta bisa naik pesawat terbang?

Nyatanya, hal yang tak mungkin terjadi dalam pandangan manusia mudah saja diwujudkan oleh Sang Maha Kuasa. Kehidupannya setelah menikah memiliki beribu kisah yang membuatnya harus berjuang demi mempertahankan hidup. Pernah di suatu masa dia mencari daun pisang, ikan, udang, Kupil (sejenis buah yang tubuh di tambak) dan lainnya untuk kemudian dijual di pasar yang ditempuhnya dengan berjalan kaki sejauh tak kurang dari 4 km setiap hari. Terkadang mengeruk kerang di tase’ (pantai) untuk dimakan bersama ibu dan anak-anaknya. Tentang suaminya, biarlah itu menjadi kisah yang disimpannya sendiri. Sebagaimana sebuah kehidupan perkawinan, ada suka pasti ada pula duka . Jika kemudian dia harus mengakhiri pernikahan dengan suaminya, itu adalah garis hidup yang telah Allah tetapkan untuknya. Allah telah menyiapkan skenario baru baginya, yang dengannya dia bisa merasakan apa yang dahulu ingin dirasakan. Mimpi sejak kecil,  Naik Pesawat Terbang. Ternyata, melalui lika-liku kehidupannya itulah impiannya bisa terwujud.

Singkat cerita, menikahlah dia dengan seorang pria Madura yang lahir dan besar di Balikpapan. Setelah menikah, suaminya mengajaknya turut serta ke Balikpapan. Itulah saat pertama kalinya dia naik pesawat terbang. Bisa membayangkan bagaimana perasaannya saat itu? Jika dahulu dia melihat pesawat terbang dari sebidang tanah yang digarap oleh orang tuanya, maka saat itu dia melihat sawah membentang dari atas pesawat terbang. Berangkatlah dia meninggalkan pulau dimana dia beserta kedua saudaranya dibesarkan, menyambut kehidupan baru yang telah menantinya.

Ya, kehidupan baru dengan konflik baru. Pernikahan ini adalah pernikahan kedua pula bagi suaminya. Dua orang manusia yang menikah dengan sama-sama membawa anak dari pernikahan terdahulu pastilah memiliki pernak pernik tersendiri. Ujian demi ujian datang menghampiri. Tapi, kalian akan menjumpai ibuku sebagai orang yang sabar. Paling sabar se-Indonesia. Semua ujian mampu dilewatinya, walau kadang dengan linangan air mata.

Aku lahir satu tahun setelah pernikahan mereka. Saat itu usia ibuku lebih dari 40 tahun. Karenanya tak sedikit teman-teman yang mengira dia adalah nenekku. Nenek yang setia menungguiku di sekolah sejak di taman kanak-kanak hingga Sekolah Dasar kelas dua. Cintanya teramat besar padaku. Baginya, mencintai itu adalah menuruti semua keinginanku. Walau orang di sekelilingnya sering mengatakan cintanya itu membuatku manja, ibuku tak perduli. Sungguh aku menemukannya sebagai orang yang sabar. Sungguh.

Kesabarannya semakin teruji seiring dengan pertumbuhanku. Aku adalah anak yang manja, mudah mengamuk, terutama ketika keinginanku tidak langsung dipenuhi. Aku bisa mengamuk di tengah malam, berguling dari dapur ke ruang tamu dengan mata terpejam, hanya karena minta satu botol vitamin C. Ibuku tak marah, diketuknya pintu kamar penjaga apotek depan rumah untuk menuruti keinginanku. Ketika tiba masaku bersekolah, ibuku semakin menampakkan kesabarannya. Ada saja alasanku untuk menangis setiap hari. Mulai dari kunciran rambut yang kurang kencang atau justru kekencangan, atau kunciran rambut yang tidak simetris, atau seragam yang tak pas. Ibuku? Dengan sabar menghadapiku hingga bayanganku sudah tak tampak lagi oleh mata indahnya.

Saat pulang sekolah telah menjadi kebiasaanku untuk meminta uang jajan. Tahu apa yang terjadi jika aku tak mendapatkannya? Aku akan mengamuk sepanjang hari. Oleh karena itu sebelum aku pulang ibuku akan menyiapkan uang itu, entah dari mana. Bapak adalah pemborong bangunan, yang kadang-kadang menganggur jika tak ada proyek. Kalau sudah begitu, maka uang di rumah akan sangat terbatas. Lantas bagaimana ibuku menyiapkan uang untukku? Karena tak ingin aku menangis saat pulang sekolah, ibuku akan berusaha mencari uang yang tercecer di rumah. Rumah kami berlantai papan dan berkolong. Ibuku akan masuk ke kolong rumah untuk mengumpulkan uang yang mungkin jatuh melalui celah-celah papan. Betapa zalimnya aku saat itu, dan sayangnya itu baru kusadari sekarang. Apakah kata maaf dan terima kasih sudah cukup untuk membayar semua itu?

Andai saja semua harta yang kumiliki saat ini kuserahkan padanya untuk membayar semua air matanya yang pernah tertumpah karenaku, itu tak akan mencukupi.

Aku semakin menyadari betapa berartinya dia bagiku ketika suatu hari takziah ke rumah seorang sahabat yang ibunya baru meninggal. Sahabat itu menangis, terkenang masa-masa indah dengan ibunya.  Aku jadi teringat ibuku sendiri di rumah. Di usianya yang sudah sangat tua sekarang ini dia memang agak sedikit “cerewet” dan mudah tersinggung, tapi itu tak menghapus kasih sayang yang telah diberikan selama ini. Kenangan indah itu pastilah ada. Aku teringat saat dia memijat lembut tanganku setiap akan tidur. Tak pernah ada kata lelah keluar dari lisannya.

Dia ibuku, yang tak pernah memarahiku dengan suara keras.

Dia ibuku, yang tak bisa tidur tenang jika aku sedang berada dalam masalah.

Dia ibuku, yang senang tatkala anak-anaknya menyantap makanan yang dimasaknya dengan lahap

Dia ibuku, yang cintanya tak pernah berakhir, bahkan hingga di usiaku yang sudah tak muda ini.

Dia ibuku, yang senantiasa menyembunyikan pakaian kotornya. Tak ingin aku mencucinya karena dilihatnya cucianku sudah banyak. Padahal itu sama sekali tak memberatkanku.

Mudah, mudah sekali jika ingin membahagiakannya. Dia akan bahagia ketika bisa membagi cucu-cucunya uang, walaupun uang itu diperoleh dari anak-anaknya juga. Dia juga akan sangat bahagia ketika aku pulang dari suatu tempat dan membawa sesuatu untuknya. Mungkin dia teringat, dahulu dialah yang melakukannya untukku. Dahulu dia sering membelikan wafer kesukaanku, kini dia pun senang ketika aku membelikan cemilan berupa wafer ini. Dengan jumlah gigi yang sudah sangat minim, tentunya makanan yang bisa dimakan sangatlah terbatas. Tapi dia akan menghabiskan perlahan-lahan cemilan ini. Gery Chocolatos sering menjadi pilihan untuk dijadikan oleh-oleh untuknya. ;)

“Lomba Blog 1000 Kisah Tentang Ibu Presembahan Ungu & Chocolatos”

http://unguband.com/1000kisahtentangibu.html





[Sharing] Membiasakan Anak Puasa, Antara Kasihan dan Kasih Sayang

11 08 2010

Ini sesungguhnya cerita tentang Syamil, anak kedua kami yang saat ini berusia 5,5 tahun. Saya menuliskannya untuk berbagi cerita kepada orangtua yang bermaksud membiasakan ibadah puasa pada anaknya yang masih kecil.

Ramadhan tahun lalu rencananya ingin melatih Syamil puasa dengan menawarkan padanya puasa setengah hari (berbuka pukul 12.00) sebagaimana yang dia lakukan tahun sebelumnya. Rencana itu berubah ketika mendengar cerita Kepala Sekolah TKIT tempat Syamil bersekolah, tentang salah seorang anak didiknya yang berpuasa penuh satu bulan. Ah, masa sih bisa?  Berundinglah kemudian saya dan suami, dengan satu keputusan: Ya, mari kita coba.

Sehari menjelang puasa Ramadhan, diadakan diskusi kecil-kecilan dengan Syamil. Berbeda dengan saat sang kakak yang memulai puasa ketika usia 6 tahun, terselip rasa penasaran di hati kami. Mampukah Syamil yang saat itu masih berusia 4,5 th berpuasa penuh? Luqman, sang kakak tak begitu mengalami kesulitan karena dia adalah anak yang agak sulit makan. Puasa menyenangkan baginya kecuali harus menahan rasa haus. Tapi Syamil? Bangun tidur minta makan, siang sedikit minta makan, berturut-turut tiap tiga jam berikutnya dia akan berteriak: “Mi….. Abang mau makan..” Ketika dia bilang akan puasa sampai maghrib, sesungguhnya saya dan suami tidak terlalu yakin dia mampu melakukannya.

Saat sahur pertama di Bulan Ramadhan, untuk membangunkannya perlu diputarkan film di komputer. Sahur sambil menonton. Break sebentar untuk shalat shubuh, setelah itu menonton lagi hingga pagi. Ketika jarum jam mendekati pukul 10.00 mulai ada rengekan pertama. “Mi, abang mau makan.” “Sabar ya bang, tunggu sampai azan maghrib ya.””Abang mau makan sekarang.” “Sebentar lagi Nak ya.” “Haaaaaa” dan Syamil mulai menangis. Lalu mengalirlah cerita tentang Ar Royyan yang didengarkannya penuh konsentrasi. “Abang mau kan dapat kunci Ar Royyan?” “Mau, tapi abang sekarang mau makan.” Tak tahu lagi harus berkata apa, kecuali memeluknya yang sedang berbaring di tempat tidur. Setelah dipijat beberapa lama, Syamil yang memang belum tidur sejak sahur akhirnya tertidur. Kasihan…Tidurnya menjadi penawar rasa laparnya.

Rengekan tak berhenti sampai disitu. Terbangun pukul 12.00 dia kembali meminta makan setelah shalat dzuhur. Saya hanya bisa mengingatkan kembali tentang Ar Royyan sambil memeluknya sampai akhirnya dia tertidur lagi dan terjaga saat pukul 15.00. Rengekannya semakin kencang, bahkan sudah berganti dengan tangisan. Saya coba membujuknya dengan menawarkannya bermain komputer. Dia mau, tapi tak lama dan kembali merengek hingga abinya pulang kerja. Alhamdulillah, mendapat bantuan. Dengan telaten sang abi membujuknya untuk mandi supaya tidak lemes lagi. Setelahnya, dia diajak berkeliling sambil mencari menu berbuka yang sesuai dengan seleranya, hingga waktu berbuka hampir tiba. Sukses di hari pertama. Bahagia sekali melihat dia bisa melewati hari pertama. Hari yang berat bagi Syamil, dan kami tentunya. Dan ini berlangsung hingga tiga hari. Berbagai upaya dilakukan untuk mengalihkan keinginan makannya.

Ketika tiba saatnya harus masuk sekolah, timbul kekhawatiran bahwa dia akan makan di sekolah. Tapi kekhawatiran itu sirna, melihat betapa sekolah sangat bekerja sama untuk melatih anak didiknya berpuasa (sungguh bersyukur bisa menempatkan Syamil di lingkungan sekolah seperti ini). Jika ada anak yang ingin minum, diarahkan untuk minum di luar, sehingga tidak menggoda anak lain yang berpuasa. Syamil kembali merengek ketika sampai di rumah. Tapi syukurnya rengekan itu berhenti pada hari ke tujuh. Ya, hari ke tujuh Syamil sudah berpuasa layaknya orang dewasa puasa. Subhanallah, ternyata butuh waktu sepekan untuk membiasakannya berpuasa. Tapi ternyata bisa..

Syukur kepada Allah tiada hentinya kami panjatkan di penghujung Ramadhan. Yang paling membahagiakan pada Ramadhan tahun lalu adalah bahwa Syamil bisa puasa penuh selama satu bulan. Hal yang tak pernah kami duga sebelumnya. Bagaimana mungkin anak yang gemar sekali makan bisa  berpuasa hingga sebulan penuh. Alhamdulillah segala kekhawatiran seperti jatuh sakit atau kekurangan gizi tidak terbukti. Syamil tampak sehat-sehat saja. Jadi teringat kata-kata seorang ustadz, “Mengapa kita takut anak kita kurang gizi, mengapa kita tak takut anak kita kurang akhlaknya?”. Setuju sekali dengan kata-kata ustadz tersebut. Allah tak mungkin mencelakakan hamba-Nya melalui syariat-Nya.

Pastilah sebagai orang tua, kami kasihan melihatnya merengek karena lapar, tapi kami akan lebih kasihan jika hingga dewasa dia tak bisa menjalankan kewajiban puasa ini. Melihat nafsu makannya yang tinggi, ada kekhawatiran dia akan sulit mengendalikannya hingga dewasa. Puasa menjadi sarananya untuk berlatih.

———————–

Banyak pertanyaan dan pertanyaan yang terlontar (tersurat maupun tersirat) dari beberapa orang terkait dengan puasa bagi anak kecil.

“Umur berapa sih harusnya anak diajarkan puasa?”

“Ah, masih terlalu kecil, gak usah disuruh puasa lah, apalagi sampai maghrib.”

“Orangtuanya terlalu memaksakan kehendak.”

Setiap orang tua boleh memiliki prinsip yang berbeda dengan orangtua lain. Kami memilih untuk mengajarkan ibadah sedini mungkin, agar ketika ibadah itu menjadi wajib, mereka tak perlu bersusah payah lagi melatih diri

Wallahu a’alam bi shawab. Semoga Allah melindungi kita dari segala hal yang buruk.





WordPress I am Coming Back

5 03 2010

Kerinduan itu akhirnya datang jua…

Hampir satu tahun berlalu.

Pasti banyak alasan yang bisa dicari.

Awal penyebabnya adalah persiapan pindah ke Balikpapan.

Banyak sekali yang harus diurus..

Sekolah anak-anak, jual rumah dan barang, selesaikan hutang piutang, turn over semua amanah yang ada, dan yang paling menghebohkan adalah perpisahan disana sini. Lelah tapi menyenangkan.

Sampai di Balikpapan, tidak juga memulai blogging, masih menyesuaikan hati dan ritme kota Balikpapan.

Tetap Online tapi lebih banyak stand by di FB. Sesungguhnya keinginan untuk menuangkan segala rasa sudah semakin menggebu, namun apa daya waktu tak cukup bersahabat.

Kalau akhirnya bisa posting lagi saat ini, betul-betul terpanggil kembali setelah membaca artikel di Harian Tribun tentang Blogging.

So Here I come….

Kadang memang harus memaksakan diri melakukan hal yang baik ya…

Apa kabar ya teman-teman blogger yang masih setia blogging..





Virus Singapur

23 03 2009

ade

Dua bulan setelah diopname karena Demam Berdarah, Fayyadh demam lagi, sempat khawatir kalau DB lagi. Syukurnya di hari ketiga sudah turun dan nampaknya tidak mengarah ke DB. Seorang teman yang dokter juga mengatakan, insya Allah tidak akan terkena DB lagi dalam jarak waktu yang singkat.

Ketika kemudian satu pekan berikutnya demam lagi, khawatir lagi. Pengalaman tempo hari memang menyisakan sebuah trauma bagi kami. Demamnya tak turun dalam masa dua hari, rewel, tidak mau makan dan minum, bahkan mengkonsumsi ASI. Setelah saya periksa mulutnya tampaknya ada bintik-bintik merah. Kesimpulan saya sariawan. Tapi, di tangan dan kakinya ada bintik-bintik merah. Saya ingat seorang teman ada yang pernah cerita tentang penyakit mulut tangan dan kaki (panjang sekali namanya). Kalau melihat gejalanya mirip, tapi anak teman saya itu sampai bengkak-bengkak, sedangkan Fay tidak. Lalu apa?

Rencananya saya tidak akan membawanya ke dokter, mau dikasih obat alami saja, tapi melihat dia sulit makan, bahkan minum dan mimi’ ASI, saya dan suami membawanya ke dokter.

Begitu kami jelaskan kondisinya kemudian diperiksa, dokter langsung mengatakan bahwa Fay terjangkit virus Singapur. Hah? Virus apa pula ini?

“Apa ini yang disebut penyakit mulut tangan kaki Dok?”

“Betul”

“Anak temen saya kok sampe bengkak-bengkak”

“Kondisinya berbeda pada tiap orang, tergantung ketahanan tubuhnya”.

Oh I see….

Virus Singapur ini kata pak dokter sedang mewabah di Lombok.

Yang paling menyedihkan dari penyakit ini, Fay tidak mau menyusu lebih dari dua hari. Sebenarnya dia ingin, tapi baru menyentuh bibirnya langsung dilepas. Bisa terbayang bagaimana sakitnya.

Kasihan anak ketiga kami ini. Ketahanan tubuhnya memang relatif lebih rendah dibanding dua kakaknya.

Alhamdulillah sekarang dia sudah sehat kembali, dan yang terpenting sudah mau menyusu lagi.

Jadi teman-teman… mohon maaf jika lama tak berkunjung ya..

Ini info hasil browsing dari sini:

Coxsackie, Virus Penyerang Balita

Jangankan mengunyah makanan, untuk minum pun, mulut pedih sekali! Ya,itulah salah satu gejala penyakit mulut, kaki dan tangan (MKT). Repotnya, penyakit ini amat mudah menular.

Karena tak terlalu membahayakan, penyakit ini memang sering terlewatkan begitu saja. Apalagi, gejalanya juga tak terlalu istimewa. Dan, entah mengapa, jumlah penderita penyakit ini biasanya meningkat pada musim pancaroba.

Cirinya: bintil-bintil berair

Umumnya, anak yang kurang sehat akan rewel, mogok makan dan minum, serta tubuh
agak sumang (suhu tubuh agak naik). Namun, bila rewelnya berlanjut dengan bertambah sulitnya si kecil makan plus mulutnya sakit sampai keluar air liur (untuk
menelan air liur saja perih, apalagi minum), maka Anda perlu ekstra hati-hati.
Bisa jadi, si kecil bukan menderita sariawan biasa.

Menurut Prof. Dr. dr. Sri Rezeki Hadinegoro, Sp.A(K), staf pengajar dari Divisi
Infeksi dan Pediatri Tropik, Departemen Ilmu Kesehatan Anak, FKUI/RSUPN
Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Coba lihat, apakah ada bintil-bintil berisi air dalam mulut si kecil dan sebagian diantaranya mungkin sudah pecah. Kalau ada, ini adalah salah satu gejala dari penyakit MKT.

Memang, bintil-bintil berisi cairan merupakan salah satu gejala khas dari penyakit MKT atau hand, foot and mouth disease (HFMD) . Tapi jangan samakan ini dengan penyakit kuku dan mulut pada binatang ternak. Biar namanya mirip, tapi penyakit ini sama sekali berbeda dengan penyakit kuku dan mulut pada sapi misalnya!

Di Indonesia, kebanyakan virus penyebab penyakit MKT termasuk enterovirus yang dikenal sebagai virus coxsackie A16 atau enterovirus 71. Virus coxsackie adalah sejenis enterovirus yang hidup di usus halus. Karena penyakit ini disebabkan oleh virus, biasanya penyakit ini akan sembuh sendiri dalam waktu 7 hari, kata Prof. Sri.

Sekalipun begitu, ini bukan berarti Anda tak harus waspada. Sebab, bisa saja
virus yang menyebabkan penyakit ini berbeda serotipe. Menurut National Center of
Infectious Disease , Amerika Serikat, virus coxsackie yang masih sekeluarga
dengan virus polio ini sangat mudah bermutasi alias berubah bentuk jadi serotipe
yang berbeda.

Jangan sampai komplikasi

Sekalipun orang dewasa bisa juga tertular, penyakit MKT ini lebih sering tampak
pada anak-anak di bawah usia 10 tahun, termasuk pula bayi.

Masalahnya, jika bintil berair itu ada di mulut si kecil, bisa dibayangkan betapa perihnya mulut yang tampaknya seperti
sariawan itu. Untuk mengurangi rasa sakit tersebut, umumnya dokter memberi obat oles mulut, semacam obat untuk sariawan. Antibiotika tidak diperlukan, kecuali ada tambahan infeksi bakteri.

Juga, karena mulutnya perih, orang tua sangat khawatir karena anaknya tidak mau makan dan minum, jelas Prof. Sri Rezeki. Makanya, anak yang dirawat umumnya hanya diberi cairan infus sebagai pengganti makanan yang dibutuhkan tubuh. Uniknya, si kecil biasanya tidak kelihatan seperti anak sakit. Tak heran, kalau selama dalam perawatan, ia bisa mondar-mandir di kamar sambil membawa infus yang menempel di lengan.

Yang pasti, penyakit MKT ini jarang membahayakan penderitanya, kecuali kalau ada komplikasi. Walau begitu, kalau anak masih saja demam, mengantuk, lemas dan tidak bergairah, segeralah bawa ke dokter. Bisa jadi telah terjadi komplikasi. Kalau dibiarkan berlarut-larut, dikhawatirkan virus bisa sampai ke jaringan otak dan menyebabkan ensefalitis (radang jaringan otak).

Kalau ini yang terjadi, akibatnya bisa fatal. Inilah yang dialami oleh murid sekolah dasar di Malaysia tahun 1997. Dari ratusan murid sekolah yang harus dirawat di rumah sakit, 26 orang di antaranya meninggal. Waktu itu, sekolah sampai harus diliburkan selama seminggu. Jika penyebab penyakit MKT ringan, sekolah tak perlu diliburkan kok, lanjutnya.

Jaga kebersihan

Yang benar-benar perlu diwaspadai adalah, penyakit ini sangat mudah menular. Proses penularannya bisa dari cairan yang keluar dari bintil-bintil di mulut, kaki dan tangan, bisa juga dari kotoran (tinja) si kecil. Anak yang terkena MKT (dengan bintil-bintil di tangan yang baru pecah) memegang mainan, lalu mainan itu dipegang oleh temannya. Dari sini, jelaslah bahwa si teman anak sudah tertular, ujar Prof. Sri.

Juga, karena menahan rasa sakit di mulut, anak-anak yang masih kecil tak jarang meneteskan air liur. Nah, air liur itu bisa saja menetes pada bajunya. Jika baju yang basah itu kemudian dipegang oleh orang lain, ya ikut-ikutan tertular juga.

Bagaimana penularan via kotoran? Gampang juga. Dari kotoran yang menempel pada diaper yang tak langsung dibuang, atau tangan pengasuh yang kurang bersih dicuci setelah membersihkan kotoran bayi. Tangan yang sudah tertempel virus itu berpotensi menularkan penyakit pada orang lain. Apalagi, bila ia harus pula menyediakan makanan atau memegang makanan, ujarnya lagi. Apa jalan keluarnya?

Jika bayi Anda terkena MKT, sebaiknya diaper yang kotor terkena tinja langsung dibuang dan dimusnahkan. Apalagi, virus yang tersimpan dalam tinja bisa bertahan
lama. Juga, si pengasuh harus lebih memperhatikan kebersihan tangannya.

Lalu, jangan dikira jika si kecil yang sudah sembuh serta bintil berisi cairan di mulut dan tangan sudah hilang, tidak mungkin menularkan MKT lagi! Sekalipun sudah lewat 2 minggu, Anda harus tetap waspada. Tinja si kecil masih bisa menularkan virus itu.





Tidur Di Tangan Umi

16 02 2009

Waktu masih sama-sama bekerja di Kalimantan, saya masih mengandung Luqman, anak pertama. Saat suami sedang kerja shift malam, maka calon bayi Luqman lah yang menemani. Saya tak merasa sendiri. Saya sering mengajaknya bicara, tentang berbagai macam hal.

Ketika pindah ke Lombok, Luqman sudah lahir. Sudah berwujud. Keberadaannya semakin terasa, terutama saat suami sedang berada di pulau seberang. Luqman senang sekali tidur di lengan saya, saya pun sangat menikmatinya. Saat hendak berangkat kerja, suami terbiasa berpesan pada Luqman (walau saat itu dia belum bisa bicara) untuk menjaga saya, menggantikan dirinya. Kebiasaan itu terus terbawa sampai sekarang, hingga yang Luqman pahami adalah saat abinya sedang tidak di rumah, dialah yang harus menjaga saya. Ah, mujahid kecilku.

Saat Syamil lahir…. Dunia semakin terasa ramai…. Tak begitu terasa kesepian saat suami harus berangkat kerja. Ada dua lelaki kecil yang menemani. Syamil juga sangat menikmati tidur di lengan saya. Sejak dia lahir dua lengan saya terpakai untuk bantal mereka tidur. Kalau dulu, saat Luqman tidur saya bisa sambil memencet hp untuk saling sms dengan suami. Maka ketika ada Syamil agak sulit memegang hp karena di dua lengan ada dua kepala anak kecil yang sangat saya sayangi.

Ketika Fayyadh lahir… maka rasa sepi itu semakin menjauh…. Dan ternyata, Fayyadh ini juga senang tidur di lengan saya. Sementara lengan hanya dua. Harus ada yang mengalah, dan itu adalah Luqman.. Saya selalu bilang, sampai usia empat tahun dia puas tidur di tangan saya sendiri, sementara Syamil di usianya yang baru dua tahun setengah sudah harus berbagi dengan adiknya. Pada awalnya dia merasa berat untuk melepasnya, tapi akhirnya dia bersedia juga. Namun terkadang dia masih sering membujuk Syamil agar mau gantian.

Sekarang Syamil sudah empat tahun, dan ini disadari oleh Luqman. Hingga di suatu malam dia berkata, ”Mi, sekarang kan abang sudah empat tahun. Dulu kakak tidur di tangan umi sampai umur empat tahun, berarti sekarang abang tidur di tangan uminya sudah boleh gantian dengan kakak”.

What can I say?

Akhirnya…

Umi: ”Kak, sekarang kan sudah hampir 9 tahun. Seharusnya sudah pisah tidurnya dengan umi. Boleh tidur di tangan umi tapi sebentar”

Kakak: ”Ya kalo gitu, waktu murojaah aja ya tidur di tangan uminya. Ya bang ya…”

Abang: ”Gak mau, kan kakak sudah 9 tahun, harus pisah tidurnya”

Si kakak terpaksa tidur dalam keadaan kesal karena keinginannya tidak terpenuhi.

So, kenapa sampai usia mendekati 9 tahun Luqman masih tidur dengan saya (saat abinya tidak ada)? Masalah sesungguhnya ada pada saya. Agar tak merasa sendiri saat suami sedang bekerja, saya selalu tidur dengannya. Lebih merasa nyaman kalau dia berada dekat saya, dan itu terus berlanjut sampai sekarang. Sampai kapan? Insya Allah sekarang sedang mengusahakannya ;).





5 Hari di Rumah Sakit

6 02 2009

Masih tentang Rumah sakit.
Bagian-bagian yang sempat terekam dalam gambar.








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.